Patriarki, susu kotak dan mesjid di daerah pecinan

Kemarin siang saya sedang mengaso di halaman mesjid yang terletak di daerah pecinan, seperti biasa, saya memang kadang kala mengunjungi daerah itu untuk berbelanja, entah mengapa hari itu matahari bersinar menyengat, hingga membuat saya menjadi kehabisan tenaga, saya tergeletak lemas sambil mengendurkan otot-otot kaki yang tegang.

kemudian seorang balita yang manis datang menghampiri saya, tiba-tiba susu kotak yang dipegangnya jatuh dan isinya tumpah mengenai rok saya, saya tidak terkejut karena sudah biasa mengalami hal seperti itu di rumah, dengan anak-anak saya maupun dengan para ponakan.

“Duh, maaf ya, bu….. anak saya tidak sengaja, ini ambil saja tisu ini untuk membersihkannya.” si ibu anak itu datang menghampiri dengan wajah yang memelas.

“Gak apa-apa, bu…. cuman sedikit kok, lagian rok saya juga sudah kotor.” saya tersenyum sambil memberikan susu kotak itu kepada si balita.

Dan kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan seputar ibu-ibu, seperti biasa saya bertanya tentang anaknya, dan apa yang sedang ibu itu lakukan di daerah pecinan ini.

“Saya ke sini untuk membeli perlengkapan alat tulis, nantinya saya sumbangkan ke sekolah gratis khusus untuk anak-anak tidak mampu di dekat rumah saya.” si ibu menjelaskan.

Saya melirik ke ranselnya, dengan jumlah alat tulis yang hanya segitu, tentunya uang yang ibu itu belanjakan tidak banyak, dan biasanya para “ekoh” dan “enchi” tidak memberikan harga grosir jika kita hanya membeli eceran. Kasihan, ibu ini hanya dapat capeknya saja datang jauh-jauh ke sini, membeli alat tulis yang jumlahnya tidak seberapa, sambil menggendong anaknya juga, pikir saya.

Kemudian saya bertanya apa yang memotivasi dia untuk melakukan hal seperti itu, apa yang mendorongnya terlibat dalam kegiatan sosial.

“Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang sederhana, namun bagi saya nilainya sangat berarti, walaupun hanya ini yang bisa saya lakukan.” jawabnya sambil menimang-nimang anaknya.

Saya tertegun sambil memperhatikan penampilan ibu itu, jilbab kaosnya sudah lusuh, begitu juga dengan bajunya, jika semua garmen yang dikenakannya itu dihargai dengan uang mungkin tidak lebih dari harga pulsa yang saya gunakan dalam sebulan, namun dimatanya terpancar ketulusan, kejujuran, kesederhanaan dan kepasrahan yang jarang saya jumpai belakangan ini.

Saya berusaha meminta nomor handphonenya, namun ibu itu menolak, dengan alasan ia tidak mau menerima sumbangan dari orang lain, karena hal yang ia lakukan ini atas nama pribadi.

Tiba-tiba topik pembicaraan berubah ke arah yang lain.

“Suami saya sebetulnya tidak mendukung kegiatan saya ini…..”

Waduh, isu sensitif nih ! pikir saya. saya berusaha mencegah supaya ibu itu tidak kebablasan curcol tentang masalah rumah tangganya dengan menimpali bahwa kita sebagai istri memang sudah kodratnya harus patuh kepada suami.

“Suami saya ingin saya di rumah saja, mengurus anak saja, sering kali dia melarang saya melakukan kegiatan sosial ini.” ibu itu terus saja curcol.

“Itu sebabnya saya tidak mau menerima limpahan bantuan dari orang lain, karena suami saya tidak suka……” bisiknya pelan.

Saya berusaha menghiburnya dengan memberi komentar bahwa dibalik semua itu pasti ada hikmahnya, kadang kala kita harus mengalah dulu demi kelanggengan rumah tangga.

Sampai disini saya terpana, bukan hanya karena tersentuh dengan curcol ibu yang sederhana ini, namun saya juga tekejut bahwa saya sendiri pun juga memaklumi kondisi seperti ini, yaitu pembenaran bahwa para suami memiliki hak prerogatif atas para istri. hal seperti ini sudah sangat umum hingga kita tidak memandangnya sebagai suatu hal yang aneh.

“Suami saya akhirnya mengizinkan saya pergi berbelanja ke sini dengan syarat saya harus membawa anak saya juga, padahal sebetulnya anak saya bisa saya titipkan dirumah…..” katanya sambil memandangi anaknya yang hampir terlelap dipangkuannya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, membawa anak berbelanja ke tempat ini ? kalau tempatnya yang semewah mal mungkin saya masih mau, tapi daerah ini panas, pengap, penuh dengan orang, juga kotor, dan seumur-umur saya tidak pernah membawa anak saya ke daerah ini.

Memang ada beberapa ibu-ibu yang membawa anaknya berbelanja ke daerah pecinan ini, namun mereka ditemani suaminya atau temannya, sedangkan ibu ini berbelanja sambil menggendong anaknya sendiri, tidak ada yang membantunya.

Saya tidak mau mengulas tentang isu gender karena pada kenyataannya memang masyarakat kita adalah penganut mahzab patriarki, dimana memang posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga membuatnya memiliki wewenang atas istrinya. dan pada kenyataannya sering kali para istri berkorban dan mengalah untuk keutuhan rumah tangga.

Kemudian ibu itu permisi pulang, dengan tas ransel yang besar di punggungnya ia berusaha berdiri sambil menggendong anaknya. saya menjawab salamnya sambil tersenyum. Sungguh, siapapun suami yang mendapatkan istri yang sederhana, patuh dan sholehah seperti itu sangat beruntung, saya hanya berharap semoga para suami yang memiliki para istri yang sholehah juga mengetahui betapa beruntungnya mereka dan memperlakukan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang………… semoga saja.

Advertisements

2 comments

  1. ina winarni · May 17, 2011

    nice story…

    • susandevy · May 17, 2011

      satu hal lagi yang bikin saya miris ; dimata kanan ibu itu ada bekas memar yang cukup parah…..kalau melihat dari bentuk memarnya bisa jadi akibat “kena sesuatu”, tapi ya saya gak berani tanya ke dia 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s