ketika musibah menjadi berkah

 

When God had created His creatures, He wrote above His throne ; “Verily, My Compassion overcomes My Wrath” (Bukhari & Muslim)

Beberapa hari yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di sumatra dan bahkan berpotensi tsunami, saya yang saat itu masih dalam perjalanan hanya bisa memantau perkembangan berita dari timeline, dan yah seperti biasa ada saja oknum-oknum yang iseng mengutip ayat Al-Quran tentang bencana alam yang dihubungkan dengan azab Tuhan. pertanyaan ; seberapa urgen kah hal itu harus dilakukan ? Disaat kepanikan ini ?

Saya mencatat salah satu ayat yang dikutip adalah dari surat An-Nisa 79 ; yang isinya : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Alloh, dan bencana yang menimpa dirimu maka berasal dari kesalahan dirimu sendiri.”

Ayat tersebut memang benar, bahwa intinya bencana yang menimpa diri kita adalah akibat dari ulah kita sendiri, namun saya percaya bahwa ayat-ayat dalam Al-Quran tidak berdiri sendiri, karena setiap ayat saling memiliki benang merah dengan ayat-ayat lainnya, dan ternyata pada dua ayat sebelumnya ( An-Nisa : 77-78) menjelaskan tentang sikap kaum munafik yang tidak mau diajak berjihad pada zaman Rasulluloh, dan jika mereka mendapat kebaikan mereka mengakui bahwa hal itu berasal dari Alloh, namun saat mereka tertimpa musibah dengan enaknya mereka menyalahkan Nabi Muhammad SAW, hingga dilanjutkan pada ayat berikutnya (79) bahwasanya bencana yang menimpa kaum munafik itu adalah akibat dari ulah mereka sendiri.

Jika bencana adalah benar merupakan azab dari Tuhan, apakah betul korbannya adalah para pendosa ? bagaimana jika sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah ? Apa sebetulnya esensi dari bencana atau musibah ? Mengapa Tuhan menimpakannya pada kita ?

Agak sulit untuk dicerna, namun pada dasarnya kita sebagai manusia lebih mampu untuk berubah menjadi individu yang jauh lebih baik justru setelah melalui beberapa rangkaian kesulitan dan musibah.

Daniel Gilbert dalam Stumbling on Happiness, mengungkapkan bahwa sumber dari kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah setelah melalui serangkaian peristiwa yang traumatik, dan hasil penelitian membuktikan bahwa orang-orang tersebut tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting.

Al-Quran, dalam penjelasan Struggling to Surrender, karangan Jeffey Lang, menekankan tiga unsur utama dalam tahap evolusi moral-spiritual manusia ; (1) free-will atau hak untuk memilih jalan hidupnya, (2) kemampuan untuk menimbang sebab-akibat dari pilihannya itu dan (3) cobaan berupa musibah dan kesulitan yang datang dari lingkungan sekitarnya.

Sebagai contoh, jika saya memutuskan untuk menjadi orang yang jujur alias tidak berbohong (free-will) kemudian datanglah beberapa cobaan yang menggoda saya untuk berbohong, mungkin dengan iming-iming materi yang berlimpah, nah, jika saya mampu bertahan tetap menjadi orang yang jujur maka saya telah naik ke tingkat moralitas yang lebih tinggi.

Untuk mampu memiliki sifat kasih-sayang, empati, keadilan, kedermawanan, kita harus memiliki alternatif atau suatu kondisi yang dimana bisa membuat kita melakukan hal sebaliknya ; benci, ketamakan, balas dendam, kemarahan, yang semua itu bisa diperoleh dari serangkaian cobaan, musibah atau bencana.

Cobaan hidup tidak selalu berupa bencana alam, pada dasarnya kita semua mengalami berbagai cobaan dalam rutinitas setiap hari ; kesulitan dalam pekerjaan atau sekolah, pertikaian dengan teman atau keluarga, kekurangan keuangan dan sebagainya. Bahkan jika kita merasa hidup serba kecukupan, mungkin kita harus waspada karena bisa jadi hal itu adalah cobaan dalam bentuk kesenangan yang melalaikan.

Ketika menghadapi kesulitan, pasti sebagai orang normal kita merasa sedih, marah, frustasi dan bingung, akan tetapi jika kita menyadari bahwa sebetulnya kita justru membutuhkan serangkaian kesulitan dan cobaan hidup itu, maka kita akan mampu melaluinya dengan hati yang tenang.

Konsep mengenai kebutuhan kita akan penderitaan, kesulitan dan perjuangan dalam pencarian evolusi moral dan spiritual tercantum beberapa kali dalam Al-Quran ;

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (2: 155-156)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (2 : 214)

Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.”

Mungkin hidup tidak akan menjadi mudah setelah serangkaian kesulitan itu, namun karena kita telah melaluinya dengan sabar, lapang hati, tenang dan ikhlas, maka selanjutnya apa yang terbentang dihadapan kita akan tampak lebih mudah……. dan bagai blessing in disguise, musibah mampu menghadirkan berkah dalam hidup.

“When is the help of Allah ?” Unquestionably, the help of Allah is near.

To Him we belong, to Him we shall return.

Hunting, editing dan retouching foto

Long wiken ini saya dan si syarif pergi ke pelabuhan sunda kelapa untuk hunting foto, memang kebetulan stok foto2 untuk diedit sudah berkurang, jadi ini kesempatan untuk menambah koleksi baru lagi. Seperti biasa, saya menggunakan kamera poket (maklum belum sanggup beli dsrl sih) dan nanti hasilnya diedit dengan Gimp.

Memang kamera poket punya banyak kelemahan, tapi untuk mendapat hasil yang maksimal ada beberapa cara : (1) pakai pencahayaan alami, semakin cerah sinar matahari hasilnya akan semakin bagus, (2) saat mengambil gambar, tangan harus steady, gak boleh goyang atau gemetaran, kalau tidak bisa ya gunakan saja tripod kecil yang khusus untuk kamera poket, (3) foto sebanyak-banyaknya, jangan pelit, karena tidak semua hasil gambar dari kamera poket bisa diedit, kira-kira kurang dari 50% hasil foto kamera poket yang layak diedit.

Dan ini hasilnya, foto ini sudah saya edit dengan mengubah color balance, brightness – contras, filter gaussian blur dan unsharpen mask, juga memanfaatkan fitur Layer Modes, gambar aslinya sangat plain dan tidak fokus, dan setelah diedit kontur awannya bahkan bisa cukup kelihatan jelas !

Hampir sama seperti gambar diatas, saya juga mengedit dengan cara diatas

Sedangkan gambar ini selain diretouch juga diberi efek Fake Lomo :

Dan gambar ini saya beri efek Lens Flare, walaupun kurang maksimal, karena kendalanya adalah memunculkan warna pada objek sementara fitur lens flare tetap digunakan tanpa membuat objek menjadi gelap.

Sayangnya kami tidak bisa mendapatkan foto sunset, karena sore harinya sudah mulai mendung, mungkin juga sebaiknya tidak datang siang hari ke pelabuhan itu, karena saat itu sedang loading barang, hingga banyak truk-truk yang parkir didepan kapal hingga mengganggu pemandangan. Juga saya gagal membuat foto siluet dengan kamera poket ini, yah tapi begitu deh, memang ada saja kendala yang ada dilapangan, hehee…yang penting apapun hasilnya harus tetap diusahakan diedit !

Oh ya, koleksi lainnya bisa dilihat di akun flicker saya

Semoga posting ini bermanfaat dan menginspirasi untuk menggunakan teknologi yang low-end dan minim namun menghasilkan kualitas yang memadai

The Big Short , detik-detik menuju kehancuran Wall Street

“The line between Gambling and Investing is artificial and thin”

“The best definition of Investing is Gambling with the odds in your favor.”

Setelah menikmati Liar’s Poker, tidak pernah terpikir oleh saya untuk membaca novel Michael Lewis lainnya, terutama yang berhubungan dengan dunia finansial, dan saat saya mengetahui tentang The Big Short, yang terlintas dibenak saya “oh, dia ingin bernostalgia dengan Wall Street, ini pasti buku biografi lanjutannya setelah dia meninggalkan Salomon Brothers, semoga saja saya tidak tertidur setelah membaca bab pertama ! Hahaha…” dan ternyata saya sangat sangat salah besar ! The Big Short adalah novel yang sangat jauh berbeda dengan Liar’s Poker, walaupun masih tentang seputar dunia Capital Market, Bond Trading, dan orang-orang yang terlibat dalam seluruh sistem itu, novel ini menceritakan dari suatu perspektif yang berbeda, yaitu mengenai segelintiran kelompok kecil yang bertaruh melawan seluruh sistem Wall Street di masa keemasan Subprime Mortgage Bonds, hingga mencapai ambang batasnya yaitu saat kehancuran seluruh sistem di Wall Street pada krisis finansial di tahun 2007.

Jadi buku ini bukan mengenai si penulisnya, namun disini Lewis menggali beberapa narasumbernya yang secara diam-diam sudah memprediksikan keruntuhan finansial jauh sebelum terjadi, dan juga memaparkan secara gamblang kebobrokan sistem finansial di negara tersebut, yang didukung semua yang terlibat di Wall Street, mulai dari investment bank, rating agency dan firma-firma lainnya, hingga mengantarkan negara itu pada kehancuran finansial yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan rumah dan pekerjaannya.

Bet against the whole Market

Adalah Steve Eisman, seorang analis suprime mortgage bonds yang pertama mengendus kejanggalan dari obligasi kredit rumah itu, pada 90’s hanya sedikit analis pasar obligasi yang memahami dengan benar efek dan dampak negatif dari pinjaman atau kredit yang diperpanjang atau di-extend, dan Eisman adalah salah satunya, Eisman digambarkan sebagai karakter seorang analis tipikal Wall Street ; smart, kejam, kasar, aneh dan agresif, bahkan istrinya mengatakan mustahil mengajarkan tata krama pada Eisman.

Rasa ingin tahu Eisman yang tinggi mengenai Suprime Mortgage bonds mengantarkannya menemui seorang akuntan yang sejalan dengannya, Vinny Daniel, yang terus kebingungan karena bosnya tidak bisa menjelaskan mengapa mereka harus mengaudit investment bank di Wall Street yang tidak memiliki data-data yang jelas, bersama mereka mencoba menggali apa sebenarnya yang akan terjadi akibat dari semua ini, dan mereka berkesimpulan bahwa suatu saat semua ini akan berakhir, Eisman pernah membuat nulis laporan mengenai hal ini namun tidak ada yang mempercayainya di Wall Street. Vinny terus menganalisa dan memprediksikan bahwa krisis akan dimulai pada pertengahan 2005. dan Eisman pun mulai menyusun sebuah strategi sebelum krisis dimulai.

The Outsiders who shorting the bonds

Apakah hanya orang-orang “insider” di dalam Wall Street yang bisa mengendus kehancuran ini ? Ternyata sekelompok kecil orang yang sama sekali buta tentang pasar obligasi bisa memahaminya ! Tepat pada saat harga rumah mulai menurun pada 2006, Charlie Ledley membaca laporan presentasi seorang bond trader senior dari Deutsche Bank, bernama Greg Lippmann, tentang teorinya “shorting mortgage bonds” yang muncul dibenaknya adalah “this is too good to be true, why no one smarter than us doing this ?”

Short selling ada teknik yang lazim digunakan di pasar saham untuk meraup keuntungan saat pasar saham terjun bebas, namun short selling di pasar obligasi adalah hal yang mustahil dilakukan, karena karakteristik obligasi yang jauh berbeda dengan saham, namun jika kita membeli Credit Default Swap yang secara harfiah merupakan sejenis asuransi dari suatu obligasi yang diterbitkan oleh investment bank, maka saat pasar obligasi hancur, pihak yang memegang Credit Default Swap (CDS) akan meraup keuntungan yang sangat besar, dan entah mengapa tidak ada yang melakukan hal itu karena seluruh pasar percaya tidak ada yang bisa membuat pasar obligasi, terutama subprime mortgage bonds runtuh.

Sampai pada bab ini saya baru paham bahwa yang dimaksud dengan judul “The Big Short” adalah aksi Short Selling Obligasi ! These people were not merely making a bet against bonds but they were making a bet against the whole system. Ini pertama kalinya saya mendengar tentang hal ini dan yang terlintas dalam benak saya adalah “ini gila ! Huahahaa….”

Bersama kedua temannya, Ben Hockett dan Jamie Mai, mereka mendirikan sekuritas kecil bernama Cornwall Capital, dan mulai menganalisa pasar dengan seksama, dengan tujuan untuk membeli CDS dari investment bank ternama di Wall Street, namun dana yang mereka miliki “hanya” 30 juta dollar adalah jumlah yang sangat kecil, hingga tidak ada satu pun investment bank di Wall Street yang mau menerima mereka menjadi investornya, karena mereka hanya melayani trading diatas ratusan juta dollar, permasalahan mereka bukan hanya menemukan investment bank yang mau menerima mereka sebagai investor, tapi juga bagaimana (jika) saat krisis terjadi , kepada siapa mereka akan menjual CDS itu dan bagaimana para outsider bisa melakukan transaksi di pasar obligasi. Waktu yang mereka miliki hanya sedikit saat krisis dimulai, karena jika meleset sedikit saja maka semua CDS yang mereka miliki jadi tidak berharga.

The Lone Black Swan

Bagian yang paling mengesankan dari buku ini adalah saat tokoh seorang dokter neurologis yang memiliki obsesi terpendam pada pasar obligasi, Michael Burry meluangkan hobinya menulis analisa investasi finansial disela-sela waktu kerjanya sebagai dokter, sampai bakatnya mulai ditemui oleh investment bank ternama, Morgan Stanley, maka Burry mantap meninggalkan dunia kedokteran dan mendirikan perusahaan investment kecil, Scion Capital. Entah kenapa, tokoh Michael Burry mengingatkan saya pada tokoh Lisbeth Salander di Millenium trilogy-nya Larsson, penderita Asperger syndrome juga, hingga mengakibatkan dokter yang hanya memiliki satu mata ini kesulitan berinteraksi dengan sesama, dan ia memilih untuk mengisolasi dirinya dan berkomunikasi via email saja, namun justru karena Asperger sindrom tersebut yang membuat Burry bisa fokus total pada satu masalah dan menemukan apa yang tidak dilihat oleh orang awam.

Burry mulai menganalisa tentang kredit rumah (mortgage lending ) pada 2003 sampai 2004 dan meramalkan dengan akurat bahwa kehancuran pasar obligasi akibat kredit rumah ini akan terjadi pada 2007, karena pihak yang meminjamkan terus menerus memberikan pinjaman pada para peminjam, “ “What we want to watch are the lenders, not the borrowers, because the borrowers will always be willing to take a great deal of it.” Berdasarkan perhitungannya, Burry mulai membeli credit default swap yang dipilihnya secara seksama, namun tidak ada yang mendukung teorinya hingga Burry terus menerima tekanan dari para investornya hingga mengakibatkan dirinya menderita depresi.

Salah satu analis pasar obligasi menyebut Burry sebagai The Black Swan, karena dia berdiri sendiri mempertahankan analisanya ditengah-tengah cemoohan lainnya. Mempunyai teori bahwa subprime mortgage bonds akan runtuh berarti menentang seluruh sistem di dalamnya.

Everything is Correlated

Setelah financial disaster terjadi, Michael Lewis bertemu kembali dengan bekas bosnya di Salomon Brothers, John Gutfreund, yang disebutkan dalam Liar’s Poker , dan tentu saja mereka mendiskusikan tentang apa yang menjadi penyebab dari krisis yang sudah terjadi itu. Namun sejatinya krisis bukan dimulai pada saat awal 2000. Pada awal 80′ Gutfreund melakukan terobosan mengubah Salomon Brothers dari private partnership menjadi public corporate yang pertama, ini mengakibatkan mereka mentransfer resiko finansialnya ke para share-holders, dan juga tentu saja pada masa itu merupakan tonggak kelahiran program Mortgage Derivatives atau yang selanjutnya dikenal sebagai Mortgage Bonds. “Derivative are like guns, the problem isn’t the tools but it’s who’s using that tools.”

Setelah keluar dari Salomon Brothers, John Gutfreund mengisi beberapa panel diskusi di business school dan dia menyarankan para pelajar mencari hal penting lainnya daripada bekerja di Wall Street, dan pada saat dia diminta menjelaskan karirnya, dia menangis.

Keputusan Gutfreund mengubah partnership menjadi corporate adalah inti permasalahannya, “When things go wrong it’s their problem” Ketika investment bank di Wall Street hancur maka semua resikonya menjadi milik pemerintah, dan tentu saja dana bail-out diambil dari anggaran negara. Pada akhir 2008 pemerintah menyuntikkan 700 milyar dollar ke investment bank di Wall Street, namun ternyata jumlah itu masih belum cukup untuk menstimulus pasar, hingga pada awal 2009 jumlah yang telah diberikan untuk bail-out sudah lebih dari triliunan dollar dan semua itu dibebankan kepada tax payers.

Dan bagaimana dengan para sekelompok kecil yang melakukan aksi short selling pada saat krisis terjadi ? Tentu saja mereka berhasil meraup keuntungan ditengah kehancuran finansial tersebut, dan Michael Burry yang akhirnya berhasil membuktikan teorinya bahwa krisis akan terjadi, mencetak keuntungan dari 100 juta dollar menjadi lebih dari 700juta dollar, dan Scion Capital mencetak return sebesar 400%, namun pada 2008 hasil tersebut dilikuidasi hingga menyebabkan Burry tidak dapat meraup keuntungannya, namun setidaknya dia telah berhasil membuktikan teorinya. Michael Burry saat ini masih berkerja pada Scion Capital, tetapi ia membatasi diri hanya berinvestasi atas dana pribadinya saja, dan tidak mencari investor lainnya.

Charlie Ledley dan koleganya akhirnya berhasil mencetak profit dari taruhannya sebesar 30 juta dollar menjadi 135 juta dollar, namun mereka tidak pernah merayakan keberhasilannya, fakta-fakta yang mereka temukan di Wall Street telah menyurutkan minat mereka, “I think there’s something fundamentally scary about our democracy.” kemudian mereka menyusun rencana untuk membalas dendam kepada rating agency yang telah menipu dengan mengacaukan standar mortgage obligasi, hingga mereka membentuk non-for-profit legal entity yang bertujuan hanya untuk menuntut rating agency ; Moody’s dan S&P, yang telah menyebabkan kerugian bagi para investor. “Our plan was to go around to investors and say ; You guys don’t know how badly you got fucked, you should really sue.”

Apa yang bisa kita lakukan

Mortgage Crisis telah membuktikan bahwa sistem kapitalisme tidak berhasil memberikan kesejahteraan pada seluruh orang yang terlibat didalamnya, pasti selalu ada pihak yang mengambil keuntungan diatas kerugian pihak yang lain, dalam hal ini Wall Street telah meraup keuntungan besar bukan hanya dari para peminjam kredit rumah namun juga dari pemerintah dengan dana talangan bail-outnya.

Naif sekali kalau berpikir hal yang sama tidak akan terjadi disini, tapi saya tidak bisa membuat prediksi tentang hal tersebut, saya bukan analis pasar, bukan investor juga, apalagi trader, saya hanya suka mengamati keanehan yang terjadi di dalam sistem ini, dan saya hanya bisa berkesimpulan bahwa krisis tersebut terjadi akibat pinjaman untuk kebutuhan konsumtif yang berlebihan.

Dan tren itu pun sudah jelas terjadi disini, coba bayangkan kenapa belakangan ini kita tiap hari dibombardir oleh telefon dari CS kartu kredit ? Atau kenapa banyak sekali yang menawarkan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif tanpa agunan ? Perhatikan Bank-bank mana saja yang getol melakukan ini maka polanya akan tampak jelas : Pihak asing telah melakukan penetrasi didalam sistem perbankan kita untuk meraup keuntungan yang besar dari semua ini, dan jika suatu hal terjadi, pemerintah akan menalanginya dengan dana bail-out yang dibiayai oleh anggaran negara.

Hindari pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, mulai pola hidup sederhana, kalau tidak bisa beli mobil ya naik angkot saja, kalau tidak mampu beli rumah ya sewa atau ngekos saja, kalau tidak mampu beli smart phone mungkin anda memang sebetulnya tidak memerlukannya, jadi kenapa harus mengambil pinjaman jika sebetulnya kita tidak memerlukannya ?

Kembali ke The Big Short, jujur novel ini far beyond my expectation, dan kemarin saya membaca salah satu reviewnya di sebuah blog yang menyebutkan kalau novel ini lebih baik dibandingkan dengan Larsson’s Millennium Trilogy, bagi saya novel ini sungguh berbeda dibandingkan dengan Liar’s Poker, dimana saya sangat menikmati lelucon kasar dan satirnya, namun di The Big Short, saya seperti mengalami sesak nafas dan sempat ngeblank dan black-out beberapa kali setiap kali membaca fakta-fakta mengerikan yang ada di dalamnya. Tidak berlebihan kalau novel ini dikategorikan sebagai novel non-fiksi finansial thriller. Dan Michael Lewis seperti mengejek buku-buku finansial lainnya yang tebal dan bertele-tele, karena The Big Short mampu memaparkan nuansa kelam di masa krisis finansial kurang dari 300 halaman ! Novel ini semakin mengukuhkan kemampuan Michael Lewis sebagai seorang narator ulung.

Sumber :

http://www.scioncapital.com/

http://www.valuewalk.com/micheal-burry-page/

http://en.wikipedia.org/wiki/Subprime_mortgage_crisis

http://www.goodreads.com/book/show/6463967-the-big-short

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/03/12/AR2010031202291.html


The Maid

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam percakapan dengan para ibu-ibu, tiba-tiba saja seorang ibu memutar topik ke arah pembantu rumah tangga, si ibu ini dengan bangganya menceritakan bagaimana si mbaknya yang rajin bekerja tanpa pernah mengeluh, bisa menghandle semua urusan rumah mulai dari memasak, mencuci baju, mengurus anak-anak, membersihkan rumah dan sebagainya…..dan si mbak itu mulai kerja dari pukul 4 pagi sampai tengah malam, tanpa jeda istirahat.

Saya cuma bengong aja mendengar cerita ibu itu, sebelum sempat berkomentar, ibu yang lain sudah menimpalinya, menurutnya itu kebangetan ya, masak segitu teganya menyerahkan semua urusan rumah tangga pada seorang pembantu ? “Tapi dia gak pernah ngeluh kok , lagian saya kan sudah menggajinya untuk itu ?” Sanggah si ibu.

Dan beberapa hari berikutnya, saya bertemu dengan teman lama, dia bercerita bahwa baru saja mengirim pembantunya berlibur keliling jawa, saya tanya mengapa begitu, “Karena jasa-jasa si mbok yang banyak sekali selama bertahun-tahun, rasanya gak mungkin membalasnya semua kebaikannya.”

Pembantu Rumah Tangga “The Maid” atau PRT, sejatinya memegang fungsi yang penting dalam hampir semua rumah tangga, namun sering kali kita tidak menyadari kehadiran mereka sampai mereka pergi, ya contohnya pada saat hari raya dimana semua PRT mudik ke kampung halaman masing-masing, kemudian sudah pasti semua ibu rumah tangga kelabakan dan kewalahan menangani semua tugas-tugas rumah tangga.

Keberadaan mereka adalah warisan budaya feodal kita, hingga hak-hak mereka sebagai manusia sering diabaikan, dan menyedihkannya lagi negara kita turut memberi kontribusi “mengekspor” budaya ini dengan pengiriman para TKI tanpa memikirkan apa hak-hak asasi mereka sudah dilindungi oleh undang-undang yang memadai.

Kalau kita mau mencoba memahami mengapa mereka sampai mau mengambil profesi ini, tentu kita akan lebih bersimpati kepada mereka, saya sendiri bukannya tidak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dengan para The Maid ini, mulai dari yang membawa masuk pacarnya ke dalam rumah, pernah ada juga yang memukul anak saya, dan lain sebagainya. Tapi yang terpenting bagi saya adalah saya selalu berusaha memperhatikan apakan hak-hak mereka sudah terpenuhi, dan juga apakah saya sebagai majikan sudah menunaikan kewajiban saya kepada mereka.

Menurut pendapat saya seharusnya hubungan antar majikan dan the maid ini adalah hubungan yang bersifat simbiosme mutualisme dimana kedua belah pihak saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Dan sebelum menerima mereka bekerja, ada baiknya “job description” dijelaskan dari awal, saya biasanya menguraikan sebagai berikut :

  • Luas area rumah yang menjadi tanggung jawabnya
  • mengurus atau tidak mengurus anak-anak
  • ikut atau tidak membantu memasak
  • mulai kerja, jam istirahat siang, jam selesai kerja
  • makan untuk dirinya sendiri, biasanya mereka diperbolehkan masak sendiri dengan biaya uang dapur
  • liburan akhir pekan, cuti tahunan, dan THR
  • peraturan lainnya seperti boleh atau tidak menggunakan telefon rumah, menerima tamu, dan sebagainya.

Sebetulnya sudah ada RUU Perlindungan PRT yang sedang dibahas di DPR untuk disahkan menjadi UU PPRT , dengan tujuan agar setelah ini setidaknya pelanggaran hak-hak asasi manusia pada para pekerja domestik ini bisa berkurang.

Isu tentang RUU ini cukup santer juga dikalangan ibu-ibu, dan pasti kebanyakan malah bereaksi negatif, “Nanti gaji mereka jadi kemahalan dong !” …..”Masak pembantu jadi kayak pegawai sih ? keenakan banget ya.” Tapi ada juga teman yang berkomentar cukup objektif : “Semoga UU PRT membuat hubungan antara majikan dan pembantu jadi lebih jelas ya, supaya kita para majikan juga paham kewajiban dan hak kita pada mereka.”

Saya sendiri merasa beruntung dibantu oleh si mbak yang handal dan terpercaya yang sudah bertahun-tahun bersama kami, hingga saya tidak merasa was-was jika meninggalkan anak-anak saya dirumah, dan rasa aman itu jauh lebih berharga dibandingkan apapun.

Dan tanpa sengaja saya menemukan satu blog yang artikelnya sangat menyentuh, ternyata penulisnya adalah seorang pembantu rumah tangga, disini saya men-quote surat terbukanya untuk para majikan :

Surat terbuka untuk majikan,

Pak Buk boss yang terhormat, Saya tahu saya hanya bekerja di rumah mewah bapak dan ibu, saya juga tahu saya hanya seorang pembantu rumah tangga di rumah mewah ini. Saya tahu saya orang yang gak berpendidikan tinggi, saya hanya lulusan, SD, SMP dan pendidikan saya yang rendah di desa yang gak pernah maju sama sekali di banding kota yang bapak ibu  tempati.

Tapi, masak iya saya harus menerima perlakukan yang semena-mena, menghina, seenaknya sendiri, bentak saya sesuka bapak dan ibu inginkan. Saya hanya manusia biasa, saya sama dengan bapak dan ibu, saya juga ingin di hargai dan saya juga punya sakit hati. Bagaimana jika ibu dan bapak yang terhormat jika berada di posisi saya?

Dengan surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang gak pernah ibu bapak ingin tau. Apakah bapak ibu mengerti apa yang sedang saya rasakan ketika ibu bilang bodoh, mengomel, pembantu gak berguna dan selalu saja melakukan kesalahan.

Saya berfikir saat itu adalah neraka buat saya. Saya tahu saya hanya bekerja, saya juga tahu saya hanya ikut makan, ikut minum, ikut di rumah mewah bapak dan ibu tempati. tapi kenapa harus hal seperti ini yang saya terima. Kita sama sama membutuhkan bukan?. Saya minta maaf jika memang saya terkesan sangat bodoh, tapi tolong perlakukan saya seperti manusia lain yang berperasaan dan tak membuat sakit hati.

Terimakasih.