mei 1998

“Remember that there is only one important time and it is Now” – Leo Tolstoy

12 tahun yang lalu tepatnya hari ini, 21 mei 1998, presiden suharto lengser dari tahtanya, semua orang tercengang, Suharto ? turun ? bagi yang lahir pada masa 70’s dan 80’s pasti tidak pernah mengalami pergantian presiden sebelumnya.

Hari ini, ada berapa dari kita yang menyayangkan kejadian tersebut ? menyalahkan insiden pelengseran Suharto dan membayangkan andai saja Suharto tidak lengser mungkin hidup akan lebih baik ? atau bahkan ada yang sangat bersyukur seperti kisah menyentuh dan mengharukan yang saya baca dari sebuah blog ini .

Mei 1998 adalah sebuah kejadian yang tidak terduga, tidak ada yang bisa meramalkannya sebelumnya, bayangkan bagaimana mungkin dari sebuah insiden krisis kurs mata uang bisa mengakibatkan efek yang sedemikian besarnya ?

Saya pribadi menyayangkan sebagian yang masih berpendapat bahwa hidup lebih baik jika orang itu tidak turun, bukan masalah pada Suharto-nya , namun pada apakah kita bisa memprediksikan bahwa kehidupan bisa jauh lebih baik jika Suharto tidak lengser ?

Pada kenyataannya kita sebagai manusia pun merupakan mahluk yang acak dan tidak bisa ditebak….sebagai buktinya ; coba prediksikan bagaimana perasaan kita 5 menit berikutnya ? atau sejam lagi ? atau besok ? sayangnya kita tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi perasaan kita sendiri ! lalu bagaimana kita bisa mencari formula untuk memprediksi hal-hal diluar jangkauan kita ?

Manusia adalah mahluk yang bertindak berdasarkan apa yang sudah pernah dia alami sebelumnya, dengan adanya kejadian-kejadian yang tidak terduga ini justru membuat kita mempelajari hal-hal baru yang tidak terpikirkan sebelumnya, misalnya saja setelah krisis kita jauh lebih waspada dan ketat dalam pengeluaran keuangan, atau akibat dari lengsernya Suharto ini setidaknya kita masih bisa menikmati kebebasan berpendapat yang tidak bisa dimiliki oleh warga di negri tetangga.

Kejadian acak memberikan berbagai dampak bagi kehidupan, dan hidup tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Lalu apa semua kejadian acak memberikan dampak positif ? atau hanya memberikan dampak negatif saja ?

Internet dan Handphone pun juga merupakan salah satu dari kejadian acak, setidaknya dalam lima tahun belakangan ini banyak hal yang berubah akibat dua faktor tersebut, dan kita sungguh menikmati banyak manfaat dari ini, namun apakah selalu memberikan dampak positif bagi kita ?

Kenyataannya akibat dari derasnya arus informasi yang tidak terbatas – yang dijustru menyebabkan distorsi, dan membuyarkan konsentrasi kita terhadap segala hal, sudah terbukti bahwa makin banyak informasi yang diterima maka akan makin banyak hipotesis yang akan dihasilkan dan makin buruk hasil akhir yang diperoleh.

“Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking” – Albert Einstein 

Bahkan dalam pernikahan pun kita sebetulnya sedang mempertaruhkan masa depan kita dengan pasangan yang sudah dipilih – tanpa kita sadari, namun saat ada hal yang tidak terduga terjadi, apakah lantas kita menyalahkan diri kita bahwa kita telah salah memilih pasangan ? apakah pada saat sebelum menikah kita bisa memprediksikan bahwa kita akan happily-ever-after dengan pasangan ? pada kenyataannya toh kita sendiri juga akan berubah dengan seiringnya waktu berjalan, maka kehidupan sendiri pun memberikan banyak faktor-faktor yang tidak terduga, seperti halnya manusia itu sendiri, dan perasaan beserta hal-hal tidak logis lainnya adalah faktor terbesar yang paling tidak bisa diprediksi.

All and all, saya hanya bisa berharap kita tidak lagi menyalahkan waktu atau hal-hal yang telah terjadi, let bygones be bygones…..masa depan akan datang, sanggupkah kita bertindak seacak masa depan ?

 

“The most important person is always the person with whom you are……The most important pursuit is making that person, the one standing at you side, happy, for that alone is the pursuit of life

– Leo Tolstoy

Advertisements

Night Thoughts by Goethe

Stars, you are unfortunate, I pity you,
Beautiful as you are, shining in your glory,

Who guide seafaring men through stress and peril
And have no recompense from Gods or mortals,

Love you do not, nor do you know what love is.
Hours that are aeons urgently conducting
Your figures in a dance through the vast heaven,

What journey have you ended in this moment,
Since lingering in the arms of my beloved

I lost all memory of you and midnight

marley and me…just for dog lovers

Marley & Me: Life and Love with the World's Worst DogMarley & Me: Life and Love with the World’s Worst Dog by John Grogan

My rating: 4 of 5 stars

as a dog lover, undoubtedly i love this book, but this book has a one thing that made it different from others, it was written so naturally as if we could imagine that we’re living the same life of John Grogan. and Marley is no hero-dog that could safe a child from drowning in river or fetch newspaper, but he was a troublesome dog that always brought mischief in the Grogan family.

The turning point was during the last days of Marley, the Grogan realized that Marley was the center point of that family, and somehow because of that stupid-idiotic dog they had became closer as a happy family. and honestly, I cried everytime I read that part when marley passed away…..

This is one of the most touching-heartmelted-laughable non-fiction book, especially for those who love animals

View all my reviews

Congo – michael crichton

CongoCongo by Michael Crichton

My rating: 4 of 5 stars

this is the very first book of Michael Crichton that I read, now I know why his books were always best sellers, the intense and non-stop plots would never get me bored, it’s a kind of book that i can’t put down until i finish it ! Crichton is truly a genius, he wrote books with meticulous researches, and those technologies that mentions in this book…..OMG, they had digital camera in that dinosaur era ! talking about living in 70s ? and communicating with intranet ? wow, awesome !

what I like about the way Crichton applied those IT things in his book that it didn’t sound cheesy or awkward, even if I read in this era, unlike other science-fiction books, it was just right and normal. nothing more or less.

somehow I hope there’s a remake from the old movie, because the plot of this book is very interesting, and the “bad-ass” are not dinosaurs or aliens, but just ordinary monkeys who got trained to kill human. tee-hee :mrgreen:
View all my reviews

kasih ibu

Alkisah di suatu dusun dekat Teluk Bayur, hidup seorang ibu dengan anaknya yang bernama Malin Kundang……

Kita semua sudah tahu dengan dongeng Malin Kundang yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu, inti dari kisah ini adalah tentang anak yang durhaka pada ibunya hingga ibunya berdoa dan oleh Tuhan si Malin akhirnya dikutuk menjadi batu.

Sejujurnya saya sudah muak dengan kisah itu, memang kita wajib patuh dan hormat pada orang tua, saya yakin semua agama pun menyuruh demikian, tapi rasanya tidak perlu didramatisir dengan kisah-kisah yang hanya dibuat oleh moyang kita, pada kenyataannya kita pun sering juga menjumpai orang tua yang tidak berlaku adil atau tidak memenuhi hak-hak anaknya.

Beberapa hari yang lalu beredar video yang merekam tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu pada balita, memang tidak dapat dibuktikan apakah ibu yang ada dalam video itu merupakan ibu kandung dari bocah malang itu, namun kekerasan yang ada dalam video itu membuktikan bahwa orang dewasa yang seharusnya melindungi dan menyayangi anak kecil justru berlaku sebaliknya, mempertontonkan kekerasan, tanpa nurani menyiksa seorang anak kecil. Untung saya tidak menonton video tersebut ! Bagi saya segala bentuk kekerasan terhadap anak sangat menyakitkan untuk dilihat, terutama karena saya -entah mengapa- akan langsung membayangkan anak saya yang diperlakukan seperti itu !

Sedari kecil kita selalu diajarkan untuk tunduk patuh, senantiasa hormat kepada kedua orang tua terutama ibu, ibu digambarkan dalam agama sebagai sosok yang mulia, bahkan sang Nabi menyebutkan nama ibu sebanyak tiga kali dan baru ayah, sebagai sosok yang harus dihormati. Dan juga anjuran untuk tetap menghormati orang tua walau mereka berbeda agama dengan kita, hal ini menunjukkan apresiasi agama yang tinggi terhadap sosok ibu.

Namun bagaimana dengan sosok anak ? Hak seorang ibu yang demikian mulianya itu tidak serta-merta diperoleh tanpa tanggung jawab yang berat, sebagai contoh dalam rumah tangga seorang suami mendapatkan haknya dari istrinya karena dia melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya yaitu menafkahi, menghormati dan menyayangi istrinya, jika dalam kondisi tertentu dimana suami tidak melaksanakan kewajibannya itu, maka dengan demikian gugurlah kewajiban sang istri untuk memberikan hak-hak suaminya.

Saya rasa demikian pula dengan orang tua, walaupun kita tetap harus hormat pada orang tua yang “durhaka” pada anaknya, ada beberapa hak-hak orang tua yang gugur diakibatkan kesalahan yang dilakukan orang tua itu kepada anaknya.

Teman saya baru saja mengadopsi seorang balita, kondisi fisik balita itu cukup mengenaskan, untuk seusianya berat badannya sangat kurang, kemampuan motoriknya pasif, dan kemampuan komunikasinya terbatas, entah bagaimana hidup balita ini dulu dengan ibu kandungnya, namun saya merasakan balita ini memiliki trauma yang cukup mendalam. pada hari pertama balita itu langsung menempel pada teman saya, tidak mau dilepas atau pindah ke orang lain, memang sungguh melelahkan bagi teman saya, namun satu hal yang pasti, si balita itu dapat merasakan naluri teman saya yang tulus dan keibuan, walaupun teman saya ini belum pernah punya anak.

Melahirkan anak tidak serta merta membuat seorang wanita menjadi ibu

setelah saya melahirkan anak pertama, saya merasa aneh, mengapa saya tidak bisa merasakan suatu koneksi batin dengan anak saya sendiri ? Padahal saya sudah mengandungnya selama 9 bulan ! Namun setelah waktu berjalan, dengan bertahap saya membangun hubungan batin dengan anak saya, dan kami seperti sudah tidak terpisahkan lagi, tidak bisa saya membayangkan diri saya tanpa kehadirannya.

Dengan kerja keras tanpa pamrih, penuh kasih sayang yang tulus, adalah hal yang mengubah seorang wanita menjadi seorang Ibu.

Menjadi orang tua adalah suatu berkah, namun berkah itu datang dengan penuh cobaan, tidak begitu saja turun dari langit, tapi merupakan buah dari jerih payah yang memakan waktu cukup lama, bahkan mungkin di sepanjang hayat kita.

Saya bukan orang tua yang sempurna, saya pun banyak melakukan kesalahan pada anak-anak saya, saya berharap andai saja ada sekolah untuk menjadi ibu yang baik, maka semua masalah saya pasti akan lebih mudah dipecahkan, namun hidup yang mengajarkan kita untuk dapat menjadi orang tua yang baik, tentu dengan modal niat yang tulus dan kasih sayang pada anak-anak kita.

Dan saya membayangkan suatu saat nanti jika anak-anak saya sudah dewasa, saya harap saya cukup memiliki tabungan untuk di hari tua, dan saya meminta mereka untuk memasukkan saya ke “Retirement House” atau nama kerennya “Panti Jompo”, kenapa ? Lebih baik begitu, karena kehidupan saya dan anak saya sudah pasti berbeda, dan saya tidak melahirkan mereka untuk menompang hari tua saya, saya melahirkan mereka untuk menjadi orang yang dapat meraih impiannya sendiri, bukan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan apa yang saya mau.

Yah namanya aja juga impian ya, belum tentu bisa terwujud, karena banyak hal yang tidak terduga bisa terjadi dan mengubah impian ini, tapi tidak salah kan kalau sedari awal saya sudah merencanakan seperti ini 🙂

selamat hari ibu

kasih ibu sepanjang masa

 

 

dear you….

“I know you can solve it, you always do….you’re the strongest person I ever knew.”

It was just last week you said that to me

you smiled at me, but I was perplexed

It wasn’t true, I’m not that strong, I’m just smart enough to hide it from all.

Like normal person too, I’m stumbling and crying.

I did mistakes, I’m imperfect, I am merely a human being

but I don’t do self-pity….

for God forbids me to do so

knowing I had tendencies to hurt others, I shut myself from everyone else but you

But I’m glad you said that to me.

You’re always the one who be there for me from the very beginning

Perhaps you won’t read this since you stay offline now

but I knew you have burdens, pains that hiding behind your smiles.

now it’s my turn to pay you back

Let me be with you during your hardest days

Share with me all of your feelings and tears

Embrace you with my sincere sympathy

for I am your friend…..always

A single rose can be my garden… a single friend, my world ~ Leo Buscaglia

Friendship is the most common form of love ~ Lisbeth Salander

Say it to me…..as a friend ~ Lionel , the king’s speech

There is nothing on this earth more to be prized than true friendship ~ Thomas Aquinas

Just walk beside me and be my friend……

And I am forever grateful

Muhammad, Biografi sang Nabi – Karen Armstrong

 

Tidak ada perubahan sosial dan politik radikal yang pernah dicapai dalam sejarah manusia, tanpa pertumpahan darah.” – Karen Armstrong

EDIT : karena banyaknya respon atas artikel ini, maka saya garisbawahi lagi bahwa buku-buku Karen Amstrong memang tidak dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari Islam, namun setidaknya dia telah berusaha objektif menurut persepsinya dan berdasarkan rujukan-rujukan dari ilmu Islam yang didapatnya dari dunia barat (9 April 2015)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal “(QS 8 : 2)

Karen Armstrong menulis autobiografi Muhammad, sang Nabi, pertama pada 1992 dengan niat untuk memberikan pandangan yang netral pada dunia barat setelah skandal “Ayat-ayat Setan” oleh Salman Rusdie, karena dunia barat tidak dapat memahami betapa tersinggungnya dunia Islam oleh novel ini,

Menurut mereka, Islam adalah kepercayaan yang tidak toleran dan fanatik sehingga layak untuk direndahkan, kepekaan kaum muslim yang dilukai oleh gambaran Rusdie tentang Nabi mereka dalam The Satanic Verses tidaklah penting” – Armstrong

Dan pada 2001, sekali lagi Armstrong merevisi buku ini setelah kejadian 9/11 , dimana dia menemukan bahwa stigma barat terhadap dunia Islam masih belum berubah sejak perang salib.

Untuk apa buku ini saya baca ? Sebagai orang yang terlahir dengan agama ini, agak sulit untuk membayangkan bahwa dunia barat memiliki pandangan yang jauh berbeda tentang Nabi Muhammad, bagi mereka Al-Quran bukan kitab suci namun karangan Muhammad belaka, Muhammad bukan nabi, Islam tidak menghargai wanita, Muhammad adalah penggila wanita, perang jihad adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang penuh kekerasan. Sementara di dunia timur mengetahui bahwa sesungguhnya Islam bukanlah agama yang penuh dengan kekerasan, namun kita menemui banyak kendala untuk membuktikan hal itu, terutama setelah 9/11, dan buku ini yang merupakan karangan seorang non-muslim, adalah bagai jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak yang saling berseberangan.

Dibandingkan dengan beberapa buku biografi Muhammad yang sudah pernah saya baca, memang buku ini tidak memberikan suatu hal yang baru, bahkan ada beberapa bagian dari masa-masa hidup Muhammad yang dihilangkan, tetapi intinya Armstrong ingin menitikberatkan pada bagian-bagian penting yang dapat membuktikan pada dunia barat bahwa Islam tidak seperti apa yang selama ini mereka percayai.

Dengan menggunakan metode pendekatan historis sosial-psikologinya, Armstrong memberikan insight yang berbeda, ada beberapa hal yang selama ini saya tidak pikirkan sebelumnya diantaranya alasan terjadinya perang jihad (selama ini kita beranggapan bahwa itu adalah perintah Tuhan semata) dan juga latar belakang terjadinya pembantaian atau genocide satu klan yahudi di Madinah oleh Muhammad, Berkali-kali Armstrong menekankan bahwa suku arab adalah suku yang sangat primitif, jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan Persia dan Romawi, hingga dengan memahami hal itu, kita dapat memaklumi apa sebenarnya keadaan yang dihadapi Nabi dan umatnya.

Perang Jihad

Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah, kaum Mujahirin (kaum muslim yang berhijrah) mengalami kesulitan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari, karena mereka sebagian besar mereka berasal dari kaum pedagang, sementara kehidupan di Madinah adalah kehidupan bertani, menggantungkan hidup pada kaum Anshor tidak mungkin dilakukan selamanya, hingga akhirnya kaum mujahirin mulai melakukan “penjarahan” atau “Gazw” pada rombongan pedagang Mekah yang melintasi jalur perdagangan, ini adalah kebiasaan suku arab yang lazim dilakukan untuk memenuhi kehidupan saat masa-masa sulit, agak sulit untuk dicerna namun alasan untuk bertahan hidup menjadi dasar terjadinya perang jihad hingga turunnya Wahyu Tuhan yang memerintahkan untuk berperang, bukan untuk membasmi kaum kafir, seperti yang kita pahami selama ini.

Armstrong menekankan bahwa Jihad bukan salah satu Rukun Islam, Jihad bukan tiang utama Islam, baik perang maupun perdamaian dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang terjadi saat itu, dan Muhammad bersama umatnya hidup dalam masa yang penuh kekalutan, dan saat itu perdamaian hanya dapat dicapai dengan pedang.

Konsep ini berbeda dengan agama lain, terutama agama Kristen, yang berkali-kali Armstrong mengutip : “memberikan pipi lain” jika diserang oleh musuh, dalam artian bahwa Kristen tidak mengenal konsep penyerangan terhadap musuh-musuh mereka, sementara itu Islam memerangi Tirani dan Ketidakadilan.

Sejatinya kaum Mujahirin tidak memiliki kemampuan berperang yang memadai, begitu juga dengan kaum Anshor yang mayoritas adalah petani, dan tiba-tiba saja Muhammad tampil menjadi pemimpin perang yang handal, menjadi ahli strategi perang yang jenius, melatih kaumnya dengan penuh kedisiplinan, menyusun strategi perang dan merapatkan barisan pasukan muslim dalam satu komandonya, hingga kaum muslim memperoleh kemenangan mutlak pada perang Badar. Efek moral dari perang Badar sangatlah besar, hingga Muhammad dan kaumnya yang selama ini menjadi sasaran cemoohan, setelah kemenangan di perang Badar mendapat kepercayaan diri dan pandangan yang baru.

Pembantaian/Genocide satu kaum Yahudi

Dalam beberapa buku biografi Muhammad lainnya, kisah memilukan tentang pembantaian suku Yahudi, klan Quraizah, tidak tersentuh, ini wajar karena bagi kita saat ini pun sulit menerima bahwa Nabi pernah melakukan ethnic-cleansing seperti yang dilakukan para penjahat perang lainnya. Dan kejadian ini dipelintir oleh dunia barat sebagai bukti bahwa Muhammad adalah sosok yang sadis dan barbar.

Namun tidak tepat menilai kejadian ini dengan standar saat ini, masyarakat arab yang primitif tidak mengenal konsep hukum dan tatanan pemerintahan, dan kondisi umat muslim yang serba terjepit dalam bahaya, perbuatan klan Quraizah nyaris menghancurkan kaum muslim di Madinah. Jika Muhammad membiarkan mereka pergi dari Madinah, mereka sudah pasti akan bergabung dengan klan-klan yahudi lainnya diluar Madinah dan menyusun strategi untuk bersama menyerang kaum muslim, pada saat yang sama kaum muslim masih harus berhadapan dengan pasukan kaum Quraisy dari Mekah.

Tidak seorang pun tekejut atau menentang keputusan pembantaian ini, justru eksekusi ini menjadi pesan bagi klan-klan yahudi lainnya bahwa kaum muslim tidak takut pada mereka,

Penting untuk dicatat bahwa tidak selamanya hubungan antara kaum muslim dan yahudi diwarnai oleh kekerasan, setelah pembantaian itu, Muhammad dan kaum muslim masih hidup berdampingan di Madinah dengan klan-klan yahudi lainnya, dan pada masa kejayaan kerajaan Islam, kaum Yahudi bersama kaum Kristen hidup damai dan sejahtera, hingga terbentuknya negara israel saat ini.

Dan setelah pembantaian ini, Muhammad tidak lagi berperang sepanjang hidupnya, ia mulai menerapkap pax Islamica atas jazirah arab, berikutnya sang Nabi mengambil jalan perdamaian dan rekonsiliasi dengan musuh-musuhnya, hingga akhirnya sang Nabi beserta umat Islam dapat kembali memasuki Mekah dengan aman.

Poligami, Hijab dan Kesetaraan Gender

Perkawinan sang Nabi dengan beberapa wanita seakan menjadi bukti bahwa ia adalah seorang yang maniak dengan wanita, namun kenyataannya semua perkawinannya (kecuali dengan Khadijah) adalah perkawinan politik, bukan berdasarkan pada free-will atau suka-sama-suka, dan hanya satu istri Nabi yang perawan saat dinikahi yaitu Aisyah. Istri-istri Nabi mewakilkan faksi-faksi penting dalam umat Islam, Perkawinan tersebut merupakan aliansi politik yang dirancang dengan hati-hati, bertujuan untuk mempersatukan umat Islam yang pada saat itu belum memiliki tatanan pemerintahan yang baik.

Walau rumah tangga sang Nabi sangat tidak lazim dan aneh, tidak bisa disangkal bahwa para istri-istri tersebut hidup bahagia bersama sang Nabi, Aisyah meriwayatkan bahwa sang Nabi lebih baik dan lembut padanya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, dan sang Nabi tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, bermain bersama istrinya dan bersenda gurau.

Pada dasarnya ayat yang memperbolehkan laki-laki untuk berpoligami tidak dirancang untuk meningkatkan atau memperbaiki kehidupan seksual mereka, namun untuk menjaga tatanan sosial dalam umat muslim, terutama pada masa sulit seperti perang dimana setelah banyak laki-laki yang wafat meninggalkan istri-istri, juga saudara perempuan dan kerabat lainnya yang membutuhkan perlindungan, oleh karena itu, dengan adanya kebolehan berpoligami, para janda perang bisa mendapatkan perlindungan dari kaum pria. Namun dalam kondisi normal, poligami hampir tidak bisa dilakukan, karena pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa pria tidak akan mungkin bisa berlaku adil diantara istri-istrinya, hingga lebih disarankan untuk memiliki satu istri saja.

Apa yang sudah dicapai sang Nabi dalam peningkatan hak-hak wanita sungguh luar biasa untuk bangsa seprimitif arab itu, salah satunya adalah hak wanita untuk menerima warisan dan hak untuk menjadi saksi, sedangkan dunia barat harus menunggu sampai abad ke 19 sebelum wanita dapat menikmati hak yang sama seperti pria.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35)

Dan tentang Hijab yang saat ini dipandang sebagai simbol penindasan pria terhadap wanita, pada awalnya Hijab dirancang untuk untuk mencegah terjadinya perbuatan buruk pada istri-istri Nabi yang bisa dimanfaatkan oleh para musuhnya, Jilbab atau Hijab tidak untuk merendahkan status wanita, tapi justru merupakan simbol status wanita yang lebih tinggi dibandingkan wanita biasa, para istri sang Nabi adalah figur penting dalam umat islam, dan mereka dihormati dengan Hijabnya.

Hingga pada masa itu Hijab menjadi simbol kekuasaan dan pengaruh seorang wanita. Ketika istri-istri pasukan perang salib melihat penghormatan kaum muslim terhadap para wanitanya dengan Hijab sebagai simbolnya, mereka pun mengenakan Hijab dengan harapan dapat memperoleh perlakuan yang baik dari kaum prianya dan lebih dihormati, seperti penghormatan kaum muslim terhadap kaum muslimah.

Princess Sybilla of Jerusalem, yang mengenakan hijab (kingdom of heaven movie)

Princess Sybilla of Jerusalem, yang mengenakan hijab (kingdom of heaven movie)

Pada bab terakhir, Armstrong menarik benang merah antara perabadan Islam dan dunia barat yang menurutnya memiliki satu sejarah yang sama namun saat ini saling berseberangan satu dengan yang lainnya, hingga perbedaan ini memberi dampak negatif pada kedua pihak, timbulnya stigma Islam fundamentalis adalah akibat dari ketidakpahaman barat terhadap Islam dan sejarahnya, kedua belah pihak harus saling memahami dan sadar bahwa mereka adalah sederajat, salah satu titik untuk memulainya adalah dengan memahami sosok Muhammad, seorang tokoh yang rumit, penuh kasih, memiliki kecerdasan yang luar biasa, yang mengusung Islam sebagai agama yang penuh perdamaian.

Menurut saya, apa yang sudah Armstrong upayakan untuk membuktikan siapa sebenarnya sosok Muhammad dalam perspektif barat, adalah salah satu hal yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan untuk dunia Islam pada umumnya, dengan adanya karya ini, setidaknya dunia barat memiliki acuan yang seimbang untuk menilai tokoh yang rumit seperti Muhammad. 

 

EDIT :

karena banyaknya respon atas artikel ini, maka saya garisbawahi lagi bahwa buku-buku Karen Amstrong memang tidak dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari Islam, namun setidaknya dia telah berusaha objektif menurut persepsinya dan berdasarkan rujukan-rujukan dari ilmu Islam yang didapatnya dari dunia barat

9 April 2015

Karen Armstrong

Karen Armstrong