it’s Raport day !!!

tidak ada hari yang lebih menegangkan bagi para orang tua dibandingkan dengan hari penerimaan raport, ya tentu saja karena hari itu adalah hari penentuan apakah sang anak telah berprestasi di sekolahnya atau tidak

terutama setelah melalui hari-hari yang melelahkan belajar bersama anak, yang penuh dengan tegangan dan tekanan, jangan ditanya bagaimana stresnya menghadapi anak yang sulit belajar atau males juga tidak cepat menangkap pelajaran, padahal materi dari sekolah sudah sangat banyak

belum lagi tekanan dari lingkungan , terutama saat pertemuan keluarga, pastinya pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah : “Anak kamu rangking berapa disekolah ? ” atau  ” Nilainya bagus tidak ?”, “Ada merahnya ?” dan sebagainya

dilingkungan saya, baik ibu-ibu tetangga, maupun ibu-ibu yang lainnya, kelihatannya sangat cemas sekali dengan prestasi anaknya, mulai dari mengikutkan anaknya diberbagai les tambahan, memanggil guru les privat, belajar bersama….. semua itu dilakukan entah demi kebaikan si anak atau demi gengsi si orang tua, saya tidak pernah tahu.

tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya berprestasi disekolah, begitu pula dengan saya. namun bagaimana seorang anak dapat berprestasi disekolah dari inisiatifnya sendiri ? bagaimana orang tua bersikap dan bertindak agar anak memahami bahwa prestasi di sekolah itu pun sama pentingnya dengan bermain video game ?

Saya berusaha memahami hal ini dengan mengamati dari berbagai orang tua disekitar saya – sangat disayangkan tidak ada universitas untuk orang tua, jika ada saya pasti sudah kuliah lagi. kemudian saya simpulkan bahwa tidak ada satu pun orang tua yang sempurna, begitu pula dengan saya, yang saya hanya dapat lakukan adalah terus belajar menjadi orang tua yang baik.

pada awalnya saya sama sekali tidak dapat belajar bersama anak saya, kemudian saya memanggi guru privat yang sudah cukup saya kenal dengan baik, darinya saya belajar banyak mengenai parenting, walaupun dia hanya guru SD negri namun ilmu parentingnya cukup mumpuni.

menurut guru privat ini hanya 10% dari orang tua saja yang dapat mengajari anaknya sendiri, mungkin ini juga sebabnya Home Schooling pun tidak dapat menggantikan sekolah konvensional karena tidak semua orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya sendiri.

dan beberapa ilmu belajar bersama anak yang saya peroleh yaitu ; tidak boleh terlalu lama belajar bersama anak, daya tahan mereka masih belum sekuat kita, paling lama sekitar satu jam kemudian beri waktu jeda untuk menyegarkan pikirannya, itu sebabnya saya masih memperbolehkan si kecil menonton dan main game saat waktu jeda untuk mengistirahatkan otaknya.

selain itu, tentu saja suasana belajar harus tenang dan menyenangkan tanpa tekanan, jika hal ini tidak bisa orang tua ciptakan, jangan pernah sekali-kali belajar bersama si anak ! percuma saja kita menyindirnya, memaki-maki dan mengancamnya, hal tersebut hanya akan menghilangkan rasa percaya diri dan minat si anak untuk belajar.  suasana belajar yang ideal bagi saya adalah baik saya dan anak saya saling menikmati suasana belajar itu bersama-sama.

dan tentu saja tidak lupa memuji si anak dan menyemangatinya, hal-hal kecil seperti itu yang akan menumbuhkan rasa percaya dirinya, juga ingatkan dia untuk tidak takut apabila nilai ujiannya tidak sesuai dengan harapan, karena si kecil pun juga harus tahu bahwa kadang kala ia mengalami kegagalan dan tentu saja hal itu tidak menyurutkan minatnya untuk terus belajar.

saya ingat, beberapa tahun yang lalu saat saya sedang mengambil raport anak sulung saya, gurunya bertanya seperti ini :

guru : “Saya kagum dengan prestasi anak anda, apa rahasianya ya,bu ?”

saya : “Wah, itu dia ! saya pun juga tidak tahu ! Tuhan memang baik kepada saya sudah memberikan anak yang pintar seperti ini, padahal mamanya biasa saja, hahahahaaa….” (muka bego)

guru : “…………………” (bengong, jaws dropped)

Oh my Goat !!!

no, seriously…. saya telah berusaha tidak berharap anak saya berprestasi disekolahnya, saya selalu membayangkan worse case-nya anak saya memiliki prestasi yang dibawah rata2, dan jika hal itu terjadi saya tetap akan berusaha menyemangatinya, dan terus menunjukkan kasih sayang saya terhadapnya, bahwa saya telah memahami prestasi disekolah itu bukan segala-galanya, masih banyak hal lain dalam hidup ini yang harus dipelajarinya, dan the most important thing is to keep learning anything new everyday.

untungnya sekolah yang saya pilih tidak menetapkan rangking kelas, hingga saya merasa cukup tenang untuk tidak membanding-bandingkan anak saya dengan teman sekelasnya, namun ternyata malah saya selalu ditanya oleh orang tua lain ; “Hah ? gak ada rangkingnya ? sekolah macam apa itu ?”

bodo amat !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s