Bagaimana anak-anak anda mempengaruhi kualitas hidup orang tuanya

Menjadi orang tua adalah merupakan salah satu hal yang paling mengubah hidup siapa saja.

Saya beruntung memiliki kedua orang tua yang menyayangi anak-anaknya, dan senantiasa berusaha meluangkan waktu untuk bermain bersama kami disela-sela kesibukan mereka.  Dan kini setelah saya menjadi orang tua atas kedua anak saya, saya baru memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.  intinya, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran tanpa henti, dan dibawah alam sadar kita, pola asuh dari orang tua kita akan menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita kelak.

Jadi seberapa besar pengaruh keberadaan anak-anak dalam kehidupan seseorang ?

  • Rutinitas anda akan lebih terkontrol.  Percaya atau tidak, kehadiran anak-anak justru akan membuat kita lebih mengontrol rutinitas kita sehari-hari, walaupun kita sendiri telah memiliki rutinitas, namun kita sebagai orang tua akan berusaha untuk menyesuaikan dengan pola rutinitas anak kita, misalnya karena rutinitas tidur anak-anak yang cepat, sekitar jam 8 atau jam 9 malam, tentu saja kita akan berusaha untuk telah hadir disamping mereka untuk menemani mereka tidur, jadi mungkin dulunya kita terbiasa tidur larut malam karena lembur, maka dengan kehadiran anak-anak, kita akan membatasi diri, dengan mengikuti pola tidur mereka yang cepat dan juga bangun lebih awal di pagi hari dan tentunya kebiasaan ini akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita.
  • Mempelajari banyak hal yang baru, banyak yang tidak menyadari bahwa menjadi orang tua kita akan mempelajari berbagaimacam hal yang dulunya tidak pernah kita ketahui, mulai dari cara mengurus anak, memilih dokter dan rumah sakit yang memadai saat anak sedang sakit, melakukan berbagaimacam aktifitas dengan anak-anak, menjadi guru pertama bagi anak-anak, memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak, dan sebagainya.  Semua hal tersebut tidak akan kita peroleh jika kita tidak menjadi orang tua. Demi untuk kepentingan anak-anak, kita mempelajari hal-hal tersebut, sumbernya bisa beragam, mulai dari majalah, internet, forum parenting dan sebagainya.  Bagi saya, sering kali informasi dari antar orang tua sangat bisa dihandalkan, jadi sangat penting bagi orang tua untuk berada dalam komunitas antar sesama orang tua.
  • Mengulang kembali masa kecil anda, adakalanya setelah kehadiran anak-anak, anda terbersit untuk mengulang kembali momen-momen saat anda masih kecil dulu, mungkin dulu anda sering bertamasya bersama keluarga, atau pergi memancing bersama ayah anda, atau bisa saja dulu anda sering diajak memasak bersama ibu anda.  Semua kegiatan yang sedernaha namun berkesan dalam memori anda akan muncul kembali saat anak-anak telah hadir dalam kehidupan anda, dan tentunya anda akan mengulang kembali momen-momen yang indah tersebut bersama anak-anak yang anda sayangi.  Kegiatan yang bermanfaat bagi keharmonisan keluarga anda ini bukan saja bermanfaat bagi anak-anak, namun juga bagi kita sebagai orang tua yang akan membuat kita lebih dekat dengan mereka.
  • Lebih memikirkan masa depan, mungkin dulunya anda adalah seorang petualang, yang suka seenaknya melakukan apa saja yang anda inginkan tanpa peduli akan akibatnya bagi kehidupan anda, namun dengan kehadiran anak-anak dalam kehidupan anda, anda akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko tinggi, karena tentu saja masa depan anak-anak anda bergantung pada anda, jika anda tiba-tiba jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan anda, maka tentu saja masa depan anak anda akan berubah juga.  Oleh karena itu banyak orang tua yang menjadi lebih giat bekerja, menggunakan jasa asuransi atau berinvestasi untuk masa depannya setelah memiliki anak-anak.  Kehadiran anak-anak dalam hidup anda akan membuat anda lebih bertanggungjawab atas kestabilan masa depan anda.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan siapa pun yang saat ini belum memiliki anak, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah untuk melihat pengaruh anak-anak dalam kehidupan kita sebagai orang tuanya, dan sebetulnya masih banyak lagi hal-hal positif yang terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang tua, dan saya percaya bahwa hal tersebut akan dapat kita rasakan apabila tujuan kita untuk menjadi orang tua yang baik adalah demi untuk kebaikan anak-anak kita.

Patriarki, susu kotak dan mesjid di daerah pecinan

Kemarin siang saya sedang mengaso di halaman mesjid yang terletak di daerah pecinan, seperti biasa, saya memang kadang kala mengunjungi daerah itu untuk berbelanja, entah mengapa hari itu matahari bersinar menyengat, hingga membuat saya menjadi kehabisan tenaga, saya tergeletak lemas sambil mengendurkan otot-otot kaki yang tegang.

kemudian seorang balita yang manis datang menghampiri saya, tiba-tiba susu kotak yang dipegangnya jatuh dan isinya tumpah mengenai rok saya, saya tidak terkejut karena sudah biasa mengalami hal seperti itu di rumah, dengan anak-anak saya maupun dengan para ponakan.

“Duh, maaf ya, bu….. anak saya tidak sengaja, ini ambil saja tisu ini untuk membersihkannya.” si ibu anak itu datang menghampiri dengan wajah yang memelas.

“Gak apa-apa, bu…. cuman sedikit kok, lagian rok saya juga sudah kotor.” saya tersenyum sambil memberikan susu kotak itu kepada si balita.

Dan kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan seputar ibu-ibu, seperti biasa saya bertanya tentang anaknya, dan apa yang sedang ibu itu lakukan di daerah pecinan ini.

“Saya ke sini untuk membeli perlengkapan alat tulis, nantinya saya sumbangkan ke sekolah gratis khusus untuk anak-anak tidak mampu di dekat rumah saya.” si ibu menjelaskan.

Saya melirik ke ranselnya, dengan jumlah alat tulis yang hanya segitu, tentunya uang yang ibu itu belanjakan tidak banyak, dan biasanya para “ekoh” dan “enchi” tidak memberikan harga grosir jika kita hanya membeli eceran. Kasihan, ibu ini hanya dapat capeknya saja datang jauh-jauh ke sini, membeli alat tulis yang jumlahnya tidak seberapa, sambil menggendong anaknya juga, pikir saya.

Kemudian saya bertanya apa yang memotivasi dia untuk melakukan hal seperti itu, apa yang mendorongnya terlibat dalam kegiatan sosial.

“Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang sederhana, namun bagi saya nilainya sangat berarti, walaupun hanya ini yang bisa saya lakukan.” jawabnya sambil menimang-nimang anaknya.

Saya tertegun sambil memperhatikan penampilan ibu itu, jilbab kaosnya sudah lusuh, begitu juga dengan bajunya, jika semua garmen yang dikenakannya itu dihargai dengan uang mungkin tidak lebih dari harga pulsa yang saya gunakan dalam sebulan, namun dimatanya terpancar ketulusan, kejujuran, kesederhanaan dan kepasrahan yang jarang saya jumpai belakangan ini.

Saya berusaha meminta nomor handphonenya, namun ibu itu menolak, dengan alasan ia tidak mau menerima sumbangan dari orang lain, karena hal yang ia lakukan ini atas nama pribadi.

Tiba-tiba topik pembicaraan berubah ke arah yang lain.

“Suami saya sebetulnya tidak mendukung kegiatan saya ini…..”

Waduh, isu sensitif nih ! pikir saya. saya berusaha mencegah supaya ibu itu tidak kebablasan curcol tentang masalah rumah tangganya dengan menimpali bahwa kita sebagai istri memang sudah kodratnya harus patuh kepada suami.

“Suami saya ingin saya di rumah saja, mengurus anak saja, sering kali dia melarang saya melakukan kegiatan sosial ini.” ibu itu terus saja curcol.

“Itu sebabnya saya tidak mau menerima limpahan bantuan dari orang lain, karena suami saya tidak suka……” bisiknya pelan.

Saya berusaha menghiburnya dengan memberi komentar bahwa dibalik semua itu pasti ada hikmahnya, kadang kala kita harus mengalah dulu demi kelanggengan rumah tangga.

Sampai disini saya terpana, bukan hanya karena tersentuh dengan curcol ibu yang sederhana ini, namun saya juga tekejut bahwa saya sendiri pun juga memaklumi kondisi seperti ini, yaitu pembenaran bahwa para suami memiliki hak prerogatif atas para istri. hal seperti ini sudah sangat umum hingga kita tidak memandangnya sebagai suatu hal yang aneh.

“Suami saya akhirnya mengizinkan saya pergi berbelanja ke sini dengan syarat saya harus membawa anak saya juga, padahal sebetulnya anak saya bisa saya titipkan dirumah…..” katanya sambil memandangi anaknya yang hampir terlelap dipangkuannya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, membawa anak berbelanja ke tempat ini ? kalau tempatnya yang semewah mal mungkin saya masih mau, tapi daerah ini panas, pengap, penuh dengan orang, juga kotor, dan seumur-umur saya tidak pernah membawa anak saya ke daerah ini.

Memang ada beberapa ibu-ibu yang membawa anaknya berbelanja ke daerah pecinan ini, namun mereka ditemani suaminya atau temannya, sedangkan ibu ini berbelanja sambil menggendong anaknya sendiri, tidak ada yang membantunya.

Saya tidak mau mengulas tentang isu gender karena pada kenyataannya memang masyarakat kita adalah penganut mahzab patriarki, dimana memang posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga membuatnya memiliki wewenang atas istrinya. dan pada kenyataannya sering kali para istri berkorban dan mengalah untuk keutuhan rumah tangga.

Kemudian ibu itu permisi pulang, dengan tas ransel yang besar di punggungnya ia berusaha berdiri sambil menggendong anaknya. saya menjawab salamnya sambil tersenyum. Sungguh, siapapun suami yang mendapatkan istri yang sederhana, patuh dan sholehah seperti itu sangat beruntung, saya hanya berharap semoga para suami yang memiliki para istri yang sholehah juga mengetahui betapa beruntungnya mereka dan memperlakukan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang………… semoga saja.

Loosing Faith

Sekali lagi saya menemukan orang yg saya kenal membuka jilbabnya……….

Entah mengapa semakin hari semakin banyak saya menemukan perempuan2 yg tidak sungkan membuka jilbabnya, dan saat saya tanya apakah mereka merasa sedih dan gundah dengan keputusannya itu ? ternyata tidak, justru mereka merasa lega dengan keputusannya tersebut, sama leganya saat mereka mengambil keputusan untuk memakai jilbab dulunya.

Lalu jika sekarang melepas jilbab, mengapa dulu mau memakai jilbab ? apakah yang dinamakan “Hidayah” itu bisa hilang ? apakah mereka lupa hukum2 agama tentang menutup aurat bagi wanita ?

Banyak pertanyaan yang melintas dikepala saya, bukannya saya ingin mencela wanita2 yang mengambil keputusan radikal tersebut, namun karena ingin tahu apa sebenarnya yang menyebabkan mereka melakukan hal itu, apa yang mendorong mereka hingga kembali membuka auratnya dan melupakan bahwa ada hitungan dosa dibalik hal tersebut.

Salah satu dari mereka mengaku bahwa sudah tidak tahan dengan kelakuan orang2 yg kelihatannya sangat alim namun senantiasa berbuat maksiat, hypocrisy, atau munafik lebih tepatnya, sayangnya orang2 semacam ini jumlahnya semakin hari semakin banyak, rasanya karena alasan sepele ini harusnya tidak membuat seorang wanita muslimah menanggalkan hijabnya.

Ada juga yang mengaku bahwa hidup terlalu keras mengujinya, untuk alasan yang satu ini saya sulit untuk mengelak, karena yang saya pahami bahwa ujian adalah datangnya dari Tuhan, dan apapun bentuk ujian tersebut sudah ditakar sesuai dengan kemampuannya masing2, Tuhan tidak akan menurunkan ujian tanpa suatu alasan, everything happens for a reason, and a reason is to make us wiser and stronger.

Sebagai perempuan yang sampai saat ini alhamdulilah masih mengenakan hijabnya, saya sangat sedih jika mendengar cerita tentang wanita yang melepaskan hijabnya, seharusnya kita perlu merangkul mereka, bukannya menjauh dari mereka, dan menerima mereka apa adanya.

My heart goes with them…… May God show them a way, and the way is back to Him only…………..

and I shed my tears………