Demi sebuah tradisi

Mudik adalah suatu momen yang penting ketika hari raya ini, tentu saja semua orang yang merayakannya menantikan saat2 berkumpul dengan keluarga di kampung halaman tercinta, terutama bagi mereka yang tinggal diperantauan.

Namun sebetulnya dalam ajaran agama kita, tidak ada kewajiban mudik saat hari raya ini, ya sebetulnya kita sudah tahu hal itu sih, namun dengan dalih ; “Gak enak sama keluarga” maka kita sering memaksakan diri untuk mudik, demi menjaga muka dihadapan keluarga tercinta dikampung halaman.

Bagi yang belum merasakan bagaimana luarbiasa meletihkannya mudik itu, bayangkan saja, berjuta-juta manusia dari kota2 besar berbondong-bondong pada waktu yang sama bermigrasi dari kota ke kampung halamannya, dan tentu saja kita paham bahwa infrastruktur dinegri ini masih kacau balau, banyak jalan yang rusak, airport yang tidak memadai (gak ada radarnyaaa…!! oh my goat!!) , kapal feri yang jumlahnya masih sedikit, dan sebagainya…….

Bagi yang masih single or jomblo (hihihiii…….ups! ) tentu saja mudik bukan beban…..jika dibandingkan dengan yang sudah berkeluarga dan yang sedang memiliki anak2 yang masih kecil, bayangkan saja bagaimana rasanya memindahkan satu keluarga (minus para ajudan, simbak2, babysitter2, mas2 supir, kang sayur, pak satpam, dkk) dari kota ke suatu tempat terpencil yang disebut kampung halaman………..

Jika saja kita bisa menolak untuk mudik, tentu bisa lebih menghemat pengorbanan energi, waktu dan biaya……jika saja bisa……

Waktu sahur tadi saya membaca sebuah artikel tentang seorang bayi 2 bulan yang meninggal saat sedang mudik, oh Tuhan……baru 2 bulan ? dan si bayi itu sedang sakit diare, astaga ! saya gak tahu apa orang tuanya paham bahwa bayi berusia 2 bulan sangat rentan terhadap berbagaimacam penyakit, dan penyakit sepele ~ bagi kita, seperti diare ini sebetulnya sangat fatal bagi bayi yang masih kecil itu.

Beberapa tahun yang lalu, salah seorang asisten saya hendak mudik sambil membawa anaknya yang masih bayi dengan motor ! saya langsung menentang keras, yang saya pikirkan bagaimana kesehatan si bayi itu setelah menempuh perjalanan berjam-jam dengan motor, namun ternyata si mbak tidak bisa menolak ajakan mudik oleh suaminya ; “Saya gak enak, apa kata orang2 dikampung nanti kalau saya gak mudik ? gak enak juga sama keluarga suami…..” dan si suaminya itu tidak mau membelikan istrinya tiket bus, demi berhemat beberapa puluh ribu rupiah, mereka nekat pulang kampung naik motor dengan membawa bayinya itu. ย Walhasil, setelah pulkam, si bayi sakit2an, dan kehilangan banyak berat badannya.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya sekitar 9 tahun yang lalu….saya pun dalam kondisi yang kurang lebih sama dengan simbak, dimana saya tidak dapat menolak ajakan mudik, dengan alasan “Gak enak sama keluarga” itu, pada saat itu anak saya yang pertama baru berusia beberapa bulan (kurang dari setahun) , sedangkan kampung halaman yang dituju harus ditempuh paling cepat ; dua jam penerbangan plus perjalanan seharian penuh dengan kendaraan !

Singkatnya, selama perjalanan ~ mulai dari awal sampai akhir, anak saya menderita, berbagaimacam penyakit ; flu, pilek, batuk, muntah, mencret, demam…….nauzubillahminzalik……satu penyakit saja sudah bikin saya panik ! ini anak saya menderita semuanya ! dan saat itu kami sedang berada dinegri antah-berantah, dan karena sedang lebaran season ; tidak ada rumah sakit yang buka, semua apotik tutup, dan kami harus menggedor pintu rumah seorang dokter dan memohon supaya beliau mau mengobati anak saya……saya tidak bisa berhenti menangis saat itu, menyesali mengapa saya tidak berusaha lebih egois sedikit, menolak mudik demi kebaikan anak saya juga.

Seharusnya hari raya menjadi momen yang menyenangkan bagi setiap anggota keluarga, dimana setiap anggotanya merasakan kehangatan dalam kebersamaan tersebut. namun jika semuanya dilakukan karena keterpaksaan, demi sebuah tradisi, maka apakah kita bisa mendapatkan makna dari hari raya tersebut ?

Saya berharap, setidaknya pemerintah bisa lebih tegas terhadap para pemudik yang membawa bayinya, kalau bisa dilarang saja, tapi tentunya pemerintah tidak mungkin bisa melakukan hal itu jika para pemudik itu sendiri yang bersikeras untuk membawa bayinya ikut mudik.

Jika saja para bayi2 yang lucu2 itu sudah bisa berbicara, apakah mereka mau ikutan mudik juga ?

Semoga Berkah dan Rahmat-Nya dilimpahkan kepada kita semua

Happy Ied Mubarak…………..

sumber :

http://news.okezone.com/read/2011/08/27/338/497240/bayi-meninggal-karena-dipaksa-mudik-saat-sakit

Advertisements

5 comments

  1. dianaayunindita · August 28, 2011

    Aslm..
    Dear Miss Susan Devy,

    This is Diana, member of UI TM Club. How do you do?
    Long time no see, so i’m kinda miss you..
    I love your writings & your blog has became my favourite!
    If you do not mind, could I link your blog to mine?
    my blog is : dianaayunindita.wordpress.com.
    but I rarely writing in my blog, so I should motivate myself & learn more..

    Thank you..
    Keep up the good work of yours!

    Sincerely yours,

    Diana

    • susandevy · August 28, 2011

      Dear TM Diana,

      how do you do too ! long time no see ! ๐Ÿ˜€
      thanks for reading my blog, btw I just read your blog too, and I simply love it !
      you’re not just a talented public speaker but also a a talented writer ! Wow ! ๐Ÿ™‚
      so then I hope to see you soon, perhaps in this speech contest season in september ?

      thanks again!
      cheers ! ๐Ÿ˜‰

  2. agus sumarna · September 5, 2011

    setuju dengan bu Susan, kami pun demikian, tidak memaksakan pulang kampung saat iedul fitri karena memang membuat banyak mudharat,toh sirraturrahmi bisa dilakukan kapan saja.

    pointnya adalah:

    1. Jika memiliki anggapan sirraturrahmi itu paling afdhal saat Ied, maka ini anggapan yang salah

    2. Jika memang bersirraturrahmi pada saat ied tsb adalah saat yang tepat karena waktu lain tidak mungkin,maka lakukanlah dengan niat sirraturrhmi tsb.

    3. kalau sakit, apalagi membawa bayi,mengendarai motor pula, maka mudharatnya mungkin lebih besar dari manfaatnya. atau mungkin sampai bela belain ngutang,dsb demi kata-kata “Tidak Enak kalau tidak pulang”, maka itu sama saja dengan memberatkan diri.

    Wallahu A’lam bisahawab

  3. Remo Harsono · October 17, 2011

    tar biasanya kl udah dilarang tetep ada ajja yg melanggar, krn adanya peraturan memang untuk dilanggar kali ya ๐Ÿ˜€

    • susandevy · October 18, 2011

      ya, sayangnya kalau tidak dari kesadaran sendiri, hal yg seperti ini terus berulang lagi ya ๐Ÿ˜ฆ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s