Culture Shock / Gegar Budaya

Bagaimana rasanya jika kita ditempatkan pada tempat yang sama sekali sangat asing dan belum pernah kita datangi ? Culture Shock atau Gegar Budaya akan terjadi saat kita terdampat di tempat yang sama sekali tidak kita kenali.

Kaget, gelisah, takut, cemas, serba salah…mungkin itu adalah perasaan yang ada dalam hati kita.

Tanpa kita sadari, ada gap atau jurang perbedaan yang sangat dalam antara kebudayaan kota dan daerah diluar kota, atau dengan bahasa lain ; desa, kampung, dusun, pedalaman, dan sebagainya.

Saya yakin sekali setiap orang yang hidup di negeri ini pasti mengalami setidak-tidaknya sekali Gegar Budaya ini dalam hidupnya, entah pada saat baru pertama kali kuliah atau sekolah di luar kota yang jauh dari sanak famili, atau pada saat mendapat tugas ditempat yang terpencil, bahkan….pada saat baru pertama kali mendatangi Ibu Kota ! hihihii

Saya mungkin egois menulis artikel tentang hal ini karena saya sendiri sudah lahir dan besar di ibu kota, memang sih setidaknya sekali setahun saya mudik ke kampung, tapi kan itu cuman kayak liburan aja, ga berasa sama sekali kehidupan kampung yang aslinya, jadi bagi saya kampung adalah salah satu tujuan wisata saat liburan sudah tiba – tidak lebih dari itu.

Dan sudut pandang saya ternyata berubah drastis saat saya telah menikah ! *ouch*

Setelah menikah dan tinggal di rumah yang terpisah dari orang tua, ternyata membuat saya harus meladeni semua……… ya SEMUA TAMU YANG DATANG DARI KAMPUNG ! suatu pekerjaan yang tidak pernah saya lakukan dulu sebelum menikah, karena dulu waktu masih single ting-ting (ngok!) tiap kali datang tamu saya selalu ngumpet dalam kamar, membiarkan kedua orang tua yang meladeni dan menemani tamu-tamu itu ( sepertinya bukan anak yang baik sih saya ini ya……. 😛 )

Dan saya pun harus paham bahwa baik para tamu dan saya sendiri mengalami Gegar Budaya ini…..di dalam rumah saya…..yahuhuhuuuu

Okey lah, jadi begini ;

“Pada suatu hari yang cerah di Jakarta, saat setiap orang seperti biasa sudah sibuk dengan rutinitasnya masing-masing, seperti ; mengantar anak sekolah, pergi belanja sembako, arisan ibuk2, jemput anak-anak pulang sekolah, antar anak-anak ke tempat les, membersihkan rumah, antar anak-anak ke dokter, memasak dan memasak lagi…..tiba-tiba muncul di depan rumah segerombolan manusia yang dengan riang-gembira masuk ke dalam rumah seakan-akan kedatangannya sudah sangat dinantikan oleh sang penghuni rumah…..”

“Dan jika ini adalah pengalaman mereka yang pertama datang ke ibukota, artinya ; Bahasa, kebiasaan, jenis makanan yang mereka makan masih totok tok-tok-tok-jebret asli dari tempat mereka berasal ! jangan harap mereka akan gembira disuguhi burger mekdonal, pitsa hat atau ayam kentaki……karena mereka perut mereka pun akan mengalami gegar budaya jika kemasukan makanan itu !!!  ya Tuhan………!!!”

Jadi mereka harus makan makanan yang asli 100% otentik dengan makanan dari tempat asalnya, baiklah….ternyata bukan hanya itu saja…….

bagaimana dengan percakapan sehari-hari dengan mereka ?

“Apa kabar, pak, bu…sehat ?”

“baik”

“keluarga di sana bagaimana ?”

“baik”

“Pekerjaan disana apa aja ya…?”

“baik”

“Sukanya makan apa ya ?”

“baik”

#hening

TERNYATA GA NGERTI BOSO INDONESIAH….YA TUHAN

Pada awalnya saya pikir mereka saja yang berasal dari luar kota yang akan mengalami gegar budaya ini…ternyata saya sangat, sangaaaatt salah !!! sampai pada saatnya giliran saya yang bertamu ke tempat kediaman mereka.

Setelah menempuh perjalanan darat….ya, catat ya : BERHARI-HARI PERJALANAN DARAT, akhirnya saya merasakan juga bagaimana beratnya para tamu saya itu harus menempuh perjalanan yang begitu jauhnya hanya untuk bertandang ke rumah saya ! ya, tentu saja secara fisik sangat melelahkan, belum lagi saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi di tempat yang asing ini.

Pada awalnya saya sangat terkesan dengan keramahan sambutan mereka, sepertinya mereka sangat mempedulikan semua apa yang saya lakukan, heheee….asik juga dapat perhatian seperti ini, harus saya akui keakraban seperti ini sudah mulai agak sulit dicari ditempat asal saya.

Sampai pada saatnya saya harus melepaskan hajat yang terpendam.

hmmm….dalam benak saya akan ditunjukkan ke arah sungai yang terdekat, namun ternyata mereka sudah memiliki sendiri dibelakang rumahnya ! wow! suatu revolusi yang sangat signifikan ! untuk ukuran disana yaa……

Eehhh….ternyata mereka memiliki kakus yang letaknya bersebelahan dengan dapurnya, dalam satu ruangan itu kita bisa melakukan berbagaimacam aktifitas ; mencuci baju, memandikan anak, menanak nasi, memasak lauk…..bahkan mandi ! dan untuk urusan melampiaskan hajat, ada ruangan kecil yang hanya disekat oleh seng, dan bentuk kakusnya bukan semacam toilet duduk atau jongkok ya, tapi hanya lubang saja…..lebih detailnya ada digambar yang saya buat ini :

Dan seng yang membatasi kakus dengan dunia luar itu….ehem….TIDAK MEMILIKI ATAP YAAA……jadi setiap kali hujan, bisa saja orang yang sedang berkonsentrasi mengejan akan basah kuyup diguyur air hujan, lumayan deh, sambil membuang hajat sambil mandi hujan juga ! :mrgreen:

Saya pikir saya tidak akan pernah menggunakan kakus ini selama saya berada disitu, jadi ya saya usahakan menahan hajat saja sekuat mungkin…..ternyata pada suatu malam yang dingin….DAN HUJAN, panggilan alam itu datang, dan saya terpaksa berlari ke kakus yang gelap itu, menimba air dulu dari sumur, kemudian menuangkannya ke dalam ember, dan….sambil berpayungan saya melampiaskan hajat saya kedalam kakus itu……oh Tuhaaaaan……………..

Pada saatnya tiba waktu saya untuk pulang kembali, saya agak heran dengan reaksi tuan rumah dan anggota keluarganya, mereka menangis saat kami akan pulang ! saya heran juga, karena dalam pikiran saya toh tahun depan kita masih ketemu lagi ? kenapa harus sesedih itu ? bahkan jika ada yang pergi naik haji pun sudah tidak ada yang menangisi lagi ! benar-benar baru kali ini saya melihat ada “pelepasan” yang mengharu-biru penuh dengan air mata……ya ampun ! 😥

Ternyata baik yang tinggal di kota maupun dipedalaman, semuanya akan mengalami gegar budaya jika “dilemparkan” keluar dari habitatnya, kita adalah umat yang terbentuk dari berbagaimacam suku bangsa, dengan adat-istiadat yang berbeda juga bahasa yang berbeda, sangat banyak hal-hal yang dapat dipelajari dengan pertukaran budaya ini, bahwa ternyata masih banyak nilai-nilai yang berharga didapatkan dari hasil pertukaran budaya ini, hehehe 😀

Oh ya, mandi di kali itu enak sekali lhoo 😉

Stieg Larsson ~ penulis “The Millenium Series”

“There are no innocents. There are, however, different degrees of responsibility.” Lisbeth Salander

Blomkvist and Salander

Blomkvist and Salander

Sebetulnya ada beberapa jenis buku yang saya paling hindari – selain buku novel drama percintaan tentunya yah! ( jangan pernah berharap saya akan mengulas twilight ya, kecuali kalau saya sudah tidak waras lagi, heheee….) ….yaitu buku drama thriller yang terlalu sadis dan bernuansa kelam, terus terang saja sulit buat saya untuk menghapuskan bayangan yang menari di dalam benak saya setelah membaca novel seperti itu.

Lalu munculah trilogi “The Girl with Dragon Tattoo” , bahkan di negri asalnya, Swedia, trilogi ini sudah difilmkan juga lho, namun sampai saat itu saya masih belum tertarik membaca buku ini hingga saya menemukan artikel tentang penulisnya, Stieg Larsson (1954 – 2004 ) dari salah satu blog, ternyata penulisnya meninggal tepat setelah mengirimkan naskah novel pertamanya !  menarik juga…..dan akhirnya karena penasaran maka saya malah jadi membaca bukunya, kebetulan disini sudah beredar dua dari tiga buku trilogi tersebut.

Jadi begini, “The Girl with Dragon Tattoo” atau disebut juga The Millenium Series adalah trilogi, yaitu yang pertama ya The Girl with Dragon Tattoo, trus yang kedua adalah The Girl Who Played with Fire, dan yang terakhir adalah The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest……

Setiap kali saya membaca suatu tulisan, tidak pernah tidak terbersit dalam benak saya ; Apa pesan yang hendak disampaikan oleh sang penulisnya ?

Pertama……siapakah Stieg Larsson ?

Stieg_Larsson

Stieg Larsson

Penulis trilogi Girl with Dragon Tattoo atau disebut juga The Millenium Series, adalah seorang jurnalis dan aktifis dari swedia, jauh sebelum dia memulai kariernya sebagai penulis, Larsson sudah terkenal sebagai aktifis anti-rasis dan dia pernah melakukan penelitian independen terhadap aktifitas “right-wing” di swedia, dan karena ia telah mengekspos “extreme right and racism” dalam partai demokrat swedia, selama bertahun-tahun Larsson dan pasangannya Eva Gabrielsson terus-menerus hidup dalam ancaman mati, hingga hal ini yang menyebabkan mereka tidak pernah menikah, karena jika seseorang di swedia menikah, akan membuat data-data pribadi mereka terbuka kepada publik.

Mungkin karena backgroundnya inilah yang membuat Larsson menjadikan anti-semit dan anti-rasis sebagai tema dalam bukunya yang pertama ; The Girl with Dragon Tattoo…tokoh antagonisnya ( gak saya sebutkan namanya disini, nanti kalau ketahuan siapa penjahatnya kan gak seru dong, hehee ) adalah sosok yang sangat anti-semit.  juga disepanjang buku pertamanya ini dipenuhi dengan tema anti kekerasan terhadap perempuan, ternyata Larsson dulunya waktu masih remaja pernah menjadi saksi “gang-rape” terhadap seorang perempuan bernama Lisbeth, dan Larsson tidak pernah memaafkan dirinya karena tidak mampu menolong gadis itu – yang kemudian namanya diangkat menjadi tokoh utama dalam trilogi ini.

Memang harus saya akui The Girl with Dragon Tattoo sarat dengan tema-tema kekerasan, terutama terhadap perempuan, bahkan ada beberapa bagian dari buku itu yang cukup membuat saya terperangah dan berhenti membacanya untuk sesaat karena tidak sanggup untuk meneruskannya ! Jadi bagi yang merasa mempunyai hati yang lemah dan sensitif…..mungkin ada baiknya tidak usah membaca buku ini deh, huhuhuuuu…..penuh dengan kekerasan !

Jadi Larsson telah sukses mengangkat tema anti kekerasan terhadap perempuan dan Anti-Semit sebagai tema dalam buku pertamanya….lalu bagaimana dengan buku keduanya ?

Dalam The Girl who Played with Fire, memang masih melanjutkan cerita dari buku pertamanya, namun kali ini hampir separuh dari buku ini para tokohnya terlibat dalam pengungkapan kasus perdagangan wanita dan pelacuran, yang jelas-jelas dibeking oleh para aparat pemerintahan hingga sepertinya mustahil untuk menghapuskan kasus trafficking ini, jadi intinya ; sudah lama negara-negara di eropa ini “memasok” para wanita dari negara-negara miskin, yang kemudian mereka dijerat dalam pelacuran, hingga mereka tidak bisa keluar dari jeratan itu lagi, karena demikian banyaknya pihak yang ikut mengambil keuntungan dari bisnis ini, maka bisnis perdagangan dan pelacuran ini tetap terus berkembang.  Saya jadi ingat, Paulo Coelho juga pernah mengungkapkan kasus trafficking di benua eropa ini dalam novelnya “Eleven Minutes”, tapi tidak segamblang dan sedetail jika dibandingkan dengan yang diungkapkan oleh Larsson dalam buku keduannya ini.

Jadi, siapa bilang bahwa negara-negara maju itu beradab dan membela HAM, jika dibalik itu semua itu mereka masih melegalkan perdagangan manusia……kejam dan biadab !

Sayangnya saya belum membaca buku terakhirnya, semoga saja ekpekstasi saya terhadap buku ketiga ini tidak berlebihan, karena dua buku sebelumnya sudah sangat luar biasa memukau, hingga tidak berlebihan jika trilogi ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya baca – terlepas dari nuansa kekerasan yang memenuhi buku ini ya……

Oh ya, setelah difilmkan dalam versi swedianya….trilogi ini akan muncul film versi Hollywoodnya diakhir tahun ini, dibintang oleh Daniel Craig, tapi entah kenapa saya gak tertarik sih, paling ya gitu-gitu aja sih, heheee.

Stieg Larsson telah tiada dan meninggalkan warisannya ; trilogi Millennium series, yang sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan dan anti kekerasan, juga penuh dengan makna perjuangan untuk membela keadilan dan kebenaran, dalam bentuk yang sederhana dan tidak berlebihan namun plotnya dikemas dengan sangat jenius…..sayangnya, partnernya Eva Gabrielsson, karena tidak menikah dengannya, maka dia tidak mendapatkan royalti dari keuntungan Millennium Series ini, padahal menurutnya mereka mengerjakan trilogi ini bersama-sama…..kasian ya…. 😦

Entah kenapa saya kok jadi mikir kenapa Larsson meninggal setelah mengirimkan naskah novel ini ya ? jangan-jangan………..heheheeee

“Everyone has secrets. It’s just a matter of finding out what they are”

Lisbeth Salander

Lisbeth Salander