Belajar (lagi) menjadi orang tua yang baik

Beberapa hari belakangan ini saya mencari-cari artikel tentang parenting di berbagai media, baik cetak maupun dari internet. namun sejujurnya saya tetap tidak merasa puas dengan artikel-artikel tersebut, walaupun para penulisnya ngakunya sih sudah terkenal dan berpengalaman.

Mengapa saya merasa seperti itu ?

Karena menjadi orang tua adalah merupakan suatu proses hidup panjang yang amat disayangkan tidak ada satu sekolah pun yang dapat mengajarkan kita untuk menjadi orang tua yang baik.

Lalu orang tua yang baik itu sebetulnya apa ? Apa ada tolak ukurnya ?

Menurut saya ini sangat relatif dan intangible, dari berbagaimacam artikel yang panjang dan membosankan tersebut, ternyata juga tidak memberikan kesimpulan apa yang menjadi patokan utama untuk menjadi orang tua yang baik. ya tentunya sifat-sifat umum seperti baik hati, suka mendengarkan komplain si kecil, penuh kasuh sayang, dan sebagainya.

Dan pada akhirnya pertanyaan saya bermuara pada artikel-artikel dari blog orang tua yang sesungguhnya, hingga dapat saya temukan beberapa jawaban dari tulisan-tulisan mereka yang sederhana, tentang keseharian mereka dengan anaknya, bahkan ada yang hanya menulis tentang kisahnya bermain dengan anaknya dengan permainan yang sangat sederhana, lupakan nintendo dan playstation, bermain bersama lebih seru dibandingkan dengan permainan canggih itu.

jadi mungkin bisa saya rangkumkan beberapa kriteria orang tua yang baik, mengacu dari kisah-kisah sederhana para orang tua tersebut, yaitu :

  1. Tegas, ingat serial “Nanny 911” di metro tv ?  sang nanny tidak mengerjakan tugas si anak, namun menjelaskan tanggung jawab setiap anggota keluarga termasuk ibu, ayah dan anak. kemudian tiap anggota keluarga harus melaksanakan kewajibannya masing-masing, jika ada yang tidak melaksanakan, maka dia akan menanggung resikonya sendiri. inilah sifat yang seharusnya dimiliki orang tua, yaitu tegas dan konsisten dalam menerapkan peraturan kepada si anak.
  2. penuh kasih sayang, jika si anak bisa berkata kepada kita, tentunya mereka akan minta dipeluk dan dicium setiap hari, walaupun si anak sudah beranjak besar, menurut pendapat saya, sebetulnya dia masih mengharapkan adanya kontak fisik yang hangat dan tulus dari orang tuanya, tentunya disertai dengan ucapan kasih sayang dan pujian yang membangkitkan semangatnya.
  3. menjadi contoh yang baik. percuma jika anda menyuruhnya belajar dan sholat jika anda sendiri masih belum bisa mendisiplinkan diri sendiri, anak cepat menangkap kejanggalan ini dan pada akhirnya mereka akan merasa kebingungan dan suatu saat hal ini akan menjadi serangan balik si anak terhadap kemalasan orang tua.
  4. Hargai mereka, setiap anak seperti manusia pada umumnya memiliki harga diri, jika kita terus menerus menekan rasa harga diri mereka dengan memberikan komentar yang bernuansa negatif, jangan heran jika mereka nantinya akan tumbuh menjadi sosok yang tertutup, gelisah, cemas,dan  tidak percaya diri. sebelum kita berharap mereka akan hormat dan menghargai kita, harusnya kita yang terlebih dahulu menghargai mereka.
  5. Orang tua bukan sosok yang sempurna, kita hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah maupun benar, akuilah kesalahan yang telah kita perbuatan kepada si anak sendiri, jangan mencari-cari alasan untuk pembenaran atas perbuatan kita tersebut, anak adalah mahluk yang cepat memaafkan dan cepat melupakannya, tidak seperti kita, yang suka mendendam dan tidak gampang memaafkan. dengan mengakui kesalahan kita bukan berarti kita akan kehilangan harga diri di mata anak, namun anak akan belajar bahwa orang tuanya memiliki hati yang besar untuk mengakui kesalahannya.
  6. Senantiasa meluangkan waktu bersamanya, sesibuk apapun kegiatan kita, harus tetap diusahakan untuk meluangkan waktu dengan si anak, untung saja saat ini kita dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal komunikasi antar orang tua dan anak, tidak ada salahnya jika anda meluangkan sedikit waktu istirahat siang untuk menelfon anak atau sms dan bbm.  Percayalah, mereka akan senang dihubungi orang tuanya, jika hal ini rutin kita lakukan, mudah-mudahan saat mereka beranjak dewasa dan telah berpisah dengan kita, mereka akan tetap berusaha menghubungi orang tuanya.
  7. selalu memotivasi diri sendiri, untuk menjadi orang tua yang baik, niat tersebut harus muncul dari diri sendiri, jangan pernah menyerah dan selalu terus mempelajari hal-hal yang baru, terus terbuka terhadap berbagaimacam perubahan, saat era globalisasi ini, baik orang tua maupun anak akan terus mengalami evolusi dalam hubungan kekeluargaan.

Pada akhirnya, saya dapat menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik adalah proses yang panjang, namun jika kita dapat membuka diri kita terhadap perubahan dan tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik, maka yang akan memetik manfaatnya bukan hanya sang anak, namun juga para orang tua tersebut. sejujurnya artikel ini lebih ditujukan untuk diri saya sendiri yang tentunya sampai hari ini masih tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s