mulai membuat tutorial Gimp dan inkscape

secara tidak sengaja saya dikenalkanย  dengan mas Aditia setelah mas Dichi mengintip blog saya, ๐Ÿ˜ณ dan gak disangka saya diajakin untuk menjadi kontributor di fossgrafis.com , website yang menghimpun materi edukatif dan berbagai tutorial khusus untuk free and open Graphic Design softwares , diantaranya Gimp, Inkscape, dan Blender.

Terus terang ini merupakan suatu kehormatan bagi saya ya, apalagi saya ini bukan orang yang memiliki latar belakang IT yang memadai, dan sampai sekarang pun masih gaptek, kalau tidak karena bantuan semua orang IT disekitar saya, gak mungkin saya bisa kayak gini sekarang, hehee ๐Ÿ˜Ž

Curcol dikit tentang graphic design software, sebelum tahu Gimp, saya sudah bertahun-tahun mencoba menguasai Photoshop dan Corel, entah kenapa saya tidak pernah dapat feeling yang pas, dan tidak pernah menghasilkan satu karya pun ๐Ÿ˜ namun setelah insyaf dan jadi mualaf open source ๐Ÿ˜‰ย  baru deh saya tahu kalau ternyata sudah ada software untuk desain grafis seperti Gimp dan Inkscape ๐Ÿ˜€

Dan gak tau kenapa saya dapet aja feelingnya, Gimp dan Inkscape mungkin tidak secanggih Photoshop dan Corel, namun justru karena fiturnya yang simple namun sudah cukup pas untuk kebutuhan saya, ditambah lagi tutorialnya yang banyak tersebar diinternet, sungguh memudahkan saya menguasai software ini dengan waktu yang tidak lama ๐Ÿ˜€

Nah, jadi saat ini saya mulai mencicil buat tutorial di fossgrafis.com , tutorialnya saya buat mulai dari yang level dasar dan bertahap naik kelevel berikutnya, jujur aja sambil buat tutorial saya pun juga jadi belajar juga, maklum deh ya masih nubie toh :mrgreen:

ya jadi gitu aja, saya gak berharap macam2 kok, cuma mudah-mudahan aja tutorial itu cukup bermanfaat bagi siapa pun yang berminat mempelajari free and open software graphic design ๐Ÿ™‚

Liar’s Poker – memoar kebangkitan Bond Market dan Mortgage Bonds

Wall Street is a street with a river at one end and a graveyard at the other….. This is striking, but incomplete. It omits the Kindergarten in the middle.” – Fred Schwed

The biggest myth about bond traders, and therefore the greatest misunderstanding about the unprecedented prosperity on Wall Street in 80’s, are that they make money by taking large risks. a few do. and all traders take small risks, but most traders act simply as toll takers.

Knowing about market is knowing about other people’s weakness. And a fool, they would say, was a person who was willing to sell a bond for less or buy a bond for more than it was worth.

Liar’s Poker adalah novel non-fiksi yang cerdas, sarat dengan humor satir, dan penuh dengan kata-kata makian dan effing words, dimana Michael Lewis, sang penulis sendiri mengisahkan pengalaman pribadinya menjadi seorang Bond Trader di sebuah Investment Bank ternama di Wall Street, Salomon Brother pada era 80’s saat dimana pasar modal dan perdagangan obligasi sedang bangkit menuju era keemasannya.

Selama bertahun-tahun Liar’s Poker telah menjadi semacam acuan dasar dalam memahami Bond Market, beberapa tokoh penting Salomon Brothers yang disebutkan dalam buku ini adalah John Meriwether, Lewis Ranieri, dan CEO John Gutfreund.

Lulus dari jurusan Art history, Princeton, Lewis meniti karirnya sebagai Bond Trader di Salomon Brothers, mulai dari Trainee, menjadi Geek (mahluk kasta terendah di trading floor) hingga sukses berhasil menjadi Big Swinging Dick, yaitu bond trader yang berhasil menjual junk bond kepada kliennya hanya dengan satu phone call. Dengan kemampuan narasinya yang mumpuni, Lewis membawa kita menelusuri kehidupan Bond Trader, dan bagaimana realita yang sesungguhnya terjadi di Wall Street, khususnya di pasar obligasi.

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya menjabarkan beberapa istilah market dari novel ini (tentunya berdasarkan pemahaman saya yang pas2an ini ya ) terutama berbedaan dasar antara Bond dan Stock. Bond adalah surat hutang artinya jika saya punya bond maka saya secara tidak langsung memberikan hutang pada orang yang menerbitkannya. Sedangkan jika punya Stock atau saham artinya saya memiliki share atau bagian dalam perusahaan yang menerbitkannya. Namun anehnya ada regulasi yang mengatur jika suatu perusahaan bangkrut, maka pemilik obligasi tetap bisa memperoleh kompensasinya, sementara pemilik saham justru merugi karena nilai sahamnya sudah terjun bebas.

Baik Bond Market maupun Stock Market memiliki indeks masing-masing, yang indeksnya itu juga berfluktuasi atas pengaruh yang berbeda-beda, jika indeks saham berfluktuasi atas berbagai faktor misalnya kondisi perekonomian, demo, inflasi, bencana alam, dsb….maka indeks obligasi biasanya paling dipengaruhi oleh suku bunga bank, jika suku bunga naik, maka indeks obligasi turun, dan sebaliknya…..tapi jika pasar saham terjun bebas alias hancur…..pasar obligasi justru malah berpesta pora! Hal ini pun juga dijelaskan dalam Liar’s Poker.

Kembali pada Liar’s Poker, banyak fakta-fakta yang dijabarkan dalam buku ini terutama bagaimana kehidupan para Bond Trader, dan prinsip hidup mereka yang berorientasi pada uang semata, memikirkan berapa banyak keuntungan yang bisa mereka raih dari kliennya. Egois, oportunis, licik, tipu-daya penuh spekulasi dan street-smart adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan karakter orang-orang dalam industri ini. Lewis juga mencatat bahwa walaupun kebanyakan dari Bond Trader memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan finance, namun ilmu itu sejatinya tidak pernah digunakan. Jadi siapa pun dengan latar belakang pendidikan apapun asalkan bisa menjadi tukang bual yang baik maka bisa menjadi seorang Bond Trader yang sukses.

Salah satu bab dari Liar’s Poker mengisahkan tentang evolusi Mortgage Bonds, pada era itu Mortgage bond bagaikan tambang emas, investment bank meraup jutaan dollar dari situ, namun keserakahan dan kebodohan tentunya menjadi pil pahit, hingga mengantarkan Amerika pada krisis di tahun 2008 yang juga dikenal sebagai Subrime Mortgage Crisis.

Pada akhir buku ini, Lewis keluar dari Salomon Brothers, justru saat dia telah menjadi Big Swinging Dick dan menerima bonus ratusan ribu dolar ( tahun 80an jumlah segitu sangat luar biasa lho! ) tanpa alasan yang cukup jelas, hanya karena masih memiliki kepercayaan bahwa harusnya seseorang memperoleh uang berdasarkan atas kontribusinya pada masyarakat. Lalu ? bagaimana nasib Lewis setelah hengkang dari situ ? ternyata dia menjadi seorang Jurnalis dan menulis beberapa buku terkenal lainnya diantaranya adalah Moneyball dan The Blind Side yang sudah difilmkan.

Saat ini Lewis masih menulis berbagai artikel tentang finansial diberbagai media, dan buku terbarunya The Big Short, seperti merupakan kelanjutan dari Liar’s Poker, dimana Lewis mengungkapkan keheranannya atas Wall Street yang masih bisa bertahan setelah krisis tersebut. Oh ya, di buku itu Lewis bertemu lagi dengan mantan bosnya, John Gutfreund.

Dan bagaimana dengan kondisi pasar obligasi di negara ini ? setahu saya, saat ini bank-bank asing meraup untung banyak dari sini, menjadi Investment Bank bagi mereka jauh lebih menarik dibandingkan menjadi Payment Bank seperti BCA atau BRI, saya cuma berharap semoga krisis di amrik sana jangan sampai terjadi disini ya, walau peluangnya tetap ada apalagi dengan pemerintah kita yang korup ini.

Dan barusan ada kejadian yang kira-kira hampir sama dengan kisah buku ini, Greg Smith, executive director dari Goldman Sach mengundurkan diri karena sudah tidak tahan dengan kultur perusahaan tersebut, baca di artikel “Why I am leaving Goldman Sach” : “Today, many of these leaders display a Goldman Sachs culture quotient of exactly zero percent. I attend derivatives sales meetings where not one single minute is spent asking questions about how we can help clients. It’s purely about how we can make the most possible money off of them. If you were an alien from Mars and sat in on one of these meetings, you would believe that a client’s success or progress was not part of the thought process at all

All and all….Liar’s Poker adalah novel yang sangat menarik dan menghibur, saya sampai membacanya beberapa kali, walau tidak pernah terlibat langsung dengan dunia itu, paling tidak novel ini bisa membuat saya paham apa sesungguhnya yang terjadi di dalam trading floor.ย  Dan sebaiknya novel ini dibaca versi bahasa aslinya ya, bukan sok genggres ya, tapi banyak idiom dan anekdot yang jadi garing kalau diartikan ke bahasa kita, ya contohnya saja Big Swinging Dick ! :mrgreen:

Oh ya, kabar baiknya Liar’s Poker tahun depan akan difilmkan ! ๐Ÿ˜€

โ€œThose who know don’t tell and those who tell don’t know.โ€ – Michael Lewis

book review : Street Lawyer (edited)

“You don’t work for money, you work for your soul”

“I’m a human first, then a Lawyer”

– Mordecai Greens

Pengacara yang memiliki hati nurani ? Gelandangan yang membawa pesan ? Kantor firma besar dan kantor bantuan hukum untuk kaum miskin ? Street Lawyer, sebuah novel John Grisham yang sarat dengan dramaย  yang menggambarkan kehidupan kaum “homeless” yang dimarginalkan dan juga pertempuran antara kantor bantuan hukum bagi kaum miskin melawan “The Big Firm”

Sebetulnya novel ini sudah pernah saya buatkan reviewnya di blog saya yang lama, namun saya merasa perlu mengedit dan merevisinya kembali didalam blog ini, selain itu saya pun sedang membaca novel Grisham lainnya yang sebetulnya menurut saya adalah merupakan versi dari Street Lawyer yang jauh lebih baik.

Plot dari novel ini cukup sederhana, Micheal Brock seorang pengacara muda yang sedang meniti kariernya yang cemerlang di kantor hukum bonafid, Drake & Sweeney, secara tidak sengaja terlibat dalam insiden penyanderaan oleh “Mister” seorang gelandangan yang menyelinap ke kantor hukum itu, Brock terheran dengan motivasi Mister yang dengan berani menghadang nyawanya hanya untuk mencari fakta berapa dari jutaan dolar yang dihasilkan oleh kantor hukumnya yang diberikan kepada kaum miskin.

Rasa ingin tahu Brock mengantarkannya menemui Mordecai Greens, advokat yang bekerja pada kantor bantuan hukum untuk para kaum “homeless”ย  selama 30 tahun membela kaum miskin. Plot cerita mulai menarik saat Brock mantap memutuskan untuk meninggalkan kantor hukumnya dan bergabung dengan Greens menjadi Street lawyer, namun secara tidak sengaja Brock membuat kesalahan karena mencuri file dari kantor lamanya tentang pengusuran ilegal yang membuat Brock dilaporkan ke polisi oleh Drake & Sweeney, hingga Brock dan Greens dihadapi dilema antara harus menghentikan kasus penggusuran ilegal itu atau saling bertarung di pengadilan menghadapi Drake & Sweeney.

Sejujurnya plot Street Lawyer memang datar dan terlalu mudah ditebak, apalagi jika dibandingkan dengan novel-novel Grisham lainnya, namun satu hal yang patut diperhatikan adalah pada novel ini menjelaskan secara detail bagaimana kehidupan para Street Lawyer, dan juga secara sengaja membandingkan perbedaan cara pandang, pola pikir dan gaya hidup pengacara korporat dengan pengacara pro bono. Alur ceritanya yang cenderung lambat namun dapat menjabarkan secara utuh kehidupan pengacara jalanan dan diakhiri dengan ending yang cukup pantas dan tidak berlebihan.

Ada novel yang seperti diciptakan penulisnya untuk menjabarkan suatu profesi dengan benar, jika ingin memahami profesi Bond Trader maka tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan novel Michael Lewis’s Liar’s Poker . Dan jika ingin memahami bagaimana profesi Pro Bono maka tidak ada novel yang lebih detail mendeskripsikannya selain Street Lawyer .

Dan ya tentu saja novel ini masuk dalam daftar buku “must read” di akun goodreads.com saya.

“….and when the trust dried up, we all could hit the street, just like our clients, Homeless lawyers” – Mordecai Greens

Pejalan Kaki dan Trotoar

Dari berbagai pengguna jalan ; Mobil pribadi, angkutan umum, pengemudi sepeda motor, dan pejalan kaki…. Siapakah yang menempati kasta paling rendah di lalu lintas ibu kota ini ? Siapa yang paling dirampas hak-haknya oleh pengguna jalan yang lainnya ?

Pejalan kaki belakangan ini semakin terampas hak-haknya, dengan semakin bertambahnya jumlah pengendara motor namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan fasilitas dan prasarana jalan, tidak heran semakin hari semakin sulit bagi pejalan kaki untuk berjalan dengan aman di trotoar.

Saya pun sebetulnya sesekali menjadi pejalan kaki juga, ada saat tertentu saya masih bisa menikmati menjadi pejalan kaki sambil naik angkutan umum, baik bis, angkot maupun kereta commuter line, sebetulnya menjadi pejalan kaki yang tentu saja menjadi pengguna angkutan umum jauh lebih enak dibandingkan jika kita menggunakan mobil pribadi, tidak usah repot-repot mencari parkir, dan juga bisa tidur saat sedang macet (asal jangan kebablasan aja, sampai kelewatan dari tempat tujuan, hehee….pengalaman sih :mrgreen: )

Kira-kira dua bulan yang lalu, saya dan anak saya berlibur ke daerah perkotaan dimana ada museum Fatahillah, museum Bank Indonesia, museum Bank Mandiri dan juga Stasiun Kota. Kami berangkat menggunakan bus transjakarta yang berhenti tepat ditengah-tengah daerah tua itu, dan dari situ kami berkeliling dari satu museum ke museum lainnya.

Tentu saja kami sangat menikmati suasana daerah tua tersebut, hanya saja saat kami sedang berjalan ditrotoar entah sudah berapa kali saya dan anak saya hampir disamber oleh pengemudi motor yang naik ke atas trotoar, bahkan sering kami diklakson oleh mereka ! ya ampun ! jadi rupanya trotoar itu bukan untuk pejalan kaki ya ? tapi untuk pengemudi motor, dan pangkalan ojek dan juga pedagang kaki lima.

Dan selain itu, ketika kami sedang lengah karena diklakson oleh pengendara motor, hampir saja anak saya jatuh ke dalam lubang saluran air yang menganga terbuka lebar di tengah trotoar itu, ternyata lubang itu tutupnya sudah hilang dan dibiarkan terbuka begitu saja, memberikan peluang kepada para pejalan kaki untuk jatuh ke dalamnya ! ๐Ÿ˜ฆ

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kejadian Xenia maut yang merenggut nyawa 9 pejalan kaki yang sedang berada di trotoar, itu hanya salah satu contoh kejadian tragis yang menimpa pejalan kaki.

Dan juga baru-baru ini ada satu aksi hebat dari seorang ibu yang tidak diketahui namanya, dengan cueknya dia menghalau pengendara motor yang naik ke atas trotoar, sedangkan polisi saja sudah nyerah dan membiarkan para pengendara motor berlalu-lalang di atas trotoar.

Iseng saya mencari tahu apakah sebetulnya pejalan kaki itu sudah dilindungi hak-haknya dalam undang-undang ? ternyata sudah ada dalam UU no.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, di pasal 131 :

  1. Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.
  2. Pejalan Kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.

Pasal 275 :

  1. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Harusnya berdasarkan undang-undang diatas, sudah cukup menjabarkan hak-hak bagi para pejalan kaki, berarti jika hak-hak tersebut tidak sanggup dipenuhi oleh pemerintah maka ini sudah termasuk dalam pelanggaran hukum dan hak asasi manusia . Para pengemudi motor dan pedagang kaki lima yang merebut tempat trotoar dari pejalan kaki pun juga bisa dianggap telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia , namun menurut saya para pengendara motor dan pedagang kaki lima tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran HAM ini, karena seharusnya pemerintah yang berkewajiban menyediakan prasarana jalan yang memadai hingga trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki tidak diserobot oleh pihak lainnya.

Kabar baiknya saat ini sudah ada niat dari Pemrov DKI untuk merevitalisasi fungsi trotoar, walaupun tetap harus dipertanyakan seberapa besar keseriusannya.ย  Kabar lucunya Dinas Pertamanan DKI pun ingin ikut membantu dengan mendekorasi dan menghias trotoar…….hhmmm….ini penting gak ya ? apa dengan trotoar yang penuh dengan lampu-lampu hias, dan pot-pot taman yang besar bisa menghibur para pejalan kaki ? apa sungguh bisa memberikan kenyamanan ? ya silakan dijawab sendiri deh :mrgreen:

Memang kita yang tinggal di Ibu Kota ini harus terus banyak belajar bersabar, terutama sekali jika kita menjalani hidup sebagai kasta terendah di jalanan Ibu Kota yang kejam……dan semoga semua jasa-jasa dan kesabaran kita suatu saat akan dihargai oleh pemerintah ini ๐Ÿ˜€