Size DOES matter (?)

“Saya gak bakalan mau sama yang kecil !”

Saya terperanjat, hampir saja cairan kopi yang masih tersimpan dimulut saya tersembur keluar, gara2 mendengar pengakuan teman saya saat sedang membahas “alat” kaum pria.

beberapa hari yang lalu pun saya juga mendengarkan pengakuan yang mirip sama dengan ini, dari teman yang berbeda. Ada apa sebetulnya dengan kaum wanita hari ini ? apakah mereka sudah memandang pria dari segi fisik saja ? apakah kita sudah hidup di zaman dimana kaum pria dipandang sebagai “mesin seks” ?

“Jangan mau beli kucing dalam karung !”

“Kalau bisa sebelum dipakai, pegang dulu atau dilihat dulu !”

halah !

tepok2 jidat

Saya betul2 seperti mengalami kemunduran logika, jika memang hal-hal fisik lebih dipentingkan ; kaum pria mencari wanita yang berfisik sempurna dan begitu pula dengan kaum wanita yang mendambakan pria yang sempurna luar-dalam ( kaya, pintar, terkenal dan…… memiliki “barang” yang cukup besar) maka apakah memang disitu letak kebahagian ?

oh tidak, saya salah…..kebahagiaan memang tidak akan pernah diukur dari hal2 kasat mata seperti itu, semua orang pun sudah tahu hal itu, namun semua orang mengejar “kesempurnaan hidup” mulai dari barang mewah, kekayaan yang berlimpah, ketenaran, dan juga tentunya ; pasangan hidup yang sempurna.

baiklah, kembali ke point semua, barangnya para lelaki

jika memang ukuran itu penting, saya pernah mendengar gosip tentang salah satu tokoh yang katanya bercerai karena urusan ukuran ini, jadi begini karena barangnya suaminya tidak memuaskan, maka sang istri mencari “kepuasan” kemana-mana, sang suami membiarkannya saja, mungkin dia tahu bahwa dia tidak akan pernah mampu memuaskan istrinya, dan akhirnya pernikahan mereka berakhir, sang istri menggugat cerai si suami, karena ingin menikah dengan pacarnya, sang suami menceraikannya dengan memberikan juga sebagian hartanya.

Saya tidak pernah tahu apakah kabar burung itu memang betul, ya namanya juga kabar burung, kesahihannya tidak dapat dibuktikan ya ?

Intinya adalah saya sangat menyayangkan bahwa saat ini kecenderungan untuk mengukur kenikmatan dan kebahagiaan disangkut-pautkan pada hal2 yang sedemikian rendahnya, perhaps just a shallow person who tends to measure everything physically.

bayangkan, jika saat ini kaum wanita mengukur kepuasan dari perangkat kaum lelaki, padahal kita sudah sangat benci dan muak dengan kelakuan para lelaki yang menilai wanita dari segi fisiknya saja ; apakah dadanya cukup besar, atau apakah dia berkulit putih dan langsing, bla bla bla……..

Bagi saya, orang2 yang masih berfokus pada hal-hal yang tidak cukup penting itu, sebetulnya karena hidupnya sudah terlalu demikian sempurna, hingga pada saat mereka mendapatkan “barang” yang tidak mampu memuaskan mereka, tentunya mereka harus menggantinya dengan barang yang lain yang jauh bisa lebih memuaskan mereka.

masih banyak di dunia ini hal-hal lain yang jauh lebih menarik, kepuasan bukan hanya pada aktifitas fisik itu yang hanya beberapa menit saja, jadi mengapa seakan-akan dunia hanya berputar pada urusan syahwat ?

Pelajari hal-hal yang baru, buka wawasan, pergi berkeliling dunia, bertemu dengan orang-orang baru…….

nah, masih banyak hal-hal yang menarik selain urusan barang , betul ? 🙂

Firdaus yang Dipoles

“One cannot divine nor forecast the condition that will make the happiness ; one only stumble upon them by chance, in a lucky hour, at the world’s end somewhere, and hold fast to the day as to fortune or fame…….”  Willa Carther, Le Lavandou 

Satu hal yang paling saya sukai dari bertemu dengan seseorang yang baru saya kenal adalah mempelajari hal-hal baru dari pengalaman hidup orang tersebut, itu sebabnya saya suka bertanya tentang apa yang sedang mereka lakukan untuk memperoleh pencerahan dari orang-orang tersebut.

Dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan seorang gadis muda yang mungil, sederhana namun ceria dan kelihatan cemerlang, setiap kali saya menjabat tangannya saya merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya tersebut, namun saya tidak berani bertanya kepadanya apa yang menyebabkan tangannya senantiasa berkeringat seperti itu, sampai akhirnya dia mengungkapkan hal tersebut saat dia sedang menceritakan kisahnya, “saya harusnya tidak berumur panjang, dokter meramalkan hidup saya tidak lebih dari dua puluh tahun, namun sampai saat ini saya bersyukur masih bisa melakukan apa saja yang bisa saya lakukan…..”

Karena jantungnya yang lemah semenjak ia lahir, maka gadis itu memiliki banyak keterbatasan, saat gadis remaja seumurannya sedang bersenang-senang menikmati hidupnya, dia harus tetap tinggal diam dirumahnya, kegiatan fisiknya harus dibatasi demi kesehatannya, serangkaian operasi harus dijalaninya dan ia harus mengkonsumsi obat-obatan untuk menjaga kesehatannya, namun gadis itu mempunyai mimpi, dan ia berusaha mencapai dan mewujudkannya sekuat tenaganya, singkat cerita akhirnya dia berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri paling favorit dan baru saja terpilih menjadi salah satu perwakilan student exchange programme, ia akan diterbangkan ke australia, suatu kesempatan yang langka bagi gadis sederhana sepertinya. 

Saya terpana dan tersentuh mendegar ceritanya, jujur tentu saja masih banyak cerita yang penuh inspirasi lainnya yang sudah pernah saya dengar sebelumnya, namun kisah sederhana dari teman saya yang mungil dan ceria ini sungguh sangat menyentuh hati saya yang paling dalam.

Kita semua senang mendengarkan cerita sukses dan penuh inspirasi dari tokoh terkenal dan sukses, dan kadang kala kita membayangkan betapa enaknya jika kita bisa sukses, tenar dan bergelimangan harta seperti orang-orang tersebut. Namun apakah kebahagiaannya itu terletak pada kesuksesan, ketenaran dan kekayaan ?

Pertanyaan ini terus menghantui saya, dan tentu saja seperti orang lain, saya juga memahami bahwa kebahagiaan itu bersifat relatif dan merupakan suatu pilihan, bukan kondisi sekitar kita yang mengaturnya.

Kebetulan sekali saya sedang membaca buku “Stumbling on Happiness” oleh Daniel Gilbert, buku ini sebetulnya sudah lama saya beli dan karena terlalu ilmiah dan bertele-tele maka saya selalu menunda membacanya sampai habis, namun ada satu bab yang sangat mengena, bahkan membuat saya terkesiap dan menjadi “why didn’t I think of this before ?”

Pada bab itu disebutkan ; lupakan pil-pil vitamin, bedah plastik, dan barang-barang mewah lainnya, jika anda ingin lebih bahagia dan sehat, cobalah teknik baru yang mampu mengubah diri anda yang saat ini pemarah, egois dan bodoh menjadi pribadi yang cerah dan dipenuhi kebahagiaan…….sungguh kita harus percaya bahwa orang-orang yang mengalami tragedi, musibah, kehilangan pekerjaan, terjangkit penyakit yang serius, kehilangan kebebasannya…….namun entah bagaimana telah mengalami penyempurnaan dalam hidup mereka berkat tragedi-tragedi tersebut.

Dalam bab itu juga disebutkan bahwa ternyata hanya sebagian kecil dari orang yang tertimpa musibah menjadi depresi, sebagian besar dari mereka justru berkembang menjadi pribadi yang tahan banting setelah mengalami beberapa kejadian yang traumatik, bahkan para korban tersebut mengakui bahwa kejadian tersebut justru malah menyempurnakan hidupnya.

Hal ini sangat sulit kita percaya, maksud saya bagaimana mungkin orang yang terpenjara malah jusrtu merasa mendapatkan “pengalaman hidup yang luar biasa” atau orang yang tiba-tiba menjadi cacat malah justru merasa “hidupnya jauh lebih bermakna” ?

Selama ini saya percaya bahwa Tuhan memberikan ujian yang berbeda pada masing-masing orang, ada yang diuji dengan kesuksesan dan ketenaran, namun ada juga yang diuji dengan kemalangan, kesedihan, kehilangan, kelaparan dan kemiskinan………namun bentuk ujian yang manakah yang bisa lebih membuat diri kita jauh lebih baik ?

Teman saya yang mungil dan ceria itu telah membuktikan bahwa keterbatasannya justru malah memacu dirinya untuk lebih berprestasi, motivasi dirinya justru berasal dari penyakit jantungnya yang telah membatasi dirinya dan menyebabkan telapak tangannya terus berkeringat.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah ; apakah kita masih tetap terus berfokus pada paradigma bahwa kebahagiaan dan kesempurnaan hidup itu terletak pada kekayaan, ketenaran dan kesuksesan ? Mungkin sudah saatnya kita lebih memperhatikan teman-teman kita yang masih kurang beruntung daripada kita dan ternyata justru dari merekalah kita banyak mengambil pelajaran hidup yang bermakna.

Saya juga menemukan kutipan yang indah yang selalu akan saya ingat :

I believe that everything happens for a reason, people change so that you can learn to let go…….things go wrong so that you’re appreciate them when they’re right, and sometimes good things fall apart so that better things fall together

and guess who said that beautiful words ? …………Marilyn Monroe

lho kok si Ratu Bom Seks itu ? jangan2 dia ternyata ahli filsafat….. 😀