Berkomunikasi yang Asertif dengan Anak

Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak akan menentukan pola perilaku sang anak itu kelak.

Pernah suatu hari anak saya bercerita tentang kehebatan seseorang yang bisa “memelintirkan” peraturan di negara ini dengan cara yang salah, dan saya tidak menyadari bahwa ada rasa terbersit kagum dari anak saya terhadap orang itu, dan tanpa basa-basi saya langsung memberi komen bahwa orang itu sangat salah karena telah melanggar hukum yang ada di negara ini.

Langsung saja anak saya terdiam, karena pendapat saya sangat menohok rasa salutnya terhadap orang tersebut, seketika saya merasa bersalah, maksud saya seandainya saya tidak langsung mencetuskan komentar seperti itu, mungkin saya tidak akan menyinggung perasaannya.

Jadi bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak ?

Mengetahui bahwa anak saya yang sulung ini memiliki perasaan yang lebih peka, saya harus lebih berhati-hati, terutama dalam mengutarakan pendapat saya, dan sejauh ini saya selalu berupaya memancingnya agar lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa perlu merasa khawatir dengan pendapat saya atau yang lainnya.

Ternyata caranya tidaklah terlalu sulit, seperti biasa kita sebagai orang tua harus tetap berupaya untuk menjadi Pendengar yang Baik.

Pendengar yang Baik tidak hanya cukup mendengarkan saja, tanpa berusaha memahami apa perasaan dan point of view sang pembicara, menjadi pendengar yang baik adalah mendengarkan dengan sepenuh hati dan pikiran, dan tentu saja dengan memberikan perhatian penuh terhadap apa yang dibicarakan yang bersangkutan.

Jadi kemudian saya berusaha untuk mengubah cara saya ketika berbicara dengan anak saya, dengan berusaha untuk memancing pendapatnya, dan menahan diri untuk tidak menimpalinya dengan pendapat dari sisi saya.  Untuk memancingnya agar bisa mengutarakan pendapatnya yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan ; Bagaimana pendapatnya ? Apa menurutnya yang harus ia lakukan ? Apakah menurutnya hal tersebut benar atau salah ? Jika memang hal itu salah, bagaimana menurutnya yang sebaiknya dilakukan ?

Tentu saja setelah sang anak mengutarakan pendapatnya hingga tuntas, jika memang hal itu salah, barulah kita menjelaskan mengapa hal tersebut tidak benar, dan juga jelaskan akibatnya yang akan terjadi bila hal itu tetap terus dilakukan, juga kerugiannya bila hal yang salah itu dibiarkan.  Kemudian setelah mengutarakan pendapat kita, kembali tanyakan bagaimana pendapatnya setelah itu, apakah menurutnya bahwa hal itu benar atau salah.

Berkomunikasi yang asertif adalah seni bagaimana bisa membuat lawan bicara kita mengutarakan pendapatnya dengan bebas, berani, tegas, jujur dan penuh percaya diri tanpa perlu merasa takut atau khawatir akan apa yang akan terjadi.  Dengan memupuk upaya berkomunikasi yang asertif maka akan membangun rasa percaya diri sang anak.

When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion. ~ Dale Carnegie.

Saya harap semoga untuk kedepannya saya akan lebih bijak lagi dalam berkomunikasi, bukan saja dengan anak-anak saya, namun dengan siapa saja, terutama orang-orang terdekat saya….. amien, God bless us all 🙂

Advertisements

Pesan Moral dari Junior Master Chef

Setelah memasang tv kabel, kami lebih memiliki banyak pilihan tontonan dibandingkan dulu saat hanya punya pilihan tv lokal, biasanya setelah makan malam saya tidak memperbolehkan anak2 menonton tv, namun sekarang waktu setelah makan malam bisa menjadi acara menonton bersama keluarga yang menyenangkan, maka channel favorit pilihan kami adalah natgeo, discovery, dan sesekali starworld.

Acara reality show Junior master chef mulai dari tayangan perdananya telah menjadi acara favorit kami, bukan saja karena kami terkagum-kagum dengan kepiawaian para peserta yang masih belia namun sudah mahir memasak ala chef, juga karena harus saya akui bahwa saya sendiri belum tentu bisa seperti itu.

Banyak moral yang bisa saya petik dari acara reality show itu, pertama di barat sana, anak kecil sudah diajarkan mandiri, juga dalam hal memasak, jika mereka diusia dini sudah diajari keterampilan memasak, maka secara otomatis mereka sudah siap untuk mengurusi dirinya sendiri dan belajar tidak bergantung kepada orang lain, terutama dalam urusan makanan sehari-hari. sementara di sini anak-anak sangat bergantung kepada orang tuanya atau pembantu dalam hal makanan, dan jika suatu saat mereka harus mandiri atau keluar dari rumah, tentunya mereka akan mengalami syok karena tiba-tiba saja mereka harus mengurusi dirinya sendiri.

Ada beberapa episode dimana tiap peserta dibagi menjadi dua tim, dan disini kita bisa melihat bagaimana mereka bekerjasama dalam suatu tim yang kompak, dan satu hal yang membuat saya sangat salut, adalah sportifitas antara tiap peserta, jika ada tim atau peserta yang kalah tidak diejek atau dicaci maki oleh tim yang menang, malah justru mereka saling berpelukan dan saling memuji satu sama lainnya. diusia yang sangat dini itu mereka sudah belajar bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan, poin yang terpenting adalah mereka melakukan yang terbaik, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Saya teringat akan pesan dari salah satu teman senior dalam suatu ajang kompetisi, inti dari pesannya adalah menjadi pemenang bukanlah tujuan akhir, baik pemenang maupun yang kalah harus tetap terus berjuang bahkan setelah ajang kompetisi berakhir, dan sesungguhnya sang pemenang pun juga harus menghargai yang kalah, karena sang pemenang bisa meraih prestasinya berkat keberadaan peserta yang kalah itu. Jadi para peserta yang kalah adalah sosok yang me-reshaping sang pemenang tersebut, hingga tidak berlebihan jika sang pemenang harus memberi penghormatannya atas usaha peserta yang kalah itu.

Dulu anak sulung saya sangat takut dengan hal-hal yang berbau kompetisi atau lomba, hingga ia tidak mau mengikuti beberapa perlombaan yang sebetulnya ia memiliki kemampuan dan bakat di bidang tersebut, namun belakangan ini ia malah lebih antusias mengikuti ajang perlombaan, tentu saja saya senang dengan perkembangannya ini, saya pun juga paham bahwa hal yang mengubah pandangannya terhadap kompetisi adalah karena kini ia memandang kompetisi bukan sebagai ajang perbandingan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan tekad untuk berprestasi.

The most excellent jihad (battle) is that for the Conquest of self ~ Prophet Muhammad

Andai saja hal tersebut dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam lingkungan kerja, tentunya pada akhirnya kita akan bisa saling membantu dan maju bersama, kompetisi itu adalah suatu hal yang normal, karena tujuan kita adalah untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik,

ketika “Jam Biologis” berbunyi…

Dipertengahan 30-an ini, saya tidak akan mengakui bahwa saya lebih bijak dibandingkan dengan saat saya 20-an, namun adakalanya saya memaksakan diri untuk lebih baik hati saat menjumpai beberapa teman yang masih single ataupun yang belum dikaruniai anak.

Saya sama sekali tidak setuju jika ada yang memberi mereka label “kurang beruntung” atau “sudah nasibnya begitu“, karena jika saya melihat dari point of view mereka, sangat sulit untuk tetap berusaha bersikap biasa saja dan tetap terus menjalani hidup mereka.

“Saya pengen banget punya anak….tapi cari calon papanya kok hari ini susah banget…”

“Gak usah ditanya deh gimana ortu bawel nanya melulu soal cucu, gue udah pusing deh….”

Atau yang lebih gak enak lagi ; “Loe udah beruntung udah punya anak sih…”

Pada usia pertengahan 20an, berbondong-bondong kaum wanita mengejar target menikahnya, dan sebagian tetap fokus pada karir atau meneruskan pendidikannya, lalu setelah melewati usia 30an, tekanan dari lingkungan untuk mengejar target nikah semakin tinggi, sebetulnya tekanan lebih besar dari pihak ortu, ini harus kita pahami juga, mereka para orang tua kita pun juga menerima tekanan dari lingkungan mereka, bayangkan di setiap pertemuan keluarga, ortu kita senantiasa dibombardir dengan pertanyaan “Kapan nih bawa cucunya ?”

Di negri tercinta ini Gap antara generasi ortu dan kita cukup besar, sementara kita sudah memandang bahwa “pernikahan” dan “punya anak” adalah PILIHAN, bukan kewajiban lagi, namun tidak demikian dengan generasi ortu kita, mungkin ada beberapa yang beruntung memiliki ortu yang lebih moderat, namun tekanan dari lingkungan ortu akan tetap selalu ada.

Kepada para sahabat saya yang masih single atau yang belum dikaruniai anak, saya ingin sekali berteriak kepada mereka; “kami sebetulnya sangat jelaous sama kamu !, kalian tidak terikat dan bisa ngapain aja seenaknya !” tentu ini gampang saja saya ucapkan karena saya pun juga tidak merasakan bagaimana menjadi single, mungkin jika saya single dan tidak punya anak, saya akan takut berjalan sendirian ke mal, karena di mal penuh dengan para pasangan yang bermesraan sambil membawa anak-anaknya….dan jika melihat gambaran itu, saya lebih baik mengurung diri dikamar, meratapi nasib saya yang malang.

Menikah dan punya anak bukanlah tujuan hidup, IMO

Then, why the hell I ended up marriage ? I dunno…….

Tapi satu hal yang saya yakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menyelesaikan permasalahan dalam hidup, justru akan menambah masalah-masalah yang lainnya, seketika setelah saya menikah, saya langsung terikat dengan suami, dan saat saya melahirkan anak yang pertama, saya sama sekali tidak bisa berbuat apapun.

Mungkin salah saya adalah saya mempunyai anak terlalu cepat, secara mental saya belum siap, padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik2nya, pengalaman mengasuh adik saya dan berbagai pengetahuan tentang parenting dari buku dan majalah….semua tidak menjadikan saya expert dalam hal parenting, nonsense ! parenting is not a theory, you have to do it by yourself !

Seketika sehabis melahirkan anak yang pertama, saya menyadari hal itu, namun sudah terlambat, dan parahnya lagi saya mendapat serangan “Baby Blues“, dan sialnya saya sama sekali tidak siap secara mental untuk hal yang menyakitkan ini, dan hasilnya selama 3 hari pertama saya hanya bisa menangis dan hampir tidak bisa menyentuh anak saya sendiri, dan entah mengapa pengalaman ini menjadi trauma yang mendalam bagi saya, hingga saya berusaha keras untuk mencari akar permasalahannya, dan syukurnya saya bisa menciptakan kondisi yang nyaman untuk saya sendiri saat saya melahirkan anak yang kedua.

Mungkin bagi orang awam, kontak batin antara orang tua dan anak terjadi dengan sendirinya, ini adalah anggapan yang sangat salah !

Anda tidak langsung serta merta memiliki hubungan batin dengan anak kandung anda sendiri hanya karena anda mengandung dan melahirkannya, hal itu terbentuk setelah bertahun-tahun anda menjadi orang tua dan mengasuhnya dengan penuh perhatian, it takes a lot of time to build the connection between your offspring, and if you miss it just for a while, then you have to start it over again.

Dan lalu jika menikah dan punya anak adalah pilihan, mengapa kita masih merasa perlu melakukannya ?

Saya pun juga senantiasa mempertanyakan hal ini, Apa tujuan sebetulnya kita memiliki keluarga ? untuk kebutuhan biologis saja ? untuk status sosial ? kemudian saya teringat pada buku parenting yang sudah jadul, intinya adalah sesungguhnya orang tua-lah yang lebih membutuhkan anak-anaknya, bukan anak yang butuh orang tua.

Kita-lah yang memulai suatu hubungan, dan berlanjut hingga melahirkan anak-anak kita, ya saya setuju sekali bahwa kita yang lebih memerlukan anak, karena jauh didalam sana, setiap insan manusia memerlukan sosok dalam hidupnya yang dapat membuatnya merasa memiliki suatu koneksi yang lebih dalam, dan hubungan kekeluargaan yang bisa memenuhi hal itu.

All and All, kepada para pasutri yang sudah mapan, saya harap sesekali luangkan waktu hang out bersama dengan para lajangers, mereka sesungguhnya juga perlu perhatian kita, hanya saja mereka takut mengganggu waktu weekend kita, jadi kita-lah yang memulai untuk meluangkan waktu dengan mereka lagi, tentunya setelah kita meluangkan waktu bersama keluarga tercinta.

Dan tentu saja kepada para lajangers atau jomblo, bisa memetik pelajaran dari para pasutri bahwa kehidupan rumah tangga itu sangat sulit dan tidak selalu kelihatan seindah luarnya, karena apa yang tampak dari luar belum tentu sebagus apa yang didalamnya.

Satu hal lagi, entah mengapa para lajangers yang disekitar saya ada beberapa yang rada paranoid dengan jam biologisnya, hingga menyebabkan beberapa diantara mereka “menebar pesona” atau flirting kesegala arah, ini mungkin jika masih dalam batas-batas norma masih tidak masalah, namun kadang kala kebiasaan ini menjadi habit yang akan sulit dihilangkan ketika sang lajangers menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, dan ini bisa merugikannya sendiri kelak.  Saya harap para lajanger lebih mawas diri dan lebih bersikap ‘cool’ sampai suatu saat jodohnya datang dengan sendirinya.

Dengan saling memahami seperti ini, maka kita harapkan “gap” antara para pasutri mapan dan lajangers akan terjembatani, juga kepada para lajangers dan jomblo, semoga tetap bisa senantiasa optimis dan terus positif dalam pencarian jodohnya masing-masing……….amin 🙂

Pause Fillers and other hesitating noises

What are Pause Fillers ?

Pause Fillers are words that are spoken in speech or presentation as a signal that the speaker has paused to think but is not yet to finished speaking, during presentation there will be times when speaker pauses and think for a second or two, then subconsciously the speaker will utter these pause fillers.

Every speaker tends to make pause fillers, because we are human, and as human we make errors, unless we’re robot then we will never make any pause fillers during speeches.

There are many kind of Pause Fillers ;

Sounds : ‘Ah’, ‘Umm’, ‘Err’, ‘Uhh’

Words : ‘you know’, ‘I think’, ‘I mean’, ‘I guess’, ‘you see’

in Bahasa : ‘Anu’, ‘dan’, ‘kan’, ‘deh’, ‘ya’, ‘lah’, ‘lho’, ‘sih’.

So why fuss about pause fillers ? unless you don’t want to be a better speaker, you have to be very conscious of pause fillers because they can cause the following impact on your audience’s perception of you ; you’ll appear lack of confident, poorly prepared with your presentation, and audience will perceive that you’re untrustworthy and unconvincing.

But don’t worry if you’re making too many pause fillers during your speech, many famous public figures make this mistake, of course they’re not a good examples, at least we learn from them about how to avoid making pause fillers.

Can you count how many ‘Ah’ Collin Firth made during his speech at Golden Globe award ?

Can you believe he did that ?

So how can we reduce our pause-fillers during speeches ?

first, count how many pause-fillers that you make during a speech, for example, try to give unprepared or impromptu speech for about 2 or 3 minutes, ask a friend to count your pause-fillers, or if you dare, you can record your speech and count it later by yourself after the speech.

Be comfortable with PAUSE, the main reason why speaker makes pause-fillers because the uncomfortable feeling of the pauses between sentences. Great speakers know that Pause is the powerful tool in speech, thus applying pauses in speeches requires a lot of practices. I noticed it during the speech contest, the winner used pauses between sentences for about 2 until 5 seconds, during that period the speaker gazed through the audiences, and I as audience felt the intense feeling and pay more attention to the speech.

So I try to give an example of applying pauses in speech, I quoted “I have a dream” speech from Martin Luther King, try to read it loud without pauses :

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character .I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at a table of brotherhood

then try to read this :

I have a dream ……..that my four little children…. will one day live in a nation… where they will not be judged by the color of their skin,……. but by the content of their character…………I have a dream… that one day…. on the red hills of Georgia…. the sons of former slaves…. and the sons of former slave owners…. will be able to sit down together……… at a table of brotherhood.”

see the differences ? 🙂

Be yourself, don’t imitate others.

Sincerity is the first thing that audience will notice from you and your speech, if you try so hard to imitate your idol or other great speaker, then you will never speak what inside of your heart. Passion is the key of every successful speech or presentation. Sometimes it’s very inspiring to see a speaker delivers high-testosterone level speech with a motivational speaker style, but if it’s not your style then why you must try so hard to mimic it ? just keep practicing then eventually you will find your own speech style.

Be kind with all of your mistakes

The first time I tried to give my unprepared speech, it was the scariest moment, as for me, I also got sweaty palm and butterfly-on-stomach at the first attempt, and my score was 20 pause-fillers for 2 minutes unprepared speech, even until these days I still struggle to minimize my pause-fillers in my speeches, sometimes I made 5 to 10 scores, but when I’m lousy and unaware then I’ll make more score. I remembered one had advised me “the more your speak then the more you make mistakes”……but then if we never make any mistakes then how can we ever learn something ? so practice a lot, make a lot of mistakes, take a lesson from it, and make more mistakes again, just relax….and remember to accept yourself as human being who always make mistakes.

PS :

sebetulnya saya ragu untuk memuat artikel yang sudah ‘agak’ lama ini, sebab sampai saat ini pun saya masih berjuang untuk menghilangkan pause-fillers, namun ya daripada nanti saya lupa dan menghilangkan file artikel ini, akhirnya saya posting juga, intinya saya harus terus konsisten untuk mengurangi jumlah pause fillers saya 🙂

Love Song

I just don’t know what made me so into this old song from Tesla, but it kept inside my head and I just can’t get rid of this song, so I guess I just put the lyrics in this blog, not that I’m a big fan of Tesla, I’m quite sure it has a deep meaning and also very beautiful.

Love Song by Tesla

So you think that it’s over……
That your love has finally reached the end.
Any time you call, night or day,
I’ll be right there for you if you need a friend.

It’s gonna take a little time…..
Time is sure to mend your broken heart.
Don’t you even worry, pretty darlin’.
I know you’ll find love again. Yeah.

Chorus:
Love is all around you. Yeah
Love is knockin’ outside y your door
Waitin’ for you is this love made just for two
Keep an open heart and you’ll find love again, I know.

Love is all around you.
Love is knockin’ outside your door.
Waitin’ for you is this love made just for two
Keep an open heart and you’ll find love again, I know.

Chorus / Outro:
Love will find a way.
Darlin’, love is gonna find a way,
Find its way back to you.
Love will find a way.
So look around, open your eyes.
Love is gonna find a way.
Love is gonna, love is gonna find a way.
Love will find a way.
Love’s gonna find a way back to you, yeah,
I know. I know. I know. I know……………

and I’m gonna find my way back to love…………. I know………….

Psikosomatis ~ gangguan fisik akibat gangguan mental

Apakah anda pernah merasakan sakit kepala mendadak saat menerima beban pekerjaan atau tugas ? atau pernah merasakan sakit mag kambuh tiba-tiba saat menghadapi situasi yang pelik ?

Ketika emosi negatif sedang melanda pikiran, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin, jantung berdebar lebih cepat, timbul keringat, dan akan timbul rasa nyeri di dada maupun di perut.  Emosi negatif, seperti ketakutan, kecemasan, amarah, perasaan bersalah dan kesedihan.  Hal ini dapat dipicu oleh stres, tekanan, kehilangan anggota keluarga, dan berbagai macam perubahan dalam kehidupan lainnya.

Mengapa saya menulis tentang hal ini ? ini bukan suatu hal yang baru ? semua juga sudah tahu bahwa seseorang yang terpapar dalam tekanan psikis akan juga menderita secara fisik.  Ya apalagi kalau bukan karena salah seorang yang pernah saya kenal mengalami hal seperti ini, dan saya sangat menyayangkan bahwa sepertinya saya tidak dapat membantunya.

Singkatnya orang ini menderita secara fisik selama bertahun-tahun, tanpa ada kejelasan dari dokter apa penyakit yang sebetulnya ia derita. Sakit mag akut ? sudah hampir semua dokter ahli internis disantronin, setiap minggu setidaknya bisa sekali atau dua kali berobat ke dokter internis hanya untuk menebus obat yang sama……dan sama sekali tidak ada kemajuan.  Sakit Jantung ? Hipertensi ? Kolesterol ? berkali-kali tes lab, medical check up, tidak memberikan diagnosa yang pasti.

Saking parahnya penyakit mag yang yang dideritanya, hingga setidaknya setiap 4 jam ia harus makan sesuatu, jika tidak maka penyakit magnya akan kambuh dan harus seketika itu juga dibawa ke dokter, ia pun harus senantiasa dijaga kondisi kehangatan tubuhnya, jika terlalu dingin maka akan masuk angin, dan tentu saja harus dipijit secara rutin.  Saya selalu ingat bahwa ia tidak dapat ditinggal sendirian dirumah, harus ada orang yang senantiasa menemaninya, karena ia takut penyakit jantungnya kumat jika sedang sendirian, dan tentu saja karena ketakutannya itu maka ia tidak bisa bepergian sendirian.

Depresi akut….. salah seorang teman saya pernah berkomentar demikian saat mengetahui kondisinya, apapun yang ia derita, adalah akibat dari penderitaan mental yang berkepanjangan dimana ia tidak dapat menyelesaikannya sendiri.

Lalu apakah penderita psikosomatis ini dapat sembuh ? sebetulnya jika mereka menginginkannya mereka dapat sembuh, dengan bersikap ikhlas, menerima kenyataan, menghadapi dan menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya, dan senantiasa bersikap positif…. maka semua penyakit fisik itu akan sirna dengan sendirinya.  Namun adakalanya beberapa orang tidak dapat beranjak dari satu poin penting dalam hidupnya, oleh karena itu sebetulnya mereka sangat memerlukan bantuan dalam menyembuhkan penyakit mentalnya ini.

Terapi psikolog, hipnoterapi adalah contoh penyembuhan untuk penderita psikosomatis, namun jika orang tersebut tidak dapat atau tidak mau menyelesaikan permasalahannya, maka apa semua terapi itu dapat menyembuhkannya ?

Gejala penyakit fisik tanpa sebab banyak terjadi pada kaum hawa, terutama pada saat menjelang usia senja, saat anak sudah beranjak dewasa dan meninggalkan rumah (sindrom empty nest), atau mungkin saat pasangan hidup sudah tiada.  Sedangkan pada kaum laki-laki biasanya hal ini terjadi karena beban pekerjaan atau pada saat akan memasuki masa pensiun.

Dan orang yang saya kenal ini memilih untuk tetap terus dalam lingkaran permasalahannya, kadang kala ignorance is a bliss, but ignoring all problems in your life could harm your own life as well…..

Hanya Tuhan yang tahu mengapa Ia menurunkan cobaan kepada umatnya, kesedihan, ketakutan, kepedihan, kesakitan, kelaparan dan kemiskinan, dan berbagai cobaan lainnya adalah merupakan ujian bagi ketahanan mental dan iman kita, hingga pada saatnya nanti, saat ketika kita menghadapNya, maka kita sudah bagaikan terlahir kembali, semoga saja, amien……..