Homeschooling ~ sebuah proyek yang gagal

Sekitar tahun 2006 wacana homeschooling tiba-tiba menjadi tren dikalangan para orang tua, terutama karena salah satu penggagasnya adalah Kak Seto, mantan guru TK saya (uhuk-uhuk) dan banyak juga orang tua yang mencoba menerapkan homeschooling ini pada anaknya.

Saya pun juga termasuk salah satu dari mereka, jangan salahkan saya, sebetulnya saya diajak oleh saudara saya yang memiliki 4 anak itu (hihihii….) no, seriusly…. saya memang terpesona pada konsep homeschooling dengan segala macam kelebihannya, dan juga dimata saya ini adalah semacam gerakan anti monopoli terhadap sistem pendidikan kita yang aneh dan sudah terlalu komersil.

Dan kami pun mencoba melakukannya, dengan berbekal segala macam informasi yang telah dikumpulkan dari internet, kami merasa yakin dapat melakukan ini, ada tiga siswa angkatan pertama kami, dua dari anak saudara saya itu dan satunya lagi adalah anak bungsu saya.

dengan kurikulum ditangan kami, juga kami sudah mendapatkan guru privat untuk ketiga anak tersebut, maka kami memulainya, dengan harapan bahwa anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan yang memadai dibandingkan dari sekolah konvensional.

namun setelah beberapa bulan berjalan kami menemui berbagaimacam kendala, mulai dari kesulitan menghandle para siswa tersebut, kejenuhan, dan kebingungan menghadapai berbagai pertanyaan dari orang sekitar yang kebanyakan masih memandang skeptis terhadap sekolah rumahan.

Dan satu hal yang kami rasakan bahwa ada salah persepsi tentang kelebihan homeschooling, selama ini semua orang mengira bahwa homeschooling itu bisa lebih murah secara biaya dibandingkan dengan sekolah konvensional, itu adalah SALAH BESAR, saudaraku ! murah dan hemat dari segi mana dulu ? jika dibandingkan dengan sekolah bertaraf internasional yang uang pangkalnya saja bisa seharga mobil eropa, ya tentu saja homeschooling lebih murah.  Namun jika dihitung dari faktor energi dan waktu dari orang tua yang harus dicurahkan, maka homeschooling jauh lebih BOROS dibandingkan dengan sekolah konvensional.

Ya, bandingkan jika anak anda masuk disekolah umum, semuanya sudah disiapkan oleh sekolah terutama kurikulum pendidikan, namun jika anda menerapkan sekolah rumah bagi sang anak, maka adalah tugas anda sebagai orang tua untuk menggantikan FUNGSI sekolah konvensional tersebut !

Waw ! berat ya ?

Dan masalah lainnya lagi, seperti yang sudah pernah saya tulis diartikel sebelumnya, bahwa tidak semua orang tua dapat menjadi GURU yang baik bagi anaknya sendiri, bahkan seorang guru pun belum tentu bisa mengajari anak kandungnya sendiri. saya rasa mungkin ada faktor psikologis yang menghalangi orang tua untuk dapat menjadi guru bagi anaknya.

Oleh karena itupun di amrik sono, homeschooling tidak dapat menggantikan sekolah konvensional, walaupun mereka telah memiliki konsep yang sempurna, komunitas homeschooling yang terdapat disemua negara bagian, dan berbagai fasilitas lainnya. hingga homeschooling dipandang sebagai alternatif bagi orang tua yang dapat menerapkan konsepnya untuk anaknya.

dan begitulah nasib homeschooling di negri ini, namun saya masih yakin demandnya masih cukup tinggi, silakan lihat di homepage homeschooling di bagian comments-nya yang masih banyak yang bertanya tentang homeschooling :

http://www.homeschoolingindonesia.com/

Dan bagaimana akhir cerita proyek homeschooling kami ? maaf, ternyata sayalah yang pertama keluar dari situ (waduh!!! ) sebab didekat rumah saya ada sekolah TK yang cukup bagus dan tidak mahal,hingga akhirnya saya tidak kuat godaan dan memasukkan si kecil ke sekolah itu.

Sementara itu saudara saya masih tetap terus menjalankan homeschooling-nya sampai kedua anaknya masuk sekolah dasar.

Saya pernah membaca artikel, di daerah BSD, ada kursus bimbel yang menerima kursus paket kejar C (kalau tidak salah yang setara dengan SMU) dan itu dilakukan karena ada permintaan dari para siswa yang tidak lulus ujian nasional, hingga mereka harus mengulang pelajaran SMU lagi (correct me if i’m wrong)

Jadi saya berpikir, jika siswa bisa mengambil paket C, mengapa mereka tidak melakukannya dari dulu saja dan tidak perlu masuk SMU ? jika wacana homeschooling ini bisa berkembang kembali, tentunya para siswa akan terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak perlu seperti mengulang ujian nasional ini.

Hingga dapat saya simpulkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan jika kita ingin agar homeschooling kembali berkembang, yaitu :

  • Komunitas, sekolah rumahan dapat masuk dalam kategori organisasi non-profit, maka agar dapat berkembang, perlu komunitas yang kuat, memang sudah ada komunitas sekolah rumahan yang digagas kak Seto, namun sayangnya hingga saat ini para pelaku selkolah rumahan bergerak sendiri.
  • Dukungan dari partner, percuma saja anda mengembar-gemborkan sekolah rumahan keseluruh pelosok nusantara namun anda tidak mendapat dukungan dari suami or istri sendiri, ini adalah batu sandung terbesar dari sekolah rumahan, hal ini HANYA akan berhasil jika anda mendapat dukungan dan lebih baik lagi jika mendapat bantuan dari pasangan anda.
  • Pemerintah, sejauh ini memang depdikbud telah memberikan dukungannya terhadap gerakan sekolah rumahan, namun entah mengapa saat ini hampir sudah tidak terdengar lagi kelanjutan dari proyek sekolah rumahan ini, bagaimanapun solidnya komunitas sekolah rumahan, tetap memerlukan sokongan dari pemerintah.

All and All, saya masih menemukan segelintir orang tua yang sungguh berdedikasi demi pendidikan anaknya dan tetap terus menjalankan sekolah rumahan ini, regardless all those obstacles, yang tentu saja semua itu dilakukan dengan segala keikhlasan mereka…….

silakan lihat link berikut ini untuk segudang tips jitu tentang homeschooling dan parenting :

http://www.sumardiono.com/

http://www.daramaina.com/

http://rumahinspirasi.com/

Memilih Sekolah yang Tepat untuk anak

Tahun 2010 akan berakhir dan jika anda adalah orang tua dari anak yang telah memasuki usia sekolah inilah saatnya untuk mencarikan sekolah bagi si kecil.

eh, saya telat menulis artikel ini, karena beberapa sekolah swasta yang sudah beken tentu malah sudah menutup pendaftarannya, namun jangan khawatir, tentu saja anda yang belum mendapatkan jatah bangku sekolah untuk si kecil masih bisa mencarikan beberapa alternatif lainnya. atau, maaf, mungkin mencoba tahun mendaftar tahun depan saja, hihihiii……

back to the point, jadi bagaimana cara mencarikan sekolah yang paling baik untuk si kecil ?

itu semua tergantung dari kriteria yang anda inginkan, apa ingin sekolah umum, swasta atau agamis ? kurikulum konvensional atau modern ? bilingual atau triligual ? active learning atau international standard ? tuition fee mahal amit-amit-selangit atau paket-hemat-tambah-diskon yang irit ?

bingung kan ? ya, saya saja juga bingung setengah mati !

pertama, tentunya sebelum memilih sekolah yang tepat, kita harus mengumpulkan berbagai informasi, bisa dari iklan, namun yang lebih dapat diandalkan tentunya informasi dari sesama orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya disekolah tersebut.  pertanyaan penting adalah ; apakah mereka puas dengan kualitas sekolah tersebut, apakah sesuai dengan harapan mereka, dan apakah anaknya enjoy disekolah itu ?

Pada awalnya kita tentu tergiur untuk memasukkan anak kita ke sekolah yang sudah beken, namun pikirkan masak-masak sebelum menetapkan pilihan, datang ke sekolah tersebut dan cari informasi sebanyak-banyaknya, antara lain :

  • kurikulum sekolah, jangan segan-segan untuk menanyakan kurikulum apa yang digunakan disekolah tersebut, dan tanyakan apa manfaatnya bagi anak didik, karena ada juga beberapa kurikulum baru yang terlalu dipaksakan dan hanya akan menjadi beban bagi anak kelak.
  • biaya, tentu saja ini harus ditanyakan, idealnya uang pangkal sekolah dan uang SPP sesuai dengan kesehatan dompet anda, namun untuk beberapa sekolah yang bonafid tentu anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi, namun biaya sekolah yang mahal belum menjamin mutu pendidikan yang anak anda terima akan lebih baik, jadi berhati-hati terhadap hal ini.  juga cermati beberapa poin yang kadang kala tidak disebutkan diawal pendaftaran, seperti biaya daftar ulang, ada saja sekolah yang tidak profesional membebani orang tua dengan biaya daftar ulang setiap tahunnya, ini menurut saya sama saja dengan penipuan !
  • Guru ! ini adalah faktor terpenting dalam memilih sekolah, karena bagaimanapun hebatnya kurikulum yang diterapkan, dan fasilitas yang lengkap, semua itu tidak akan ada artinya tanpa keberadaan para guru yang handal. cari tahu latar belakang pendidikan para guru di sekolah tersebut, kalau ada free trial-nya, saya sangat menganjurkan bahkan mewajibkan anda untuk mencobanya, karena dari itulah kita dapat menilai kualitas guru dan bagaimana mereka berinteraksi dengan anak didiknya.
  • fasilitas, sekolah yang memadai tentunya memiliki fasilitas fisik yang sesuai untuk mendukung kegiatan sekolah, perhatikan bagaimana lingkungannya, bersih atau jorok ? terutama kamar mandinya, karena anak anda akan menggunakannya selama beberapa tahun. dan bagaimana dengan bangunan dan ruangan kelas juga ruang serbaguna ? apa sudah cukup memadai ? lebih bagus lagi jika sekolah tersebut dilengkapi dengan fasilitas tambahan seperti perpustakaan dan laboratorium. saran saya, fasilitas memang penting, namun tetap saja beberapa poin sebelumnya jauh lebih penting dibandingkan dengan kelengkapan fasilitas, jadi jangan mudah tertipu dengan penampakan gedung sekolah yang megah namun menyembunyikan kelemahan sekolah tersebut.

dari keseluruh poin-poin di atas, ada satu hal lagi yaitu proses pendaftaran. mengapa hal ini penting setidaknya bagi saya ? karena saya pernah mengurungkan niat untuk mendaftarkan anak saya pada satu sekolah yang cukup ternama, hanya karena saya merasa janggal dengan penerapan proses pendaftarannya.

dan kejadiannya begini, saat anak saya yang pertama sudah memasuki usia sekolah, sebetulnya belum juga sih, saat itu umurnya masih kurang dari tiga tahun, namun sebagai orang tua yang panikan saya bolak-balik kesana dan kemari untuk mencarikan sekolah yang paling bagus bagi si kecil ini,

kemudian saya mencoba mendaftarkan anak saya pada sekolah yang sudah terkenal ini, ternyata karena peminatnya sangat banyak, bahkan untuk mendaftarkan pada playgroup saja, saya masuk dalam daftar waiting list, itu sudah lebih baik, daripada tidak masuk sama sekali !

dan saat kami mengikuti tesnya…. ya, apa gak gila tuh, untuk masuk playgroup harus melalui tes ??? Tes yang diterapkannya agak aneh, anak saya harus masuk keruangan kelas sendiri dan tidak boleh ditemani oleh orang tua atau babysitternya, wah ini kelewatan menurut saya, karena mana mungkin anak seusia 3 tahun dapat dengan mandiri berpisah dengan orang tuanya dan pergi ke tempat yang asing ? saya perhatikan cukup banyak juga anak-anak balita yang menangis meraung-raung karena ketakutan dipisahkan dengan orang tuanya.

sedangkan anak saya, yah karena dia anak pertama dan masih manja dengan mamanya, dia tidak mau masuk ke ruangan kelas itu, saya tidak dapat memaksanya, dan kami pun tidak lulus tes tersebut, namun pihak sekolah masih berbaik hati memberikan tes susulan (apa ???) hanya saja saya sudah tidak berminat lagi…..

ini adalah metode licik dari sekolah itu untuk menyaring calon anak didik, jadi mereka selanjutnya sudah tidak perlu pusing lagi dengan anak-anak yang tidak mandiri atau bahkan yang memiliki kebutuhan khusus, padahal setahu saya untuk playgroup, TK, bahkan SD ada peraturannya yang tidak memperbolehkan sekolah mengadakan ujian masuk !

saya langsung tidak bersimpati dengan sekolah tersebut, dan pergi mencari sekolah yang lainnya.

intinya adalah, tidak ada sekolah yang sempurna, setiap sekolah memiliki kelebihan dan kekurangannya, tentu saja semua hal tersebut kembali kepada harapan orang tua dan kebutuhan anak anda dalam menimba ilmu dari institusi tersebut. mudah-mudahan tulisan ini bisa cukup membantu anda dalam menentukan sekolah yang baik bagi si kecil.

it’s Raport day !!!

tidak ada hari yang lebih menegangkan bagi para orang tua dibandingkan dengan hari penerimaan raport, ya tentu saja karena hari itu adalah hari penentuan apakah sang anak telah berprestasi di sekolahnya atau tidak

terutama setelah melalui hari-hari yang melelahkan belajar bersama anak, yang penuh dengan tegangan dan tekanan, jangan ditanya bagaimana stresnya menghadapi anak yang sulit belajar atau males juga tidak cepat menangkap pelajaran, padahal materi dari sekolah sudah sangat banyak

belum lagi tekanan dari lingkungan , terutama saat pertemuan keluarga, pastinya pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah : “Anak kamu rangking berapa disekolah ? ” atau  ” Nilainya bagus tidak ?”, “Ada merahnya ?” dan sebagainya

dilingkungan saya, baik ibu-ibu tetangga, maupun ibu-ibu yang lainnya, kelihatannya sangat cemas sekali dengan prestasi anaknya, mulai dari mengikutkan anaknya diberbagai les tambahan, memanggil guru les privat, belajar bersama….. semua itu dilakukan entah demi kebaikan si anak atau demi gengsi si orang tua, saya tidak pernah tahu.

tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya berprestasi disekolah, begitu pula dengan saya. namun bagaimana seorang anak dapat berprestasi disekolah dari inisiatifnya sendiri ? bagaimana orang tua bersikap dan bertindak agar anak memahami bahwa prestasi di sekolah itu pun sama pentingnya dengan bermain video game ?

Saya berusaha memahami hal ini dengan mengamati dari berbagai orang tua disekitar saya – sangat disayangkan tidak ada universitas untuk orang tua, jika ada saya pasti sudah kuliah lagi. kemudian saya simpulkan bahwa tidak ada satu pun orang tua yang sempurna, begitu pula dengan saya, yang saya hanya dapat lakukan adalah terus belajar menjadi orang tua yang baik.

pada awalnya saya sama sekali tidak dapat belajar bersama anak saya, kemudian saya memanggi guru privat yang sudah cukup saya kenal dengan baik, darinya saya belajar banyak mengenai parenting, walaupun dia hanya guru SD negri namun ilmu parentingnya cukup mumpuni.

menurut guru privat ini hanya 10% dari orang tua saja yang dapat mengajari anaknya sendiri, mungkin ini juga sebabnya Home Schooling pun tidak dapat menggantikan sekolah konvensional karena tidak semua orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya sendiri.

dan beberapa ilmu belajar bersama anak yang saya peroleh yaitu ; tidak boleh terlalu lama belajar bersama anak, daya tahan mereka masih belum sekuat kita, paling lama sekitar satu jam kemudian beri waktu jeda untuk menyegarkan pikirannya, itu sebabnya saya masih memperbolehkan si kecil menonton dan main game saat waktu jeda untuk mengistirahatkan otaknya.

selain itu, tentu saja suasana belajar harus tenang dan menyenangkan tanpa tekanan, jika hal ini tidak bisa orang tua ciptakan, jangan pernah sekali-kali belajar bersama si anak ! percuma saja kita menyindirnya, memaki-maki dan mengancamnya, hal tersebut hanya akan menghilangkan rasa percaya diri dan minat si anak untuk belajar.  suasana belajar yang ideal bagi saya adalah baik saya dan anak saya saling menikmati suasana belajar itu bersama-sama.

dan tentu saja tidak lupa memuji si anak dan menyemangatinya, hal-hal kecil seperti itu yang akan menumbuhkan rasa percaya dirinya, juga ingatkan dia untuk tidak takut apabila nilai ujiannya tidak sesuai dengan harapan, karena si kecil pun juga harus tahu bahwa kadang kala ia mengalami kegagalan dan tentu saja hal itu tidak menyurutkan minatnya untuk terus belajar.

saya ingat, beberapa tahun yang lalu saat saya sedang mengambil raport anak sulung saya, gurunya bertanya seperti ini :

guru : “Saya kagum dengan prestasi anak anda, apa rahasianya ya,bu ?”

saya : “Wah, itu dia ! saya pun juga tidak tahu ! Tuhan memang baik kepada saya sudah memberikan anak yang pintar seperti ini, padahal mamanya biasa saja, hahahahaaa….” (muka bego)

guru : “…………………” (bengong, jaws dropped)

Oh my Goat !!!

no, seriously…. saya telah berusaha tidak berharap anak saya berprestasi disekolahnya, saya selalu membayangkan worse case-nya anak saya memiliki prestasi yang dibawah rata2, dan jika hal itu terjadi saya tetap akan berusaha menyemangatinya, dan terus menunjukkan kasih sayang saya terhadapnya, bahwa saya telah memahami prestasi disekolah itu bukan segala-galanya, masih banyak hal lain dalam hidup ini yang harus dipelajarinya, dan the most important thing is to keep learning anything new everyday.

untungnya sekolah yang saya pilih tidak menetapkan rangking kelas, hingga saya merasa cukup tenang untuk tidak membanding-bandingkan anak saya dengan teman sekelasnya, namun ternyata malah saya selalu ditanya oleh orang tua lain ; “Hah ? gak ada rangkingnya ? sekolah macam apa itu ?”

bodo amat !

membuat permainan yang menarik bagi anak

Sabtu pagi, entah angin dari mana, tiba-tiba sepupu saya mentwit lagu-lagu favoritnya yang suka dinyanyikan bersama anaknya yang masih balita, lucu sekali ! saya langsung teringat dengan beberapa lagu favorit saya yang dulu sering saya nyanyikan bersama dengan anak-anak saya, langsung saja saya membalas twitnya dengan menimpalinya dengan judul-judul lagu anak tersebut.

Kemudian topiknya berkembang kearah pemainan anak, saya langsung teringat satu permainan kesukaan anak saya yang kecil, yaitu play dough, kami jarang membeli play dough yang sudah siap pakai, biasanya saya membuat sendiri play dough itu, ini resepnya :

  • kira-kira 100gr tepung terigu
  • 2 sendok makan minyak goreng atau secukupnya
  • air secukupnya
  • pewarna makanan
  • garam dan gula secukupnya

pertama, campur pewarna makanan ke dalam air, dan aduk rata, tujuannya agar warnanya dapat tercampur dengan rata, kemudian campurkan semua bahan dan aduk sampai kalis, seperti membuat adonan roti atau adonan kulit pizza. saya sebetulnya tidak pernah mengukur takaran adonan tersebut, semuanya hanya perkiraan saja, hehheheee

setelah itu lengsung dapat dimainkan bersama dengan anak-anak, gunakan peralatan dapur yang tersedia seperti talenan, garpu, sendok, pisau roti yang tumpul, spatula, dan sebagainya.

dulu waktu anak saya masih balita, kami hampir setiap hari memainkan play dough ini, ternyata ada dampak positif yang saya peroleh, anak saya yang kecil ketika sudah memasuki kelompok bermain, menunjukkan perkembangan yang pesat dalam motorik halusnya, yaitu kemampuan menulis dan membuat prakarya, gurunya pun kagum dengannya sampai bertanya kepada saya apa rahasianya, pada awalnya saya tidak mengetahuinya dan malah bingung sendiri, ternyata baru saya ketahui belakangan bahwa sering bermain play dough telah meningkatkan kemampuan motorik halusnya !

Selain itu play dough buatan sendiri aman jika tertelan oleh si kecil, bahkan saya kadang-kadang suka iseng menggoreng atau mengoven play dough yang telah dibentuk oleh si kecil, dan bisa dimakan juga ! ini boleh saja, asalkan pewarna makanan yang digunakan telah terbukti aman dan digunakan dalam porsi yang tidak berlebihan.

Selain bermain play dough, tentu saja saya suka membuat cairan sabun untuk bermain gelembung busa, saya hanya menggunakan sabun cair biasa dan sedotan untuk meniup gelembung sabun itu.

sepupu saya pun juga mentwit permainan kesukaan anaknya, yaitu bermain rumah-rumahan atau mobil-mobilan dengan kardus bekas, kami pun juga sering melakukan hal itu.

Memang rumah akan menjadi sangat berantakan jika kita bermain bersama anak-anak, namun bagi saya yang terpenting adalah saya bersenang-senang dengan mereka, saya berusaha tidak terlalu pusing dengan rumah yang berubah menjadi kapal pecah, toh nanti bisa dibersihkan lagi.

Intinya bagi saya, memiliki anak harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, buat apa memiliki anak namun kita tidak bisa bersenang-senang dengan mereka ? lupakan beban pelajaran dari sekolah, mereka sudah cukup terbebani dengan hal tersebut disekolahnya, waktu bersama orang tuanya harusnya menjadi waktu yang menyenangkan bagi mereka dan tentu saja bagi orang tuanya juga.

Belajar (lagi) menjadi orang tua yang baik

Beberapa hari belakangan ini saya mencari-cari artikel tentang parenting di berbagai media, baik cetak maupun dari internet. namun sejujurnya saya tetap tidak merasa puas dengan artikel-artikel tersebut, walaupun para penulisnya ngakunya sih sudah terkenal dan berpengalaman.

Mengapa saya merasa seperti itu ?

Karena menjadi orang tua adalah merupakan suatu proses hidup panjang yang amat disayangkan tidak ada satu sekolah pun yang dapat mengajarkan kita untuk menjadi orang tua yang baik.

Lalu orang tua yang baik itu sebetulnya apa ? Apa ada tolak ukurnya ?

Menurut saya ini sangat relatif dan intangible, dari berbagaimacam artikel yang panjang dan membosankan tersebut, ternyata juga tidak memberikan kesimpulan apa yang menjadi patokan utama untuk menjadi orang tua yang baik. ya tentunya sifat-sifat umum seperti baik hati, suka mendengarkan komplain si kecil, penuh kasuh sayang, dan sebagainya.

Dan pada akhirnya pertanyaan saya bermuara pada artikel-artikel dari blog orang tua yang sesungguhnya, hingga dapat saya temukan beberapa jawaban dari tulisan-tulisan mereka yang sederhana, tentang keseharian mereka dengan anaknya, bahkan ada yang hanya menulis tentang kisahnya bermain dengan anaknya dengan permainan yang sangat sederhana, lupakan nintendo dan playstation, bermain bersama lebih seru dibandingkan dengan permainan canggih itu.

jadi mungkin bisa saya rangkumkan beberapa kriteria orang tua yang baik, mengacu dari kisah-kisah sederhana para orang tua tersebut, yaitu :

  1. Tegas, ingat serial “Nanny 911” di metro tv ?  sang nanny tidak mengerjakan tugas si anak, namun menjelaskan tanggung jawab setiap anggota keluarga termasuk ibu, ayah dan anak. kemudian tiap anggota keluarga harus melaksanakan kewajibannya masing-masing, jika ada yang tidak melaksanakan, maka dia akan menanggung resikonya sendiri. inilah sifat yang seharusnya dimiliki orang tua, yaitu tegas dan konsisten dalam menerapkan peraturan kepada si anak.
  2. penuh kasih sayang, jika si anak bisa berkata kepada kita, tentunya mereka akan minta dipeluk dan dicium setiap hari, walaupun si anak sudah beranjak besar, menurut pendapat saya, sebetulnya dia masih mengharapkan adanya kontak fisik yang hangat dan tulus dari orang tuanya, tentunya disertai dengan ucapan kasih sayang dan pujian yang membangkitkan semangatnya.
  3. menjadi contoh yang baik. percuma jika anda menyuruhnya belajar dan sholat jika anda sendiri masih belum bisa mendisiplinkan diri sendiri, anak cepat menangkap kejanggalan ini dan pada akhirnya mereka akan merasa kebingungan dan suatu saat hal ini akan menjadi serangan balik si anak terhadap kemalasan orang tua.
  4. Hargai mereka, setiap anak seperti manusia pada umumnya memiliki harga diri, jika kita terus menerus menekan rasa harga diri mereka dengan memberikan komentar yang bernuansa negatif, jangan heran jika mereka nantinya akan tumbuh menjadi sosok yang tertutup, gelisah, cemas,dan  tidak percaya diri. sebelum kita berharap mereka akan hormat dan menghargai kita, harusnya kita yang terlebih dahulu menghargai mereka.
  5. Orang tua bukan sosok yang sempurna, kita hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah maupun benar, akuilah kesalahan yang telah kita perbuatan kepada si anak sendiri, jangan mencari-cari alasan untuk pembenaran atas perbuatan kita tersebut, anak adalah mahluk yang cepat memaafkan dan cepat melupakannya, tidak seperti kita, yang suka mendendam dan tidak gampang memaafkan. dengan mengakui kesalahan kita bukan berarti kita akan kehilangan harga diri di mata anak, namun anak akan belajar bahwa orang tuanya memiliki hati yang besar untuk mengakui kesalahannya.
  6. Senantiasa meluangkan waktu bersamanya, sesibuk apapun kegiatan kita, harus tetap diusahakan untuk meluangkan waktu dengan si anak, untung saja saat ini kita dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal komunikasi antar orang tua dan anak, tidak ada salahnya jika anda meluangkan sedikit waktu istirahat siang untuk menelfon anak atau sms dan bbm.  Percayalah, mereka akan senang dihubungi orang tuanya, jika hal ini rutin kita lakukan, mudah-mudahan saat mereka beranjak dewasa dan telah berpisah dengan kita, mereka akan tetap berusaha menghubungi orang tuanya.
  7. selalu memotivasi diri sendiri, untuk menjadi orang tua yang baik, niat tersebut harus muncul dari diri sendiri, jangan pernah menyerah dan selalu terus mempelajari hal-hal yang baru, terus terbuka terhadap berbagaimacam perubahan, saat era globalisasi ini, baik orang tua maupun anak akan terus mengalami evolusi dalam hubungan kekeluargaan.

Pada akhirnya, saya dapat menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik adalah proses yang panjang, namun jika kita dapat membuka diri kita terhadap perubahan dan tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik, maka yang akan memetik manfaatnya bukan hanya sang anak, namun juga para orang tua tersebut. sejujurnya artikel ini lebih ditujukan untuk diri saya sendiri yang tentunya sampai hari ini masih tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik.

Belajar bersama anak

setiap orang tua yang memiliki anak di usia sekolah pastinya ujian sudah menjadi mimpi buruk yang datang rutin setiap semester. entah apa karena beban pelajaran saat ini semakin berat atau karena impian dan harapan orang tua yang terlalu tinggi kepada sang anak, hingga membuat hampir semua orang tua panik dan cemas apabila sang anak tidak mendapatkan nilai yang bagus.

lalu apakah saya termasuk dalam gerombolan orang tua yang panik setiap ujian? sejujurnya, tentu saja saya panik, sama saja seperti orang tua lainnya saya berharap anak saya memperoleh nilai yang bagus di sekolahnya.

sebelum anak pertama saya mulai memasuki usia sekolah, saya sudah mempersiapkan berbagaimacam rencana untuk pendidikannya, termasuk pemilihan sekolah dan kursus tambahan yang akan diambilnya nanti. untung saja saya menemukan sekolah yang memiliki kurikulum yang tidak konvensional, mereka menerapkan prinsip bahwa pada dasarnya setiap anak itu berbeda dan mereka tidak akan membandingkan satu anak dengan yang lainnya.

Pada awalnya saya sangat ketat memberlakukan peraturan terhadap kedisiplinan belajar, namun justru disini kesalahan saya, memang kita perlu menerapkan kedisiplinan, tetapi tanpa memberikan tekanan terhadap sang anak.  Jadi pada intinya terapkan kedisiplinan dan tanggung jawab, misalnya jika si anak tidak belajar dan terus main, maka resiko yang akan dia peroleh adalah nilai pelajarannya tidak bagus. Kadang kala ada perlunya juga kita membiarkan anak kita menanggung sendiri resiko atas apa yang dia perbuat, hingga dia mengetahui akibat dari tindakannya tersebut itu.

Apa yang terjadi apabila kita menerapkan disiplin dengan tekanan ? otak manusia apabila menerima tekanan dan paksaan, akan bereaksi seperti otak primitif, yaitu reaksi dasar seperti memberontak, melawan dan marah. padahal niat awal kita memberikan tekanan adalah agar si anak menjalankan tugasnya, namun yang terjadi justru dia merasa tertekan dan membangkang, atau jikapun dia melaksanakan tugasnya, dia lakukan dengan setengah hati dan terpaksa.

saya tidak berharap anak saya belajar dalam kondisi seperti itu, yang saya harapkan dia belajar atas motivasinya sendiri dan juga karena dia mengetahui manfaat dari ilmu yang dia pelajari tersebut, tentu saja hal tersebut masih sulit ditumbuhkan dari anak seusianya, namun jika kita bersabar dan tetap terus memberikannya semangat, ternyata selanjutnya anak saya sudah mulai menunjukkan beberapa inisiatif dari dalam dirinya sendiri dalam urusan pelajarannya.

Hal yang paling penting adalah komunikasi, seberapa sibuknya anda, tetap berusaha setiap hari untuk meluangkan waktu untuk mendengarkan semua ceritanya, dan juga menanyakan pendapat pribadinya tentang hal apa saja, intinya kita harus menjadi pendengar yang proaktif bagi anak kita sendiri.  Jangan sampai mereka merasa tersisihkan oleh kesibukan kita sehari-hari.

lalu bagaimana apabila anak kita memiliki prestasi yang tidak sesuai dengan harapan kita ? jangan cemas atau menyalahkan diri sendiri, mungkin saja si anak itu memiliki bakat terpendam lainnya yang masih perlu digali dan diasah lagi, yang terpenting jangan sampai kekurangannya tersebut menyurutkan rasa percaya dirinya, tetap terus memberinya semangat untuk belajar, sambil terus berusaha mengembangkan bakatnya dibidang yang lainnya.

saat ini, saya dan anak saya sedang belajar bersama-sama untuk menyambut ujian semester, dengan belajar bersamanya, saya juga merasakan sulitnya beban pelajarannya, ini tentunya lebih efektif jika dibandingkan dengan hanya menyuruhnya belajar atau mungkin melimpahkan tanggung jawab belajar kepada nanny-nya. saya pun tidak melarangnya untuk menonton televisi atau main game, namun tujuan hiburan tersebut adalah sebagai pelepas kepenatan setelah belajar, hingga ketika otaknya sudah fresh lagi, kami siap untuk memulai pelajaran selanjutnya.

Pada intinya belajar merupakan proses, dan dalam proses tersebut bisa saja kita mengalami keberhasilan dan juga kegagalan. yang penting adalah tetap mengobarkan semangat belajar dan kepercayaan diri dalam anak kita.

Happily ever after ~ idaman setiap istri bawel

“kenapa ya sekarang suami saya sudah gak perhatian lagi ?”

“Sudah sering dia lupa sama hari jadian kami, hari perkawinan dan bahkan ultah saya !”

“Suami saya kalau di rumah kerjaannya nonton melulu, tidak pernah ngebantuin, malah bikin berantakan rumah terus.”

“Saya sudah gak pernah dipuji lagi sama suami, payah deh punya laki gak romantis!”

Begitulah komentar yang sering saya dengar dari berbagaimacam istri dari lingkungan saya, tidak perlu saya beritahu siapa saja mereka itu, namun yang pasti istri-istri bawel seperti ini jumlahnya sangat banyak dan tidak tertutup kemungkinan saya bisa termasuk dalam spesies ini, bahkan anda yang sedang membaca artikel ini pun bisa saja merupakan istri bawel juga.

mengapa saya kali ini hanya menyorot tentang masalah istri bawel ? hai ! apakah lelaki tidak ada yang bawel juga ? ya, mereka banyak yang nakal lho, suka selingkuh dan ada juga yang main kasar dengan istrinya. namun maaf kali ini saya membatasi topik ini khusus untuk para istri-istri bawel.

Begini, pada zaman dahulu kala, Tuhan menciptakan Adam dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan kekurangannya itu dilengkapi oleh Hawa, namun ternyata Tuhan memberikan limpahan emosi berlebihan dalam tubuh Hawa, emosi tersebut yang membedakan pola pikir Hawa dengan Adam, hingga saat ini sangat bijak bagi kaum adam untuk menjauh dari kaum hawa yang sedang dalam siklus menstruasinya setidaknya dalam radius 10 km.

Emosi ada kontradiktif dari akal sehat, dan hal ini yang mendominasi isi otak perempuan, saya sangat setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa rasio antara akal sehat dan emosi pada perempuan adalah 1 : 9

Hingga emosi mendominasi seluruh aspek dalam kehidupan seorang wanita, dan tentu saja seorang istri, marilah kita perhatikan jika seorang wanita akan menikah dengan pria pujaannya, tentu saja dalam benaknya masa depannya akan penuh dengan warna-warni kebahagiaan karena saat ini sudah ada lelaki idamannya yang akan senantiasa membahagiakannya selalu. namun dengan berjalannya waktu, sang suami kembali disibukkan dengan urusan perkerjaannya, dan mulai melupakan (sedikit) istrinya, sementara itu istrinya mulai berubah secara fisik, baik karena faktor usia maupun akibat dari hamil dan menyusui.

Namun otak perempuan tidak akan pernah lupa, bahkan ia akan selalu ingat akan hal-hal kecil, seperti misalnya kapan pertama kali berciuman, kapan pertama kali bertemu, dan sebagainya. sementara itu otak lelaki justru kebalikannya ! saat lelaki jatuh cinta, justru bagian otak yang bertugas untuk menyimpan memori tidak berfungsi ! dan ini akibatnya sangat fatal ! si istri yang menuntut suami selalu ingat akan hal-hal kecil dan harus selalu romantis setiap saat, sementara itu si suami sudah lupa dan tidak romantis lagi karena saat itu sudah disibukkan oleh pekerjaannya.

Hal ini diperparah oleh kebiasaan perempuan yang suka curcol kemana-mana, jadi jangan heran jika seorang istri bahkan bisa curhat tentang suaminya ke tukang sayur yang tiap hari datang ke rumahnya (waduh!)  jadi kemana saja si istri bawel itu curcol ? itu sangat sulit untuk dilacak, apabila seorang istri sudah sering mengeluhkan tentang kebiasaan buruk sang suami kepada suaminya sendiri, maka sudah dapat dipastikan orang-orang disekelilingnya sudah mendengarkan curhatnya, jadi secara teori sang suami baru mendengar curcol langsung dari si istri bawel itu setelah si istri bawel curhat ke semua orang sekampung.

Mengapa jarang sekali istri yang merasa bahagia dalam perkawinannya ?

di luar dari kasus saya, sebetulnya tentu saja inti permasalahannya adalah si istri bawel tersebut, karena apapun, Apapun – yang dilakukan oleh suaminya tidak akan pernah memuaskan dan membahagiakan sang istri bawel. mereka selalu menuntut lebih, dan jika suatu saat suaminya ditimpa musibah, mereka akan meratapi kemalangan dirinya dan menyangkal semua perbuatan baik yang pernah dilakukan suaminya terhadapnya.

intinya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa apabila kita mengandalkan orang lain ~ bahkan pasangan kita sendiri, untuk menghibur kita dan menjadi sumber kebahagiaan kita, maka tentu saja satu-satunya hal yang kita dapat adalah kekecewaan, karena sebaik-baiknya orang toh tidak ada yang sempurna, Tuhan Maha Adil telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, oleh karena itu sangat salah jika menuntut mahluk tidak sempurna sebagai Duta kebahagiaanmu.

Dalam agama saya, di kitab Al-Quran, kita telah diperintahkan untuk tidak melihat kepada kekurangan pasangan kita, karena mungkin saja ada banyak kelebihan yang tidak tampak selama ini oleh kita. Jangan lengah, jika anda selalu mengeluh tentang kekurangan pasangan anda, cobalah merenung dan bayangkan apabila pasangan anda sudah tiada dan anda terpaksa hidup sendiri, maka sanggupkah anda melaluinya tanpa dia disamping anda ?

The superior man is satisfied and composed; the mean man is always full of distress ~ confucius

then there’s no such thing as happily ever after, hal tersebut hanya ada dalam dongeng zaman dulu saja, kebahagiaan yang hakiki adalah berasal dari dalam diri sendiri, namun diperlukan hati yang tulus, suci, rendah diri dan ikhlas untuk dapat menemukannya.