ketika “Jam Biologis” berbunyi…

Dipertengahan 30-an ini, saya tidak akan mengakui bahwa saya lebih bijak dibandingkan dengan saat saya 20-an, namun adakalanya saya memaksakan diri untuk lebih baik hati saat menjumpai beberapa teman yang masih single ataupun yang belum dikaruniai anak.

Saya sama sekali tidak setuju jika ada yang memberi mereka label “kurang beruntung” atau “sudah nasibnya begitu“, karena jika saya melihat dari point of view mereka, sangat sulit untuk tetap berusaha bersikap biasa saja dan tetap terus menjalani hidup mereka.

“Saya pengen banget punya anak….tapi cari calon papanya kok hari ini susah banget…”

“Gak usah ditanya deh gimana ortu bawel nanya melulu soal cucu, gue udah pusing deh….”

Atau yang lebih gak enak lagi ; “Loe udah beruntung udah punya anak sih…”

Pada usia pertengahan 20an, berbondong-bondong kaum wanita mengejar target menikahnya, dan sebagian tetap fokus pada karir atau meneruskan pendidikannya, lalu setelah melewati usia 30an, tekanan dari lingkungan untuk mengejar target nikah semakin tinggi, sebetulnya tekanan lebih besar dari pihak ortu, ini harus kita pahami juga, mereka para orang tua kita pun juga menerima tekanan dari lingkungan mereka, bayangkan di setiap pertemuan keluarga, ortu kita senantiasa dibombardir dengan pertanyaan “Kapan nih bawa cucunya ?”

Di negri tercinta ini Gap antara generasi ortu dan kita cukup besar, sementara kita sudah memandang bahwa “pernikahan” dan “punya anak” adalah PILIHAN, bukan kewajiban lagi, namun tidak demikian dengan generasi ortu kita, mungkin ada beberapa yang beruntung memiliki ortu yang lebih moderat, namun tekanan dari lingkungan ortu akan tetap selalu ada.

Kepada para sahabat saya yang masih single atau yang belum dikaruniai anak, saya ingin sekali berteriak kepada mereka; “kami sebetulnya sangat jelaous sama kamu !, kalian tidak terikat dan bisa ngapain aja seenaknya !” tentu ini gampang saja saya ucapkan karena saya pun juga tidak merasakan bagaimana menjadi single, mungkin jika saya single dan tidak punya anak, saya akan takut berjalan sendirian ke mal, karena di mal penuh dengan para pasangan yang bermesraan sambil membawa anak-anaknya….dan jika melihat gambaran itu, saya lebih baik mengurung diri dikamar, meratapi nasib saya yang malang.

Menikah dan punya anak bukanlah tujuan hidup, IMO

Then, why the hell I ended up marriage ? I dunno…….

Tapi satu hal yang saya yakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menyelesaikan permasalahan dalam hidup, justru akan menambah masalah-masalah yang lainnya, seketika setelah saya menikah, saya langsung terikat dengan suami, dan saat saya melahirkan anak yang pertama, saya sama sekali tidak bisa berbuat apapun.

Mungkin salah saya adalah saya mempunyai anak terlalu cepat, secara mental saya belum siap, padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik2nya, pengalaman mengasuh adik saya dan berbagai pengetahuan tentang parenting dari buku dan majalah….semua tidak menjadikan saya expert dalam hal parenting, nonsense ! parenting is not a theory, you have to do it by yourself !

Seketika sehabis melahirkan anak yang pertama, saya menyadari hal itu, namun sudah terlambat, dan parahnya lagi saya mendapat serangan “Baby Blues“, dan sialnya saya sama sekali tidak siap secara mental untuk hal yang menyakitkan ini, dan hasilnya selama 3 hari pertama saya hanya bisa menangis dan hampir tidak bisa menyentuh anak saya sendiri, dan entah mengapa pengalaman ini menjadi trauma yang mendalam bagi saya, hingga saya berusaha keras untuk mencari akar permasalahannya, dan syukurnya saya bisa menciptakan kondisi yang nyaman untuk saya sendiri saat saya melahirkan anak yang kedua.

Mungkin bagi orang awam, kontak batin antara orang tua dan anak terjadi dengan sendirinya, ini adalah anggapan yang sangat salah !

Anda tidak langsung serta merta memiliki hubungan batin dengan anak kandung anda sendiri hanya karena anda mengandung dan melahirkannya, hal itu terbentuk setelah bertahun-tahun anda menjadi orang tua dan mengasuhnya dengan penuh perhatian, it takes a lot of time to build the connection between your offspring, and if you miss it just for a while, then you have to start it over again.

Dan lalu jika menikah dan punya anak adalah pilihan, mengapa kita masih merasa perlu melakukannya ?

Saya pun juga senantiasa mempertanyakan hal ini, Apa tujuan sebetulnya kita memiliki keluarga ? untuk kebutuhan biologis saja ? untuk status sosial ? kemudian saya teringat pada buku parenting yang sudah jadul, intinya adalah sesungguhnya orang tua-lah yang lebih membutuhkan anak-anaknya, bukan anak yang butuh orang tua.

Kita-lah yang memulai suatu hubungan, dan berlanjut hingga melahirkan anak-anak kita, ya saya setuju sekali bahwa kita yang lebih memerlukan anak, karena jauh didalam sana, setiap insan manusia memerlukan sosok dalam hidupnya yang dapat membuatnya merasa memiliki suatu koneksi yang lebih dalam, dan hubungan kekeluargaan yang bisa memenuhi hal itu.

All and All, kepada para pasutri yang sudah mapan, saya harap sesekali luangkan waktu hang out bersama dengan para lajangers, mereka sesungguhnya juga perlu perhatian kita, hanya saja mereka takut mengganggu waktu weekend kita, jadi kita-lah yang memulai untuk meluangkan waktu dengan mereka lagi, tentunya setelah kita meluangkan waktu bersama keluarga tercinta.

Dan tentu saja kepada para lajangers atau jomblo, bisa memetik pelajaran dari para pasutri bahwa kehidupan rumah tangga itu sangat sulit dan tidak selalu kelihatan seindah luarnya, karena apa yang tampak dari luar belum tentu sebagus apa yang didalamnya.

Satu hal lagi, entah mengapa para lajangers yang disekitar saya ada beberapa yang rada paranoid dengan jam biologisnya, hingga menyebabkan beberapa diantara mereka “menebar pesona” atau flirting kesegala arah, ini mungkin jika masih dalam batas-batas norma masih tidak masalah, namun kadang kala kebiasaan ini menjadi habit yang akan sulit dihilangkan ketika sang lajangers menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, dan ini bisa merugikannya sendiri kelak.  Saya harap para lajanger lebih mawas diri dan lebih bersikap ‘cool’ sampai suatu saat jodohnya datang dengan sendirinya.

Dengan saling memahami seperti ini, maka kita harapkan “gap” antara para pasutri mapan dan lajangers akan terjembatani, juga kepada para lajangers dan jomblo, semoga tetap bisa senantiasa optimis dan terus positif dalam pencarian jodohnya masing-masing……….amin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s