Pesan Moral dari Junior Master Chef

Setelah memasang tv kabel, kami lebih memiliki banyak pilihan tontonan dibandingkan dulu saat hanya punya pilihan tv lokal, biasanya setelah makan malam saya tidak memperbolehkan anak2 menonton tv, namun sekarang waktu setelah makan malam bisa menjadi acara menonton bersama keluarga yang menyenangkan, maka channel favorit pilihan kami adalah natgeo, discovery, dan sesekali starworld.

Acara reality show Junior master chef mulai dari tayangan perdananya telah menjadi acara favorit kami, bukan saja karena kami terkagum-kagum dengan kepiawaian para peserta yang masih belia namun sudah mahir memasak ala chef, juga karena harus saya akui bahwa saya sendiri belum tentu bisa seperti itu.

Banyak moral yang bisa saya petik dari acara reality show itu, pertama di barat sana, anak kecil sudah diajarkan mandiri, juga dalam hal memasak, jika mereka diusia dini sudah diajari keterampilan memasak, maka secara otomatis mereka sudah siap untuk mengurusi dirinya sendiri dan belajar tidak bergantung kepada orang lain, terutama dalam urusan makanan sehari-hari. sementara di sini anak-anak sangat bergantung kepada orang tuanya atau pembantu dalam hal makanan, dan jika suatu saat mereka harus mandiri atau keluar dari rumah, tentunya mereka akan mengalami syok karena tiba-tiba saja mereka harus mengurusi dirinya sendiri.

Ada beberapa episode dimana tiap peserta dibagi menjadi dua tim, dan disini kita bisa melihat bagaimana mereka bekerjasama dalam suatu tim yang kompak, dan satu hal yang membuat saya sangat salut, adalah sportifitas antara tiap peserta, jika ada tim atau peserta yang kalah tidak diejek atau dicaci maki oleh tim yang menang, malah justru mereka saling berpelukan dan saling memuji satu sama lainnya. diusia yang sangat dini itu mereka sudah belajar bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan, poin yang terpenting adalah mereka melakukan yang terbaik, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Saya teringat akan pesan dari salah satu teman senior dalam suatu ajang kompetisi, inti dari pesannya adalah menjadi pemenang bukanlah tujuan akhir, baik pemenang maupun yang kalah harus tetap terus berjuang bahkan setelah ajang kompetisi berakhir, dan sesungguhnya sang pemenang pun juga harus menghargai yang kalah, karena sang pemenang bisa meraih prestasinya berkat keberadaan peserta yang kalah itu. Jadi para peserta yang kalah adalah sosok yang me-reshaping sang pemenang tersebut, hingga tidak berlebihan jika sang pemenang harus memberi penghormatannya atas usaha peserta yang kalah itu.

Dulu anak sulung saya sangat takut dengan hal-hal yang berbau kompetisi atau lomba, hingga ia tidak mau mengikuti beberapa perlombaan yang sebetulnya ia memiliki kemampuan dan bakat di bidang tersebut, namun belakangan ini ia malah lebih antusias mengikuti ajang perlombaan, tentu saja saya senang dengan perkembangannya ini, saya pun juga paham bahwa hal yang mengubah pandangannya terhadap kompetisi adalah karena kini ia memandang kompetisi bukan sebagai ajang perbandingan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan tekad untuk berprestasi.

The most excellent jihad (battle) is that for the Conquest of self ~ Prophet Muhammad

Andai saja hal tersebut dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam lingkungan kerja, tentunya pada akhirnya kita akan bisa saling membantu dan maju bersama, kompetisi itu adalah suatu hal yang normal, karena tujuan kita adalah untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik,

Advertisements

One comment

  1. tiectioff · March 28, 2011

    Nice site . 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s