Aksiomatis dari Hadist 73 Golongan

Menarik memang melihat perkembangan Islam pada era modern ini terutama di awal abad 20 terlihat bagaimana Islam berupaya untuk melakukan reformasi agar bisa melawan kolonialisme dan ideologi sekular seperti Marxisme.

salah satu organisasi terbesar di awal abad 20 yaitu Tarbiyah atau Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood yang dipimpin oleh Hasan Al Bana telah berhasil mentransform pendidikan Tasawuf yang cinta damai dan non-violence itu menjadi gerakan anti kolonialisme dan anti sekular.

Organisasi ini walaupun berdasarkan pada ajaran Tasawuf namun berhasil membuktikan bahwa ajaran Tasawuf bisa menjadi gerakan politik, yang dimana sampai saat ini sebagian kaum muslim masih percaya bahwa kelompok ini adalah apolitikal.

tapi akibat dari dinamika politik yang membuat organisasi ini saat ini mengalami guncangan, maka muncul aliran yang menyebut sebagai Salafi yang sebenarnya kurang lebih juga berdasarkan dari ajaran Tasawuf. namun Salafi sangat anti politik – yang amat wajar mengingat asal muasalnya dari negri petromonarki Saudi Arabia.

Ciri khas pertama dari aliran ini adalah ajarannya yang sangat dogmatis, terutama mereka bertumpu pada unsur “Fear Factor” untuk mengikat para pengikutnya agar tetap setia pada ajaran mereka itu.

Jangan salah dulu, saya berkali-kali selalu menegarkan bahwa saya tetap pro pada gerakan salafi walaupun saya punya beberapa daftar problem yang saya temui pada ajaran ini.

namun yang paling problematik adalah penafsiran hadist yang menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang akan masuk surga yaitu “Al-Jamaah”

“sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Hadist ini menjadi tumpuan para pemuka Salafi untuk menyalahkan aliran ahlussunnah lainnya, dan mengakibatkan masalah yang muncul saat ini.
namun pertanyaannya adalah : apakah benar hadist ini dapat diklaim sebagai membenaran atas Salafi kepada aliran lainnya ?
saya pernah mendengar penjelasan dari salah satu ulama salafi modern yaitu Syaikh Yasir Qadhi dan beliau menjelaskan secara terinci tentang arti 73 golongan secara linguistik, ternyata 73 golongan itu adalah semacam kiasan atau retorik, yang tidak bisa diartikan secara mentah bahwa akan ada 73 golongan, namun bisa jadi itu semacam kiasan bahwa umat akan terpecah menjadi golongan yang sangat banyak.
jadi hadist 73 golongan ini adalah semacam retorik, yang intinya sebenarnya bukan untuk menyalahkan golongan lainnya namun untuk mengingatkan kita agar tetap terus berpegang pada ajaran Quran dan Sunnah.
dan Hadist ini menjadi aksiomatik karena jika ada golongan yang mengklaim bahwa dialah yang paling benar dan aliran lainnya salah – maka golongan itu berhenti menjadi Ahlussunah.
dan juga kepada golongan yang disalahkan, jika mereka bereaksi dan menyalahkan golongan yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli neraka, maka mereka pun juga berhenti menjadi Ahlusunnah, karena alih-alih seharusnya mereka berusaha berintrospeksi melihat apakah ada kesalahan yang mereka lakukan, justru mereka membuat kesalahan baru dengan berlaku radikal dan ektrimis.
Jadi kita sebenarnya saat ini hidup dimasa dimana semua aliran ahlusunnah dalam persimpangan, apabila mereka tidak berupaya untuk melakukan reformasi dalam diri mereka dan berusaha agar bisa menerapkan konsep pluralisme secara spiritual maka mereka tinggal menunggu waktu saja sampai digantikan oleh generasi berikutnya.
karena jika mereka tidak melakukan hal itu maka mereka akan terus hidup dalam kurungan gelembung yang mengisolasi mereka dari dunia luar.

 

Advertisements

Materi Ekskul Desain Grafis Semester 1

Alhamdullilah wasyukurillah akhirnya saya bisa mengumpulkan semua materi desin grafis untuk Sekolah Dasar semester 1.

Materi ini berdasarkan dari semua materi yang saya ajarkan di Sekolah Dasar Tanah Tingal, materi ini berupakan materi yang bersifat praktikal karena langsung dapat dikerjakan tanpa harus mendalami fungsi-fungsi dan fitur dari software yang digunakan, sengaja dibuat demikian karena yang saya ajarkan adalah siswa-siswa SD yang lebih tertarik jika saya langsung memberikan materi yang langsung tampak hasilnya.

20160804_142300

Terima kasih kepada Bapak Riyogarta yang telah memberikan saya kesempatan kedua untuk mengajar desain grafis di sekolah ini, juga Bunli Yuliazmi , bunda dari Agha yang terus memberikan masukan dan support kepada saya. saya sangat berterimakasih karena mereka berdua yang sangat berjasa dalam hal ini.

tentunya materi ini akan dilanjutkan untuk semester kedua, dimana saya akan mencoba menggali materi untuk animasi dengan software opensource ini.

terima kasih dan selamat mendownload

Materi_Ekskul_Desain-Grafis_semester1

Pembebasan dari Kesalahan dan Culture of Doubt – kesalahan ketiga masa kini

Bismillahirrohmaa nirrohiim,

Saya sadari bahwa yang akan saya tulis ini sebenarnya tidak cukup sekedar suatu posting di blog saja, karena banyaknya referensi yang saya gunakan – namun saya hanya akan mengambil yang benar-benar esensial saja

Setelah mempelajari sejarah, memang saya lihat bahwa semua kejadian hari ini adalah refleksi dari masa lalu, apa yang telah terjadi di masa lalu bukan suatu kejadian yang tidak paralel dengan saat ini, namun kesalahan pertama saya ketika mempelajari sejarah adalah terlalu banyak mengandalkan pada data-data tanpa berusaha memahaminya dengan kacamata di masa itu.

suatu pemikiran yang terlalu sempit, karena walaupun pada masa lalu itu Islam memang mengalami kejayaan, namun mereka gagal memahami bahwa Islam pada saat itu berhasil memasuki kondisi holistik – dimana konsep Pluralisme secara Spiritual tercapai.

saya tidak perlu bersusah-payah mencari contohnya, ternyata apa yang dilakukan oleh Para Walisongo (The Javanese Saints) adalah contoh pluralisme yang sangat luarbiasa, mereka datang membawa ajaran Islam yang sesuai dengan Sunnah namun berhasil meleburkannya dengan falsafah kehidupan orang jawa yang berbudi-pekerti luhur dan santun dan suka dengan kesenian.

Kita bisa melihat dari lirik lagu “Tombo Ati” yang sejatinya adalah ajaran tentang pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs) betapa indahnya lagu itu, tanpa perlu bersusah-payah menerangkan tentang kepentingan melakukan ritual ibadah – seperti yang dilakukan oleh para “Polisi Haram” saat ini, Para Walisongo berhasil menyebarkan Islam keseluruh Jawa.

Pertanyaannya : kenapa kita tidak melakukan lagi apa yang telah dilakukan para Walisongo itu.

Marilah kita lihat bagaimana perkembangan Islam di zaman modern ini, pertama yang saya lihat di periode 80an adalah kemunculan dua aliran ; pertama aliran Liberal yaitu mereka yang mengaku membawa pembaharuan dalam Islam, yang kedua adalah Aliran Sufisme yang dibawa oleh gerakan Tarbiyah yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir itu.

Gerakan Liberal memiliki semua persenjataan untuk menyebarkan falsafahnya, mereka memulai dengan menyuruh kita mempertanyakan kenapa kita memilih Islam, apakah kita menganut agama ini hanya karena kita terlahir sebagai muslim, kenapa kita harus menyembah Allah, suatu pertanyaan yang akan mengguncang akidah semua umat muslim, hingga aliran ini dijauhi oleh mayoritas umat ini.

sedangkan aliran Tarbiyah lebih berfokus pada ajaran Sunnah, apa yang mereka bawa tidaklah berbeda dengan aliran2 Ahlusunnah sebelumnya, namun perpecahan terjadi saat aliran ini mulai masuk ke politik karena sebagian dari pengikutnya percaya bahwa seharusnya kelompok sunnah tidaklah bermain politik.

kelompok yang memisahkan diri itu kemudian bergabung dengan Salafi, yang dikenal sebagai kelompok yang mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar sesuai sunnah dan menuding kelompok2 lainnya adalah termasuk kelompok yang dalam 72 aliran yang masuk neraka – suatu klaim yang sangat bermasalah hingga sampai hari ini masih terus membuat pertikaian antara aliran ahlussunnah di negri ini.

Saya tidak bisa berbohong bahwa aliran Salafi ini banyak memberikan manfaat pada ilmu agama saya, namun disisi lain Salafi telah mengubah pola pemikiran saya secara drastis, hingga hampir saya merasa bahwa benar cara pandang hitam-putih yang hanya bisa melihat kesalahan pada suatu hal jika bertentangan dengan sunnah – tanpa bisa melihat aspek lainnya.

hal yang sangat signifikan dari ajaran Salafi ini adalah mereka sangat anti pada Imam Al-Ghazali, sering disebutkan adalah kajian maupun artikel mereka bahwa Imam Al-Ghazali adalah biang keladi pencampur ilmu agama dengan filsafat, bahkan mereka melarang keras para pengikut Salafi untuk mempelajari buku-buku Al-Ghazali, sementara itu para ustad Salafi masih mengutip referensi dari buku-buku Al-Ghazali untuk mencari kaidah-kaidah fiqih (hukum shariah)

Keanehan ini membuat saya mencoba mempelajari buku-buku Al-Ghazali, terutama buku yang menjadi sorotan para ulama Salafi yaitu “al-Munqidh min Dholal” Pembebasan dari Kesalahan (Deliverance from Error)

di dalam buku itu dibuka dengan pertanyaan yang sama dari kaum Liberal yaitu : kenapa kita menjadi Islam ? dan apakah fitrah itu ?

Karena pertanyaan ini yang membuat Al-Ghazali dijadikan contoh kesalahan oleh para ulama Salafi – Bahkan Syaikh Yasir Qadhi pernah memberikan ceramah yang menyalahkan Imam Al-Ghazali tentang hal ini juga (tidak heran karena Syaikh Yasir Qadhi pun beraliran Salafi)

Namun para Ulama Salafi tidak membaca buku itu sampai habis, ternyata Al-Ghazali melakukan apa yang saat ini disebut sebagai “Culture of Doubt” bukan untuk melemahkan akidah kita namun sebaliknya adalah untuk MENGUATKAN AKIDAH

karena jika kita melakukan culture of doubt pada keyakinan yang lemah maka akan membuat kita meninggalkan keyakinan itu dan beralih pada keyakinan yang benar,

namun jika kita melakukannya pada keyakinan yang sebenar-benarnya dari Tuhan maka kita akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang kita buat dari prasangka dan persepsi yang dibuat oleh manusia – hingga membuat keimanan kita jadi terlahir kembali dan memurnikan hati dan meluruskan niat kita semata hanya untuk Allah.

Ada dua pemikir besar saat ini yang hasil pemikirannya berdasarkan dari teori Deliverance from Error itu, mereka adalah Syaikh Hamza Yusuf dan Prof. Tariq Ramadan, dan juga Dr. Murad dari Cambrige

Syaikh Hamza Yusuf terkenal dengan konsep Tazkiyatun Nafs, dimana beliau berusaha menjelaskan bahwa hal yang paling utama adalah hati yang hidup, karena hanya hati yang hidup bisa merasakan Tuhannya di dunia ini dan akan benar hidup sebenar-benarnya hidup, dan hati yang gagal melakukan itu akan mati, bahkan mati sebelum jiwanya pergi ke alam kubur.

sedangkan Prof Tariq Ramadan menuliskan falsafah The Quest for Meaning, dimana beliau menjelaskan bahwa jika kita tidak berhasil menemukan arti dari ritual ibadah maka kita akan terus terpuruk, dan juga beliau menggarisbawahi tentang ilusi mayoritas – bahwa muslim saat ini merasa bahwa mereka harus unggul secara jumlah, bukan secara kuantitas. hal itu yang membuat muslim yang hidup dinegri mayoritas muslim menjadi kesulitan menemukan akidahnya yang murni.

kembali lagi pada Imam Al-Ghazali, dalam beberapa bukunya beliau sempat berselisihpaham dengan para pendukung ilmu filsafat, namun ternyata Imam Al-Ghazali bukanlah orang yang anti ilmu filsafat, beliau hanya menggarisbawahi bahwa ilmu ini bisa diambil manfaatnya dan sebagian harus ditinggalkan jika bertentangan dengan Quran dan Sunnah.

saya tidak tahu berapa banyak ulama yang masih mempelajari ilmu filsafat (selain kaum liberal) dan Buya Hamka yang bermanhaj Salafi itu sering mengutip ajaran Socrates, Aristoteles dan Plato dalam tafsir Al-Azhar dan buku-bukunya.

ini membuat saya berpikir bahwa manhaj sunnah dulunya membolehkan mengutip ilmu filsafat yang bermanfaat untuk agama, jadi saya pikir jika kita kembali menggunakan ilmu filsafat maka kita sebenarnya sedang mengembalikan ilmu filsafat pada penemunya yaitu kaum Ahlussunnah.

Tulisan ini harusnya tidak berhenti disini saja tapi saya pikir setidaknya saya sudah menjelaskan pokok permasalahannya dan sudah membuka jalan untuk solusinya.

pada intinya kita harus menguatkan dan memperbanyak ibadah, menguatkan niat ikhlas hidup semata hanya untuk Allah, membersihkan hati agar bisa menerima kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu-belenggu kehidupan semu ini dan masuk kedalam kehidupan yang nyata dimana kebahagian sejati tiada henti yang berasal dari cinta tulus kepada Tuhan Sarwa Sekalian Alam

mari kita kembalikan Pluralisme dan Liberal pada Ahlussunnah.

 

Artikel terkait :

Kesalahan pertama

Kesalahan kedua

 

 

 

Jane Austen, Ilusi kesombongan dan prasangka, dan hati nurani

pernah saya menonton Bridget Jones Diary dan entah kenapa saya merasa plot cerita dan dialognya agak mirip dengan novel yang dulu pernah saya baca yaitu Pride and Prejudice karangan Jane Austen.

Memang film Bridget Jones lebih mudah dicerna untuk penonton masa kini karena dengan tema wanita single yang dilematis, namun pengarang Bidget Jones tidak menyangkal bahwa kisah Brigdet Jones terinspirasi dari Austen yang memang plot ceritanya itu juga menginspirasi banyak novel-novel romantis masa kini.

Lucunya novel Austen itu pada masanya tidak masuk kategori romantis, namun malah masuk kategori satir, karena dibalik tema kisah cinta ternya Austen banyak mengkritik kehidupan sosial pada masanya yang terlalu mementingkan kedudukan status sosial dan harta.

Bahkan novel Austen ini banyak menjadi kasus studi, dan ada juga yang mencoba mengambil sisi relijius dari novel ini, bukan karena novel ini menggambarkan kisah cinta yang tanpa sex – sesuai dengan peraturan agama, namun karena novel Austen menggarisbawahi prinsip dasar bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita menilai orang lain yang hadir dalam hidup kita.

misalnya saat Mr. Darcy berkata bahwa Ms. Bennet tidak cukup cantik untuk menarik perhatiannya itu, namun semua tindakan dan tingkah laku Mr. Darcy justru menunjukkan bahwa dia sangat memiliki perhatian khusus pada Ms. Bennet, atau saat Ms. Bennet menolak lamaran Mr. Darcy dengan alasan karena Mr. Darcy yang menyebabkan kakaknya tidak dapat menjalin kisah cinta dengan lelaki idamannya, padahal jelas bahwa Ms. Bennet sedang mengambil keputusan yang berdasarkan prasangka dirinya sendiri, bukan berdasarkan pemikiran yang matang atau dari suara hatinya yang sebenarnya memiliki juga perasaan khusus pada Mr. Darcy.

semua contoh-contoh plot di atas menggambarkan bagaimana kita juga dalam keseharian kita melakukan banyak kesalahan akibat prasangka dan kesombongan kita hingga kita tidak bisa mendengarkan apa yang ada dalam pikiran kita atau apa yang ada dalam hati nurani kita.

mungkin ini yang menyebabkan saya tidak bisa mengabaikan karya Austen, walaupun sudah banyak novel-novel lainnya, namun karangan Austen memberikan arti khusus pada cara berpikir dan bagaimana harusnya kita mempertimbangkan pemikiran dan tindakan sebelum kita paham bahwa kesombongan dan prasangka adalah ilusi yang menutupi hati nurani kita.

Maka perjuangan dalam hidup ini adalah bagaimana kita bisa membuka selubung-selubung kesombongan dan prasangka, hingga kita bisa melihat dengan hati, mendengar dengan hati, berbicara dengan hati dan berpikir dengan hati.

 

images.duckduckgo.com

 

Self Deprecating – seni merendahkan diri untuk meninggikan status dan kesalahan pemahaman status Nabi

Saya sejak dulu sering bilang ; selalu berhati-hati dengan orang yang merendahkan dirinya, sebab selalu ada dua kemungkinan : pertama, dia jujur dengan kondisinya, kedua, dia sedang menyembunyikan kelebihannya agar tampak bersahaja.

Dalam humor, dikenal seni merendahkan diri atau “Self Deprecating” yang sering ditemui di humor-humor versi stand up comedian, self-deprecating adalah suatu retorik yang sangat powerful hingga membuat humor selalu menjadi relevan untuk di masa apapun dan di status sosial manapun.

Ahli Filsafat Aristotle menggambarkan seni merendahkan diri pada tokoh “Eiron” yang selalu berhasil mengalahkan lawannya “Alazon” dengan merendahkan dirinya.

ini  sangat menarik karena seni retorik yang merendahkan diri bisa menjadi senjata ampuh untuk memenangkan perdebatan, karena Eiron sebenarnya lebih memiliki ilmu dibandingkan Alazon, namun karena Eiron selalu merendahkan dirinya sedangkan Alazon selalu melebihkan kemampuannya maka Eiron bisa dengan mudah mengalahkan Alazon.

dan pada masa ini kita sering melihat tokoh terkenal merendahkan dirinya dengan berkata bahwa dia adalah orang biasa juga, misalnya seorang selebriti menertawakan dirinya yang ternyata bisa seperti orang biasa yang mencari jodoh di media sosial, atau naik transportasi publik dan makan makanan junk food.

kita akan menjumpai hal itu sebagai hal yang menarik, kenapa ? karena tokoh terkenal itu saat menyatakan dirinya adalah orang biasa sebenarnya sedang membuat pernyataan retorik bahwa dirinya bukan orang biasa.

namun kita yang hidup dimasa ini sudah tidak memiliki keahlian dalam ilmu bahasa seperti orang yang hidup dimasa lalu, mereka tidak perlu mempelajari ilmu retorik untuk memahami bahwa tokoh terkenal tidaklah sama seperti orang biasa.

dan hal itu yang terjadi ketika kita membaca bagian pada Kitab yang menyebutkan bahwa Nabi adalah manusia biasa, dan kita mempercayainya bahwa Nabi adalah manusia biasa, padahal orang dimasa lalu (beriman atau tidak) saat mereka mendengarkan pesan itu maka mereka langsung paham bahwa Para Nabi bukan Manusia biasa

alasan sederhannya : Manusia biasa tidak akan pernah mengakui bahwa ia manusia biasa

namun apa yang terjadi akibat hilangnya ilmu retorik self deprecating itu ? saat ini hampir semua ilmuan (baik ulama muslim maupun orientalis barat) berusaha membuktikan bahwa Para Nabi adalah manusia biasa, hal yang tidak dilakukan oleh umat sebelumnya.

saya sudah menemui banyak hal tentang ceramah atau tulisan mengenai hal ini, dan saya baru bisa memahami saat ini kenapa kita tidak bisa memiliki keimanan seperti umat terdahulu adalah karena kita tidak bisa memahami bahwa Para Nabi yang manusia biasa itu adalah bukan manusia biasa dan pesan yang dibawa oleh mereka adalah pesan yang tidak boleh dianggap enteng.

ada banyak contoh-contoh usaha memanusiakan Para Nabi, salah satunya adalah mencari bukti bahwa fisik Nabi sama seperti manusia biasa, bahkan ada yang menyebutkan bahwa wajahnya tidak bersinar seperti lampu (astagfirullah) atau ada juga yang membandingkan kegantengan antara Nabi satu dengan Nabi lainnya.

ada banyak referensi dari kitab-kitab lama terutama dari Sahih Bukhari tentang ciri fisik Nabi Muhammad SAW dan disitu akan kita bisa lihat dengan jelas mengapa para sahabat seperti kesulitan mencoba menggambarkan ciri fisik Nabi, atau Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata bahwa Nabi Muhammad tidak sama dengan siapapun dan dia tidak pernah melihat orang serupa dengan Nabi setelah wafatnya.

juga dalam ilmu bahasa linguistik, ketika Nabi mengucapkan kalimat “Saya hanya manusia biasa yang membawa pesan dari Tuhan-mu” mengandung kalimat penegasan bahwa Para Nabi selain bukan manusia biasa namun juga figur pemimpin dan figur bapak bagi umatnya.

hal itu yang tercermin pada generasi-generasi awal Islam, terutama para sahabat yang hidup berdampingan dengan Rasulullah, mereka mencintai sepenuh hati, bahkan rela mengorbankan jiwa, keluarga dan harta untuk Rasulullah, dan ketika Rasulullah wafat mereka seakan-akan kehilangan cahaya hidupnya, gambaran kondisi kota Madinah seperti diliputi oleh kesedihan dan depresi mendalam, jika saja Abu Bakar As-Shiddiq tidak memberikan pidatonya yang terkenal itu mungkin mereka tidak akan pernah bangun dari kesedihan itu.

saya percaya bahwa saat ini kita sebagai umat muslim masih menyimpan rasa cinta itu, namun yang harus ditanyakan apakah rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad sama dengan yang dirasakan umat terdahulu ? bagaimana kita bisa mendalami agama ini jika perasaan kita tidak sama dengan umat terdahulu ? padahal kita selalu membanggakan kehebatan umat terdahulu dengan segala kehebatan mereka namun ternyata hal terpenting ini justru kita lewati saja.

sebagai penutup, ada perkataan seorang ulama tentang gambaran Nabi : “Nabi dan umatnya adalah bagaikan batu permata dan kerikil, memang keduanya sama-sama batu, namun apakah batu permata sama dengan kerikil ?”

untuk memulai perjalanan cinta kepada Allah, kita awali dengan mencintai Nabi-Nya, untuk mencintai Nabi-Nya, kita awali dengan memiliki keyakinan bahwa Nabi-Nya bukan manusia biasa.

(Bagian kedua dari Tiga kesalahan orang masa kini)

 

 

 

 

Konsep Ketuhanan – kesalahan pemahaman masa ini

Dari dulu saya selalu suka membaca buku-buku zaman dulu, sambil membayangkan hidup di masa itu, baik buku fiksi maupun non fiksi, dan saya temukan banyak perbedaan gaya hidup dan cara berpikir mereka yang hidup di masa itu dengan kita yang hidup di masa modern ini.

Makin lama saya melihat banyak hal yang timbul akibat ketidakmampuan kita memahami suatu konsep yang sebenarnya mudah di masa lalu, dan salah satunya adalah konsep Ketuhanan.

sebagai catatan ; saya sebelum menuliskan ini selalu mempertanyakan niat saya, karena jika saya menulis tentang suatu hal tanpa niat yang lurus maka sebenarnya saya sedang membodohi diri saya sendiri, jadi saya berusaha senantiasa menjaga kelurusan dalam niat saya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang membaca-baca referensi tentang Perang Saudara (Civil War) di Amerika, saya menemukan kumpulan surat-surat dari panglima konfederasi Robert E.Lee , dan pada surat yang ditujukan kepada istrinya, ia bercerita tentang kekalahan pasukan konfederasi dengan pasukan Union, hingga Robert E.Lee dan keluarganya harus meninggalkan rumah mansion yang diambil oleh pasukan Union.

E.Lee menuliskan bahwa ia sedang merenungi hikmah dibalik musibah itu, dan ia sadar bahwa hal ini terjadi akibat ia kurang bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang selama ini ia peroleh dari menempati mansion itu.

Bukan pasukan Union yang disalahkannya, atau pasukan konfederasi yang disalahkan akibat kalah dalam berperang, itulah cara pandang orang awam pada masa lalu.

Dan bagaimana pada masa kini ? pada waktu terjadi tornado di negri itu, ada seorang pendeta yang berkata bahwa tornado ini adalah kiriman Tuhan akibat rakyat Amerika tidak bersyukur, maka kita paham bahwa pendeta itu mendapatkan reaksi yang tidak pantas dari rakyat Amerika

Atau baru-baru ini terjadi penembakan di gereja di Texas, dan salah satu korban adalah seorang putri dari pendeta, dan apa yang dikatakan oleh pendeta yang masih berduka itu ?

“I don’t understand, but I know my God Does, and I leave to that”

lama saya merenungi ucapan pendeta itu, bahwa kita harusnya memiliki keyakinan seperti itu bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini adalah Hak Tuhan, dan kita hanya berusaha memahaminya bahwa Dia memiliki Hak penuh atas apapun pada kita.

namun apa yang menjadi reaksi atas perkataan pendeta itu ?

“God doesn’t hear you, He doesn’t care about you”

“God is not exist, you’re a weak minded fool”

People need to remove the word God, dumb advice” and so on and so forth….

inilah manusia zaman sekarang, mereka pikir mereka sudah pintar karena mengaku memiliki logic, padahal konsep Ketuhanan saja tidak sanggup mereka pahami, dan ketika musibah terjadi, alih-alih berusaha bersabar, mereka menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang ada dalam hidup.

Pernah pada suatu jamuan makan malam yang menyenangkan, kalau tidak salah ada tamu yang bernama Richard Dawkins, setelah jamuan selesai, seorang bertanya kepadanya :

kepada siapa kamu bersyukur atas makanan yang nikmat ini ?

itu hanya salah satu problem akibat kehilangan konsep Ketuhanan, kita anggap semua ini terjadi begitu saja, jagad raya dan isinya ada begitu saja tanpa tujuan, kita disini hanya untuk satu kehidupan ini saja……dan ketika suatu hal yang tidak terduga terjadi pada hidup, maka kita akan kehilangan kontrol diri dan mulai marah menyalahkan semuanya kecuali diri kita.

atau hal kecil saja terjadi, misalnya putus pacar, kemudian kita jadi stres dan depresi….kemudian menyalahkan Tuhan akibat musibah besar ini, kemudian memilih menjadi atheist.

memang ada beberapa kategori dari penganut konsep anti-Tuhan ini, ada yang mengikuti aliran Darwinisme yang bisa menjelaskan semua hal secara sains, ada juga yang lebih bodoh cuma karena Tuhan tidak bisa dibuktikan maka Tuhan tidak ada.

Memahami bahwa ilmu kita terbatas, dan ketidakmampuan kita untuk memahami Keberadaan Tuhan justru akan membuka pintu-pintu ilmu lainnya,

namun jika kita menutup pintu itu dan diam saja dalam kegelapan, maka apa yang bisa kita lakukan jika musibah terjadi ?

atau apa yang kita akan lakukan jika semua ini telah berakhir.

 

 

Berpikir dengan Hati

beberapa hari ini banyak yang membicarakan tentang kemajuan teknologi terutama yang berhubungan dengan artificial intelligence yang sudah sangat jelas bisa menggantikan fungsi manusia, jadi jika semua pekerjaan manusia bisa digantikan oleh mesin maka manusia tidak perlu bekerja lagi.

banyak ahli filsafat modern yang sudah meramalkan hal ini, itu sebabnya juga Richard Stallman sangat menentang pemakaian teknologi internet untuk pribadi karena hal tersebut merambah ke ranah infomasi pribadi yang akan terbuka ke publik, namun masalahnya adalah tidak semua kita bisa sepintar Richard Stallman untuk menjaga diri kita dari wabah ini.

ada hal lain yang lebih patut diwaspadai dari pada A.I. ini yaitu kondisi moral dan logika masyarakat, karena dengan semakin bergantungnya kita pada teknologi maka kapabilitas kita semakin berkurang, jadi intinya sekarang adalah bagaimana cara mengurangi dampak itu.

Lewis Mumford dalam “Megamachine” meramalkan hal ini dan menggarisbawahi bahwa ritual Sabath pada penganut agama Yahudi adalah salah satu cara untuk mencegah dampak Megamachine ini, setidaknya sampai Juru Selamat “Messiah” datang untuk menghancurkan Megamachine itu.

Namun saat ini tidak banyak yang paham apa esensi dari ritual Sabath, ritual hari Sabath itu adalah sebenarnya untuk mensucikan hati dari kekotoran duniawi, bukan sekedar mengistirahatkan diri setelah bekerja seminggu penuh.

Mensucikan hati atau Purification of The Heart (Tazkiatun Nafs) adalah ritual yang terlupakan dalam agama ini, apalagi setelah banyak aliran ahlussunah yang mengaku ahlussunah sejati namun menjalankan ritual Tazkiatun Nafs hanya sekedar untuk kegiatan agama saja, tanpa sampai menyentuh ke hati.

ini juga akibat dari ajaran yang menitikberatkan pada untuk mempelajari hukum fiqih saja, padahal kita tahu kekuatan agama itu berawal dari hati, dan dari hati yang bersih suci maka semua akan bisa berubah.

para Ahli Tasawuf dulu selalu berkata “berpikir dengan Hati”, Syaikh Hamza Yusuf juga berkata bahwa Hati yang menyuruh Otak berpikir, ahli neuroscience juga baru menemukan “Heart Intelligence” dimana bahwa hati yang mengontrol Otak, dan Heart Intelligence ini ternyata lebih besar dibandingkan dengan IQ ataupun EQ.

dapat dibayangkan jika kita hidup di zaman ini dimana perbuatan dosa sudah dipandang biasa saja, banyak yang mudah berbohong, banyak yang mudah berkhianat, banyak yang mudah mencuri, dan sebagainya, apakah semua perbuatan itu tidak berbekas pada hati, bagaimana hati bisa menyuruh otak agar bisa berpikir LOGIS jika hati saja tidak bersih lagi.

saya tahu bahwa ini adalah topik yang akan panjang jika terus dibahas, namun selama ratus abad kita salah hanya memandang pada otak saja, dan mengabaikan kekuatan dari Hati, jika saja Khalifah Al-Makmun mengetahui bahwa logika itu berasal dari Hati bukan otak, maka dia tidak akan membiarkan penganut aliran logika “Mu’tazillah” menguasai istana Baghdad dan justru akan berpihak pada Imam Ahmad bin Hanbal dan Baghdad akan menjadi lebih bersinar dalam sejarah umat manusia.

Hati adalah organ pertama yang berfungsi dalam tubuh manusia, ia memompa darah terus menerus tanpa kita suruh, ia merasakan manisnya cinta pada sesama manusia, ia yang menyuruh kita berbuat baik dan mencegah kita berbuat jahat, Hati diletakkan pada bagian tubuh yang paling terlindungi, Kita berpikir dengan Hati, kita mencintai dengan Hati…..

dan ketika Hati berhenti berdetak maka kita akan bangun dari mimpi ini dan menuju ke alam yang nyata.

what-is-heart-intelligence-4-intelligences