kasih ibu

Alkisah di suatu dusun dekat Teluk Bayur, hidup seorang ibu dengan anaknya yang bernama Malin Kundang……

Kita semua sudah tahu dengan dongeng Malin Kundang yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu, inti dari kisah ini adalah tentang anak yang durhaka pada ibunya hingga ibunya berdoa dan oleh Tuhan si Malin akhirnya dikutuk menjadi batu.

Sejujurnya saya sudah muak dengan kisah itu, memang kita wajib patuh dan hormat pada orang tua, saya yakin semua agama pun menyuruh demikian, tapi rasanya tidak perlu didramatisir dengan kisah-kisah yang hanya dibuat oleh moyang kita, pada kenyataannya kita pun sering juga menjumpai orang tua yang tidak berlaku adil atau tidak memenuhi hak-hak anaknya.

Beberapa hari yang lalu beredar video yang merekam tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu pada balita, memang tidak dapat dibuktikan apakah ibu yang ada dalam video itu merupakan ibu kandung dari bocah malang itu, namun kekerasan yang ada dalam video itu membuktikan bahwa orang dewasa yang seharusnya melindungi dan menyayangi anak kecil justru berlaku sebaliknya, mempertontonkan kekerasan, tanpa nurani menyiksa seorang anak kecil. Untung saya tidak menonton video tersebut ! Bagi saya segala bentuk kekerasan terhadap anak sangat menyakitkan untuk dilihat, terutama karena saya -entah mengapa- akan langsung membayangkan anak saya yang diperlakukan seperti itu !

Sedari kecil kita selalu diajarkan untuk tunduk patuh, senantiasa hormat kepada kedua orang tua terutama ibu, ibu digambarkan dalam agama sebagai sosok yang mulia, bahkan sang Nabi menyebutkan nama ibu sebanyak tiga kali dan baru ayah, sebagai sosok yang harus dihormati. Dan juga anjuran untuk tetap menghormati orang tua walau mereka berbeda agama dengan kita, hal ini menunjukkan apresiasi agama yang tinggi terhadap sosok ibu.

Namun bagaimana dengan sosok anak ? Hak seorang ibu yang demikian mulianya itu tidak serta-merta diperoleh tanpa tanggung jawab yang berat, sebagai contoh dalam rumah tangga seorang suami mendapatkan haknya dari istrinya karena dia melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya yaitu menafkahi, menghormati dan menyayangi istrinya, jika dalam kondisi tertentu dimana suami tidak melaksanakan kewajibannya itu, maka dengan demikian gugurlah kewajiban sang istri untuk memberikan hak-hak suaminya.

Saya rasa demikian pula dengan orang tua, walaupun kita tetap harus hormat pada orang tua yang “durhaka” pada anaknya, ada beberapa hak-hak orang tua yang gugur diakibatkan kesalahan yang dilakukan orang tua itu kepada anaknya.

Teman saya baru saja mengadopsi seorang balita, kondisi fisik balita itu cukup mengenaskan, untuk seusianya berat badannya sangat kurang, kemampuan motoriknya pasif, dan kemampuan komunikasinya terbatas, entah bagaimana hidup balita ini dulu dengan ibu kandungnya, namun saya merasakan balita ini memiliki trauma yang cukup mendalam. pada hari pertama balita itu langsung menempel pada teman saya, tidak mau dilepas atau pindah ke orang lain, memang sungguh melelahkan bagi teman saya, namun satu hal yang pasti, si balita itu dapat merasakan naluri teman saya yang tulus dan keibuan, walaupun teman saya ini belum pernah punya anak.

Melahirkan anak tidak serta merta membuat seorang wanita menjadi ibu

setelah saya melahirkan anak pertama, saya merasa aneh, mengapa saya tidak bisa merasakan suatu koneksi batin dengan anak saya sendiri ? Padahal saya sudah mengandungnya selama 9 bulan ! Namun setelah waktu berjalan, dengan bertahap saya membangun hubungan batin dengan anak saya, dan kami seperti sudah tidak terpisahkan lagi, tidak bisa saya membayangkan diri saya tanpa kehadirannya.

Dengan kerja keras tanpa pamrih, penuh kasih sayang yang tulus, adalah hal yang mengubah seorang wanita menjadi seorang Ibu.

Menjadi orang tua adalah suatu berkah, namun berkah itu datang dengan penuh cobaan, tidak begitu saja turun dari langit, tapi merupakan buah dari jerih payah yang memakan waktu cukup lama, bahkan mungkin di sepanjang hayat kita.

Saya bukan orang tua yang sempurna, saya pun banyak melakukan kesalahan pada anak-anak saya, saya berharap andai saja ada sekolah untuk menjadi ibu yang baik, maka semua masalah saya pasti akan lebih mudah dipecahkan, namun hidup yang mengajarkan kita untuk dapat menjadi orang tua yang baik, tentu dengan modal niat yang tulus dan kasih sayang pada anak-anak kita.

Dan saya membayangkan suatu saat nanti jika anak-anak saya sudah dewasa, saya harap saya cukup memiliki tabungan untuk di hari tua, dan saya meminta mereka untuk memasukkan saya ke “Retirement House” atau nama kerennya “Panti Jompo”, kenapa ? Lebih baik begitu, karena kehidupan saya dan anak saya sudah pasti berbeda, dan saya tidak melahirkan mereka untuk menompang hari tua saya, saya melahirkan mereka untuk menjadi orang yang dapat meraih impiannya sendiri, bukan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan apa yang saya mau.

Yah namanya aja juga impian ya, belum tentu bisa terwujud, karena banyak hal yang tidak terduga bisa terjadi dan mengubah impian ini, tapi tidak salah kan kalau sedari awal saya sudah merencanakan seperti ini 🙂

selamat hari ibu

kasih ibu sepanjang masa

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s