The Maid

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam percakapan dengan para ibu-ibu, tiba-tiba saja seorang ibu memutar topik ke arah pembantu rumah tangga, si ibu ini dengan bangganya menceritakan bagaimana si mbaknya yang rajin bekerja tanpa pernah mengeluh, bisa menghandle semua urusan rumah mulai dari memasak, mencuci baju, mengurus anak-anak, membersihkan rumah dan sebagainya…..dan si mbak itu mulai kerja dari pukul 4 pagi sampai tengah malam, tanpa jeda istirahat.

Saya cuma bengong aja mendengar cerita ibu itu, sebelum sempat berkomentar, ibu yang lain sudah menimpalinya, menurutnya itu kebangetan ya, masak segitu teganya menyerahkan semua urusan rumah tangga pada seorang pembantu ? “Tapi dia gak pernah ngeluh kok , lagian saya kan sudah menggajinya untuk itu ?” Sanggah si ibu.

Dan beberapa hari berikutnya, saya bertemu dengan teman lama, dia bercerita bahwa baru saja mengirim pembantunya berlibur keliling jawa, saya tanya mengapa begitu, “Karena jasa-jasa si mbok yang banyak sekali selama bertahun-tahun, rasanya gak mungkin membalasnya semua kebaikannya.”

Pembantu Rumah Tangga “The Maid” atau PRT, sejatinya memegang fungsi yang penting dalam hampir semua rumah tangga, namun sering kali kita tidak menyadari kehadiran mereka sampai mereka pergi, ya contohnya pada saat hari raya dimana semua PRT mudik ke kampung halaman masing-masing, kemudian sudah pasti semua ibu rumah tangga kelabakan dan kewalahan menangani semua tugas-tugas rumah tangga.

Keberadaan mereka adalah warisan budaya feodal kita, hingga hak-hak mereka sebagai manusia sering diabaikan, dan menyedihkannya lagi negara kita turut memberi kontribusi “mengekspor” budaya ini dengan pengiriman para TKI tanpa memikirkan apa hak-hak asasi mereka sudah dilindungi oleh undang-undang yang memadai.

Kalau kita mau mencoba memahami mengapa mereka sampai mau mengambil profesi ini, tentu kita akan lebih bersimpati kepada mereka, saya sendiri bukannya tidak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dengan para The Maid ini, mulai dari yang membawa masuk pacarnya ke dalam rumah, pernah ada juga yang memukul anak saya, dan lain sebagainya. Tapi yang terpenting bagi saya adalah saya selalu berusaha memperhatikan apakan hak-hak mereka sudah terpenuhi, dan juga apakah saya sebagai majikan sudah menunaikan kewajiban saya kepada mereka.

Menurut pendapat saya seharusnya hubungan antar majikan dan the maid ini adalah hubungan yang bersifat simbiosme mutualisme dimana kedua belah pihak saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Dan sebelum menerima mereka bekerja, ada baiknya “job description” dijelaskan dari awal, saya biasanya menguraikan sebagai berikut :

  • Luas area rumah yang menjadi tanggung jawabnya
  • mengurus atau tidak mengurus anak-anak
  • ikut atau tidak membantu memasak
  • mulai kerja, jam istirahat siang, jam selesai kerja
  • makan untuk dirinya sendiri, biasanya mereka diperbolehkan masak sendiri dengan biaya uang dapur
  • liburan akhir pekan, cuti tahunan, dan THR
  • peraturan lainnya seperti boleh atau tidak menggunakan telefon rumah, menerima tamu, dan sebagainya.

Sebetulnya sudah ada RUU Perlindungan PRT yang sedang dibahas di DPR untuk disahkan menjadi UU PPRT , dengan tujuan agar setelah ini setidaknya pelanggaran hak-hak asasi manusia pada para pekerja domestik ini bisa berkurang.

Isu tentang RUU ini cukup santer juga dikalangan ibu-ibu, dan pasti kebanyakan malah bereaksi negatif, “Nanti gaji mereka jadi kemahalan dong !” …..”Masak pembantu jadi kayak pegawai sih ? keenakan banget ya.” Tapi ada juga teman yang berkomentar cukup objektif : “Semoga UU PRT membuat hubungan antara majikan dan pembantu jadi lebih jelas ya, supaya kita para majikan juga paham kewajiban dan hak kita pada mereka.”

Saya sendiri merasa beruntung dibantu oleh si mbak yang handal dan terpercaya yang sudah bertahun-tahun bersama kami, hingga saya tidak merasa was-was jika meninggalkan anak-anak saya dirumah, dan rasa aman itu jauh lebih berharga dibandingkan apapun.

Dan tanpa sengaja saya menemukan satu blog yang artikelnya sangat menyentuh, ternyata penulisnya adalah seorang pembantu rumah tangga, disini saya men-quote surat terbukanya untuk para majikan :

Surat terbuka untuk majikan,

Pak Buk boss yang terhormat, Saya tahu saya hanya bekerja di rumah mewah bapak dan ibu, saya juga tahu saya hanya seorang pembantu rumah tangga di rumah mewah ini. Saya tahu saya orang yang gak berpendidikan tinggi, saya hanya lulusan, SD, SMP dan pendidikan saya yang rendah di desa yang gak pernah maju sama sekali di banding kota yang bapak ibu  tempati.

Tapi, masak iya saya harus menerima perlakukan yang semena-mena, menghina, seenaknya sendiri, bentak saya sesuka bapak dan ibu inginkan. Saya hanya manusia biasa, saya sama dengan bapak dan ibu, saya juga ingin di hargai dan saya juga punya sakit hati. Bagaimana jika ibu dan bapak yang terhormat jika berada di posisi saya?

Dengan surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang gak pernah ibu bapak ingin tau. Apakah bapak ibu mengerti apa yang sedang saya rasakan ketika ibu bilang bodoh, mengomel, pembantu gak berguna dan selalu saja melakukan kesalahan.

Saya berfikir saat itu adalah neraka buat saya. Saya tahu saya hanya bekerja, saya juga tahu saya hanya ikut makan, ikut minum, ikut di rumah mewah bapak dan ibu tempati. tapi kenapa harus hal seperti ini yang saya terima. Kita sama sama membutuhkan bukan?. Saya minta maaf jika memang saya terkesan sangat bodoh, tapi tolong perlakukan saya seperti manusia lain yang berperasaan dan tak membuat sakit hati.

Terimakasih.

Advertisements

9 comments

  1. ndutyke · April 1, 2012

    Reblogged this on ndutyke's and commented:
    “…seharusnya hubungan antar majikan dan the maid ini adalah hubungan yang bersifat simbiosme mutualisme….”

  2. ndutyke · April 1, 2012

    mbak, permisi postingan ini aku reblog untuk di blogku ya 🙂 thanks,…

  3. t3ph · April 2, 2012

    inspiratif tulisannya 🙂

  4. azism · April 14, 2012

    ane kirain mbahas sequelnya film “The Raid” ..#lemes

  5. muhammad rosin · April 18, 2012

    pembantu ya pembantu, mereka kalau dikasih ati pasti ngrogoh rempelo…ngga ada yang bener…mungkin anda dengar yang kebetulan bagus, tapi 99 % pembantu ngga ada yang beres, apalg sekarang bawaannya hp

    • susandevy · April 18, 2012

      betul, mas
      memang banyak yg ngaco sekarang ini, tapi masih banyak juga yg baik, tinggal gimana kita mengarahkannya aja, kalo dia baik pasti bisa jadi baik juga, kalo gak bisa ya pasti dia udah cari kerja ketempat lain, as simple as that 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s