a lesson from Nanny

Sore ini saya menonton acara reality show “Super Nanny”, biasanya saya tidak terlalu antusias dengan acara ini karena topiknya sudah usang bagi saya.

Namun kali ini keluarga yang menjadi bintang tamu adalah pasangan yang baru saja bercerai dengan kedua anak berumur dibawah 5 tahun, hmmm…. interesting.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari acara ini, pertama saat orang tua baru pisah, jelaskan realitanya kepada anak anda sejelas-jelasnya, jangan menggunakan kata kiasan, katakan saja secara gamblang ; “Papa dan mama sudah tidak bisa bersama-sama lagi, namun kami tetap mencintaimu dan akan selalu bersamamu.”

Kedua, pasangan yang pindah dari rumah yang lama harus membuat rumah barunya menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk anak-anaknya, bukan hanya untuk dia saja, perlu diingat bahwa anak-anaknya pun akan meluangkan waktu bersamanya, hingga penting baginya untuk menyediakan ruangan khusus untuk anak-anaknya. wah, kalau untuk ruangan khusus bagi anak saya sampai saat ini saya belum bisa memberikannya, namun ini adalah masukan yang baik, saya akan berusaha membuat kamar tidur saya menjadi ruangan yang nyaman juga bagi kedua anak saya.

Ketiga, pembagian jadwal pengasuhan anak harus berdasarkan pada rutinitas anak-anak, berdasarkan dari patokan ini maka kedua orang tua menyusun rencana pembagian jadwal pengasuhan yang disesuaikan dengan rutinitas anak-anaknya.

Keempat, menciptakan komunikasi yang harmonis dengan mantan, dengan tujuan hanya untuk kebaikan anak-anak saja, ini adalah hal yang terpenting, karena anda tidak akan pernah bisa bersama mengasuh anak-anak tanpa adanya komunikasi yang baik dengan mantan.  Jika mantan mulai aneh-aneh, ingatkan dia bahwa inti dari semua yang anda lakukan adalah untuk kebaikan anak-anak, dan tetap berusaha mengerti dan memahami posisi si mantan, bisa saja dia sebetulnya kewalahan mengasuh anak-anak namun egonya membuat ia ingin menunjukkan bahwa dia pun adalah orang tua yang baik, ini wajar saja asalkan dia tetap melakukannya untuk kebaikan anak-anak.

Pada akhir acara itu, keluarga tesebut terlihat harmonis walaupun kedua orang tuanya sudah tidak bersama-sama lagi, kedua anaknya tampak bahagia dan nyaman diantara kedua orang tuanya, dan mereka telah dapat bersama-sama melalui badai cobaan dari perceraian.  Menurut saya ini sangat indah, karena hal ini sedikitnya dapat membuktikan bahwa anak-anak pun dapat merasakan kehangatan kasih sayang orang tuanya yang telah bercerai.

Advertisements

When an Old Dog met a Single Mom

You can’t teach an old dog a new trick

hari pertama 2011 saya dan keluarga besar meluangkan waktu dengan menonton film Old Dogs di salah satu channel di tivi kabel, memang seperti film produksi disney yang lainnya tentu saja old dogs adalah film keluarga yang lucu dan dapat dinikmati oleh semua umur, kami semua LMAO ROFL dari awal sampai akhir film itu.

Namun setelah selesai menonton film itu, saya merasa ada yang sangat janggal dan akhirnya membuat saya muak dan menjadi “What the Heck ?!?!?!” seluruh film itu sangat absurd dan tidak logis, tentu saja semua exaggeration bertujuan untuk membuat film itu jadi lucu, namun saya saja yang terlalu berlebihan memikirkannya hingga jadi sakit kepala seperti ini !

well, ini kebiasaan jelek saya, harusnya saya tahu ada beberapa film yang harus ditonton tanpa menggunakan otak untuk menikmatinya !

Intinya begini, seorang cowok tua yang melajang-benci-dengan-anak-kecil bertemu dengan seorang wanita yang menarik, setelah berkencan tiba-tiba saja si wanita yang menarik itu memberikan kejutan lucu…. ternyata dia adalah single mother of two lovely-annoying bastards kids, dan besok dia harus pergi dan meninggalkan kedua anaknya kepada pacarnya yang malang beruntung itu

Satu hal yang saya kagum dengan si singel mom ini adalah, bagaimana dia bisa terjebak dalam stereotip “fairy-tales-princess” dan “happily-ever-after”, maksud saya andai saja si mommy itu masih berusia 20 tahunan maka saya bisa memakluminya, namun kenyataannya dia berusia 40 tahun dan memiliki dua anak, namun For God’s Sake dia masih berharap ada prince charming yang selalu siap sedia menyelamatkannya dan juga kedua anaknya !

Untung saja si lelaki malang baik hati ini berusaha sekuat tenaganya mati-matian mengorbankan segalanya bahkan juga pekerjaannya untuk bisa menjadi “ayah” yang baik bagi kedua anak si single mom itu.

Bagi saya ini adalah contoh yang tidak baik dari seorang single mother, dan dalam kenyataannya saya percaya tidak akan ada single mother yang akan berbuat sebegitu bodohnya kepada kedua anaknya dan pacarnya.

Pertama, memperkenalkan pacar barunya kepada anaknya sebelum hubungan mereka benar-benar serius, ini adalah Big No-No, maksud saya bagaimana jika ternyata si pacar itu adalah Child Abuser ? atau bahkan Pedophilia ? ini sama saja dengan memberikan anak anda kepada seorang total stranger yang anda sendiri belum kenal dengan baik. Apa yang akan diharapkan ? si pacar dalam waktu yang singkat tiba-tiba menjadi ayah yang sempurna bagi sang anak ? saya betul-betul yakin si single mom ini hidup dalam dunia fantasinya !

Jadi dalam reality, kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan pacar baru kepada sang anak ? tidak ada yang pernah tahu, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, namun setidaknya anda harus yakin dahulu bahwa hubungan anda dengan sang kekasih sudah betul-betul memasuki tahap yang stabil dan yakin bahwa hubungan ini memiliki masa depan yang jelas, barulah si pacar dikenalkan kepada sang anak, tentunya tanpa berharap bahwa si pacar akan seketika berubah menjadi pahlawan kesiangan bagi sang anak.

memang sering kali saya menemui artikel tentang single parents in relationship, can’t love my kids then can’t love me either, wow…. menurut saya ini terlalu berlebihan namun ada betulnya juga karena menjadi single parents berarti anda datang dengan satu paket lengkap bersama anak-anak anda dari perkawinan sebelumnya.  Namun sebetulnya apa yang anda cari ? pasangan ideal atau orang tua baru bagi anak-anak anda ? tidak ada pasangan yang sempurna dan begitu pula dengan anda sendiri, so you can’t have both of them, dan jikapun anda mendapatkannya keduanya berarti anda sangat beruntung.

Memperkenalkan pasangan kepada sang anak saat hubungan sudah serius adalah sangat penting, coba bayangkan jika anda terlalu cepat memperkenalkan anak dengan pasangan, kemudian dengan berjalannya waktu mereka sudah menjalin hubungan yang harmonis, dan tiba-tiba saja anda putus dengan sang pacar, maka tanpa anda sadari sebetulnya anak anda juga kehilangan sosok sang pacar dan ini tentu akan memberi dampak yang tidak baik baginya.

Sering kali saya berpikir, sebetulnya apa sih kelebihan seorang single parents dibandingkan dengan seorang lajang ? seriously, pernahkah anda bertanya mengapa dia memilih anda, padahal diluar sana masih banyak possible candidates yang jauh lebih muda dan tidak punya anak ??!! tentunya harus ada satu poin penting yang membedakan anda dengan para lajang itu, hingga kekasih anda memilih anda daripada si lajang !

Intinya semua kunci keberhasilannya ada ditangan si single parent, jika dia berhasil membina hubungan yang baik dengan kekasihnya, menjadi penengah bagi si pacar dan anaknya, menyadari bahwa semuanya memiliki proses masing-masing yang tidak dapat dipaksakan harus terbina dalam waktu yang singkat, maka saya percaya semua orang yang terlibat dalam hubungan ini akan merasakan manfaat dari hubungan yang indah ini suatu hari kelak.

So to all single parents, now it’s up to you whether you could be a good communicator between your partner and kids.

Dan kembali ke film yang tidak penting itu, tentu saja as usual the ending is suck but predictable….. si single mom hidup bahagia dengan pacarnya dan kedua anaknya, sedangkan si pacar tentu saja kehilangan singlehood-nya dan juga pekerjaannya, oh well, setidaknya dia mendapatkan si single mom dan her kids !