Dukuh Paruk ~ simbol kebodohan suatu kaum

Penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit. Hanya dituntut oleh nalurinya, Srintil mulai menari. Matanya setengah terpejam. Sakarya yang berdiri di samping Kartareja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan kata-katanya, bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng.

Selama menari wajah Srintil dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton, banyak yang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil mampu melentikkan jari-jari tangan, sebuah gerakan yang paling sulit dilakukan oleh seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak dan cabul. Suara “cesss” tak luput pada saat Srintil menggoyang pinggul.

Penggalan dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan A. Tohari, yang baru-baru ini diangkat ke layar lebar dengan judul “Sang Penari”, mencerminkan kekentalan sisi ‘cabul’ dan ‘kualitas novel stensilan’ dari novel ini, bahkan pada awalnya saya sangat mual dan kesal setelah membaca buku pertama dari trilogi ini, Surat untuk Emak, hingga saya langsung mendelete ebook-nya. Tapi kemudian saya pikir tidak adil rasanya kalau saya menilai buku trilogi ini hanya dengan membaca satu buku pertamanya saja, hingga saya memutuskan untuk membaca kedua buku berikutnya ; Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentara Bianglala.

Dan saya ternyata tidak salah, justru alur cerita mulai bergulir menarik dalam kedua novel tersebut, setelah kepergian Rasus dari Dukuh Paruk meninggalkan Srintil yang berkubang dalam kepedihannya karena penolakan Rasus atas tawaran pernikahannya, Srintil menyadari bahwa dibalik semua keberhasilannya menjadi ronggeng yang dipuja-puja seluruh warga dusun Dukuh Paruk, terselip hasrat mendalamnya sebagai wanita normal untuk berkeluarga dan memiliki anak – yang tidak mungkin diperolehnya karena ia telah mengambil jalan untuk meronggeng.

Ini sebetulnya agak aneh, karena menurut kacamata wanita lain, Srintil telah memiliki semuanya ~ untuk ukuran dusun terpencil itu ; uang, kecantikan, ketenaran dan menjadi dambaan semua pria. namun dia mendambakan kehidupan berumahtangga dengan laki-laki yang malah menjauh darinya. Sisi keibuan Srintil semakin menonjol saat ia mengadopsi anak tetangganya menjadi anaknya sendiri, suatu ironi bahwa menjadi ronggeng telah menyebabkannya tidak bisa mengandung bayi dalam rahimnya.

Kebodohan dan keterbelakangan Dukuh Paruk selanjutnya telah membawa nasib dusun ini terseret dalam badai politik pada tahun 1965, Dukuh Paruk yang naif dan lugu tidak paham mengapa mereka dibumihanguskan dan mengapa seorang Srintil yang tidak berdosa harus menjadi tahanan selama bertahun-tahun.

Namun Dukuh Paruk yang bodoh ini seperti tidak belajar dari pengalaman kelam masa-masa itu, setelah Srintil kembali lagi ke Dukuh Paruk, warga masih berharap ia masih bersedia meronggeng lagi, karena ronggeng adalah simbol Dukuh Paruk, dan Dukuh Paruk bukanlah Dukuh Paruk jika tidak ada ronggeng.

Srintil yang telah merasakan pedihnya kehidupan diluar Dukuh Paruk telah memutuskan untuk meninggalkan dunia ronggeng, ia kini mendambakan kehidupan menjadi wanita normal yang menikah dan memiliki anak-anak, sambil menyisakan asa yang terselip pada Rasus, Srintil mencoba menggantungkan harapan terakhirnya pada lelaki dari Ibu Kota, Bajus. Sayang, seluruh perhatian Bajus terhadap Srintil bukan sebuah bentuk ungkapan kasih, namun tidak lebih dari upaya Bajus untuk memanfaatkan Srintil demi kepentingannya sendiri, setelah kepergian Bajus, kembali Srintil dilanda keterpurukan yang mendalam, semua harapannya untuk memiliki hidup yang normal seperti wanita-wanita lainnya telah pupus.

Rasus pada akhirnya kembali ke Dukuh Paruk hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa Srintil telah kehilangan akal sehatnya, Dukuh Paruk telah mengambil semua yang tersisa dari kemanusiaan Srintil.

Oh, Dukuh Paruk, dulu pun aku pernah bersumpah takkan memaafkanmu karena kau renggut Srintil dari tanganku untuk kau jadikan ronggeng. Dulu aku mengalah padamu karena kepentinganku terhadap Srintil hanya urusan pribadiku. Oh Dukuh Paruk, karena kedunguanmu maka kini Srintil hanya tinggal sosok dan nyawa. karena kedunguanmu maka kau pasti tidak merasa bahwa sesungguhnya engkaulah yang harus bertanggung jawab atas kehancuran yang luar biasa ini. Engkau yang bebal, jorok dan cabul dalam sekejab melenyapkan pesona anakmu dan melumurinya dengan kejijikan.

Apa yang hendak A. Tohari sampaikan melalui novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menurut saya adalah bukan sekedar cinta tak kesampaian antara Rasus-Srintil, bukan hanya tragedi PKI yang telah membumihanguskan Dukuh Paruk, namun lebih dari itu, yaitu kebodohan, kecabulan, keprimitifan, keterisolasian sebuah dusun yang minim dengan sumber alam, kemiskinan yang tiada berujung, dan sifat hewani dalam manusia yang membuat warga dusun itu mencari kesenangan dari ronggeng dan minuman keras, dan Srintil adalah tumbalnya, jika saja ia bisa pergi dari dusun itu bersama Rasus, mungkin nasibnya akan berbeda.

Jadi pertanyaannya ; apakah saat ini dalam kehidupan kita masih memiliki unsur-unsur keprimitifan dari Dukuh Paruk ? dalam balutan modernisasi, nafsu dan ketamakan yang sama masih mewarnai kehidupan kita.

Saya harus mengakui bahwa novel ini sangat menarik, terutama karena nuansa kejawaannya yang kental – banyak istilah2 jawa yang tidak saya pahami tapi tidak menjadi halangan untuk memahami esensi dari novel ini, juga kepiawaian A. Tohari dalam merangkai kata-kata dan mendeskripsikannya dalam gambaran nuansa pedesaan, kesadaraan dan wawasan alamnya begitu jelas terukir dalam novel ini.

Tapi saya sih tetap tidak – atau mungkin belum tertarik untuk menonton versi layar lebar dari novel ini, karena dari hasil  membaca beberapa reviewnya, saya bisa menyimpulkan bahwa filmnya hanya menitikberatkan pada unsur kisah asmara antar Srintil dan Rasus saja.

Jadi tidak ada salahnya untuk membaca novel ini, alur ceritanya cukup sederhana, dan endingnya sangat indah – walaupun tidak happy ending ya, heheee  🙂

Bulan tua sudah berada di tengah belahan langit barat. Musim penghujan mulai tiba, pertama kali membawa ribuan nyamuk ke tanah airku yang kecil. Aku tidak bisa tidur. Karena nyamuk, karena Srintil dan karena kesadaran yang pasti bahwa aku adalah anak Dukuh Paruk sejati. Aku adalah warisnya yang sah, maka sah pula hakku untuk berdiri menghalangi kedunguan puakku sendiri. aku berhak menggugurkan lahirnya ronggeng-ronggeng baru di Dukuh Paruk selama ronggeng menjadi ciri kebebasan selera manusia yang tidak tahu akan adanya Selera Agung yang transenden, dan karenanya harus diutamakan.

Puncak malapetaka sudah tiba dan aku geram bukan main karena Srintil-lah yang harus memikulnya.

Aku bersembahyang, aku berdoa untuk Dukuh Paruk agar dia sadar dan bangkit dari kebodohannya. Dengan air mata berjatuhan aku memohon kepada Tuhan kiranya Srintil mendapat kesempatan kembali untuk memanusia dan mampu memahluk.

Advertisements

The Tweakers ~ bangsa pencuri

Pada pertengahan 8o’s saat Microsoft baru meluncurkan Windows dengan GUI (Graphical User interface ) Steve Jobs sangat murka pada Bill Gates hingga memanggilnya ke headquarters Apple, dan berkata pada Gates ; “Saya mempercayaimu dan kini kamu mencuri ide GUI dari kami !”

Gates dengan tenang membalas, “Saya pikir kita harus melihat hal ini dari sisi lain ; ini seperti kita memiliki tetangga yang kaya bernama Xerox, kemudian saya menyelinap ke dalam rumahnya untuk mencuri televisinya namun ternyata seseorang sudah mencurinya”

Itu adalah penggalan kutipan dari biografi Steve Jobs yang dikarang orang Walter Isaacson, yang menunjukkan bahwa permainan curi-mencuri ide adalah hal yang lazim atau mungkin bisa dimaafkan ~ terutama jika ide yang dicuri itu bisa dikembangkan lebih baik lagi dari ide orisinilnya seperti yang dilakukan baik oleh Jobs maupun Gates……dan gara2 mereka berdua, sampai hari ini kita hanya tahu bahwa Xerox itu adalah merk mesin Fotocopy, bukan perusahaan yang pernah membuat inovasi dengan menciptakan komputer berbasis grafis pertama.

Saya bukan hendak membahas apakah Gates atau Jobs salah dengan melakukan hal itu, toh kenyataannya dunia telah banyak berubah karena inovasi2 mereka, dan hal itu tidak bisa dipungkiri lagi, apa yang dilakukan Jobs dan Gates adalah suatu hal yang melampaui dari hanya sebatas keahlian “membajak karya orang lain” namun juga “memperbaikinya dan membuatnya jauh lebih baik”

Sepanjang perjalanan sejarah manusia, urusan curi-mencuri ide maupun ilmu ternyata ternyata adalah suatu hal yang  bisa meningkatkan kemajuan suatu peradaban, Malcolm Gladwell memaparkan hal ini dalam kolomnya di NewYorker ; The Tweaker , bahwa ternyata Revolusi Industri di Inggris terjadi karena ada sekelompok orang “kreatif” yang mencuri ide dari yang lainnya (bisa juga dari negara lain) dan kemudian membuatnya lebih baik, selain itu sebetulnya saat ini banyak negara2 yang melakukan hal serupa dan mereka menjadi maju karena teknik “mencuri” itu.

Apa yang dibahas Gladwell dalam artikel tersebut sebetulnya beresiko memancing amarah dari para Apple Fanboy ya, karena banyak menampilkan sisi “gelap” si bos Apel itu, tapi sebetulnya inti dari artikel tersebut lebih menekankan pada tabiat “mencuri” yang sangat kental dalam sejarah umat manusia, hingga saya jadi bertanya-tanya ; Apakah untuk menjadi bangsa yang maju, kita harus mengesampingkan moralitas dan membabi-buta mencuri ide orang lain, kemudian mengklaimnya untuk kepentingan sendiri ?

Sebagai contoh saja yang sederhana, dalam industri fashion kita sudah sangat lazim kultur “contek-mencontek” model busana, bahkan saking keterlaluannya, ada yang dengan tega menjiplak plak-plak-blas-blas mirip abis dengan desain orisinilnya ! halah ! 😦

Mungkin ini adalah kenyataan kelam dalam sejarah kita, bahwa kadang kala untuk maju, beberapa orang atau bangsa dengan tega mencuri ide dari orang lain, mengklaimnya dan mendapatkan keuntungan yang besar dari hal itu. dan kita memaafkan hal itu karena kita tidak bisa memungkiri bahwa hal itu telah membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Saya teringat pada salah satu episode Star Trek TNG, ada seorang tokoh bangsa Vulcan yang berkata ; “Saya tidak paham mengapa bangsa manusia masih bertahan dan tidak punah, mereka bangsa yang Manipulatif, egois, penuh emosi, tidak logis dan tidak bisa dipercaya.”

hmmm…..Mister Vulcan, mungkin hal itu justru yang membuat manusia bisa bertahan, no ? 😀

Arti sebuah nama

What’s in a name ? ~ Shakespeare

iya, apa sih nama itu ? bagi sebagian orang nama hanya untuk panggilan saja, yang membedakan kita dengan 7 milyar manusia lainnya di bumi ini, walaupun ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama…..dan sebagian lagi menyisipkan doa atau harapan saat memberikan nama kepada anak-anaknya.

Nama tentunya diberikan berdasarkan latar belakang historis ataupun asal-usul keluarga yang bersangkutan, misalnya yang memiliki nama Muhammad sudah dipastikan berasal dari keluarga Islam ( ya iyalaah ) atau bisa saja dalam beberapa kejadian pemberian nama dipengaruhi oleh trauma historis yang mengakibatkan suatu suku berusaha menghilangkan identitasnya

contohnya ya lihat saja nama saya yang tertera diblog ini, jika orang awam yang tidak kenal dengan saya pasti menerka saya ini entah dari mana atau berasal dari India gitu…… (tepok2 jidat ) entah sudah tidak terhitung berapa kali saya harus menjelaskan bahwa saya ini memang bernama India, tapi saya bukan orang India……….!!!!     😥

oh ya, bukan hanya itu saja, beberapa kali di imigrasi saat melancong, saya biasa ditanya ; why you have Christian name but you’re a Moslem ??? (FFuUUUuuuuuu……..) 😦 😦 😦

Alhamdulilah saya pake jilbab ya, jadi ketahuan saya ini Islam toh, kalo gak saya mungkin sudah diajakin minum2 di pub atau makan baby…. (ups!)

memang di suku saya yang terletak disebelah barat pulau sumatra pernah beberapa kali mengalami semacam trauma historis, yang menyebabkan para orang tua merasa perlu menghilangkan identitas kesukuannya dengan cara memberikan nama-nama asing pada anak-anak mereka, atau mungkin juga dipengaruhi oleh dorongan adat merantau yang sangat kuat hingga pemberian nama yang bersifat internasional diharapkan akan membuat anak-anaknya cepat beradaptasi dengan dunia diluar sana……..eh, kalau ada yang mau mengkoreksi, ya silakan saja, sebab ini hanya hipotesa saya sendiri berdasarkan pengamatan yang terjadi disekeliling saya.

Dan maka dari itu, bukan hanya saya saja yang merasakan memiliki nama asing ini, tapi hampir seluruh generasi yang seangkatan dengan saya, ada family saya yang memiliki nama dari salah satu aktor James Bond, ada juga yang diberi nama oleh orang tuanya dengan nama “Lady Diana” (epic facepalm ) atau juga ada yang diberi nama dengan nama asing yang sudah “diindonesiakan” seperti pada gambar ini…… 😀

Untungnya saat ini kecenderungan memberi nama asing perlahan-lahan sudah mulai ditinggalkan oleh suku ini, tapi beberapa orang tua tetap berusaha memberikan nama yang “agamis-tapi-internasional”, misalnya teman-teman anak saya ada beberapa yang diberi nama “Zidane”, ya itu memang aslinya nama islam sih……asalnya dari “Zainuddin”…..hihihiiii 😛

Dan saya sendiri sih kalau disuruh ganti nama ya gak mau deh, karena gak mau repot aja, dan selain itu saya bisa mengeja nama ini dengan baik dan benar (uhuk) ………juga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari username atau domain…..ya karena yang pakai kombinasi nama aneh ini mungkin jarang atau bahkan tidak ada ! 😀

A rose by any other name would smell as sweet ~ Shakespeare

Dan Malaikat pun bertanya……..

Alkisah setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Dia mengumpulkan para malaikat dan menunjukkan ciptaan-Nya, para malaikat terpana……hingga akhirnya mereka bertanya ; “Mengapa ?”

Malaikat , menurut tafsir adalah mahluk terbuat dari cahaya yang senantiasa patuh dan tunduk pada-Nya, melontarkan pertanyaan seperti demikian adalah suatu hal yang sangat tidak lazim, sungguh tidak kemalaikatan…….mengapa ? ada beberapa yang menafsirkan kemungkinan dahulu kala Tuhan pernah menciptakan mahluk serupa seperti manusia dan akhirnya musnah karena sifat2 kemanusiaan yang ditanamkan Tuhan kedalam mahluk itu, dan sekali lagi Tuhan menciptakan mahluk seperti ini.

Namun Tuhan menyanggah bahwa Dia lebih tahu apa yang akan terjadi…..hingga akhirnya seluruh malaikat tunduk dan terdiam….tidak membantah lagi.

Apakah Tuhan mengambil resiko dengan menciptakan mahluk ini ? dengan semua sifat2 kemanusiaannya, hitam, putih dan abu-abu….menciptakan manusia bisa jadi merupakan gambling terbesar yang dilakukan-Nya.

ya, tentu saja bukan gambling bagi-Nya karena hanya Tuhan yang memiliki kemampuan untuk menghitung dan menentukan masa depan.

Sepanjang sejarah manusia, kemampuan meramal masa depan adalah merupakan misteri yang paling sulit dipecahkan, bahkan ada yang membuat kesimpulan bahwa siapa saja yang sanggup meramalkan masa depan maka dia sudah sanggup menyamai kemampuan Tuhan.

Banyak ahli filsafat dan matematikawan berupaya merumuskan cara untuk menghitung probabilitas dari kejadian2 yang tidak terduga, namun sejauh ini semuanya hanya dapat membuat kesimpulan berdasarkan dari kejadian yang sudah pernah terjadi, bukan meramalkan apa yang akan terjadi esok.

Blaise Pascal merumuskan perhitungan probabilitas atas kejadian2 yang tidak terduga ; le pari du pascal, Nassem Taleb dengan teori Black Swan yang mengacu pada kejadian2 acak atau random….namun tetap saja kita tidak bisa memprediksi apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. semua teori probabilitas hanya dapat membuat berbagai prediksi, bukan keputusan.

Kenyataannya otak kita telah menipu kita sendiri, saat kita dalam keadaaan normal kita jadi lengah dan tidak waspada, dan saat inilah kita cenderung untuk melakukan kesalahan dengan mengambil keputusan yang tidak diperhitungkan dengan benar, namun saat kita dalam keadaan siaga atau tertekan, kita cenderung untuk lebih takut dalam mengambil keputusan….atau bahkan pada akhirnya kita terlambat membuat keputusan hingga akibat dan kerugian yang ditanggung menjadi lebih besar.

Dan pada akhirnya kita sebagai manusia yang merupakan ciptaan-Nya hanya bisa berusaha semampunya, dan berikhtiar setelah membuat suatu keputusan……karena apapun yang akan terjadi esok akan tetap merupakan rahasia-Nya