Islam dalam bernegara (part 2)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. 16:125)

 

Dalam artikel Islam dalam bernegara bagian pertama, saya sudah mencoba menjelaskan bahwa Islam memiliki kelebihan tersendiri sebagai agama di penghujung masa ini dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan mudah.

Seperti yang bisa kita lihat jika kita meneliti sejarah hidup Nabi (Sirah Nabawiyah) maka secara garis besar terbagi menjadi dua periode : Periode Mekkah dan Periode Madinah, dimana kedua periode itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Periode Mekkah dimana dakwah dilakukan secara sembunyi, dan tanpa perlawanan ketika beberapa umat disiksa oleh kaum quraisy, intinya pada masa ini hampir sama seperti yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Isa ; kesabaran ditempa dengan menahan diri dan bersikap pasif tidak bereaksi sedikitpun pada tekanan dan cobaan yang terjadi.

Periode Madinah sangat berbeda dengan periode Mekkah dimana Nabi dan umatnya sangat aktif dalam kegiatan dakwah, semua hal dilakukan secara publik, bahkan sering sangat progresif saat melakukan ekspedisi (ghazwul) untuk menaklukkan dan mempersatukan suku-suku Arab,

Setelah wafatnya Nabi, para penerusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi yaitu bersikap progresif dalam menumpas pemberontakan, dan juga melebarkan sayap ke timur dan barat, mereka sama sekali tidak bersikap pasif dan hanya duduk menunggu keajaiban dari langit.

Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq pada pidato pelantikannya menyuruh umat agar memberikan koreksi dan masukan jika ia melakukan kesalahan, demikian juga dengan ketiga khalifah lainnya (Khulafa Rausyidin) karena mereka tanpa harus mempelajari ilmu tata negara, mereka sudah paham bahwa negara yang berdiri ini bukan monarki namun berdasarkan demokrasi yang dimana suara masing-masing individu memiliki status yang sama.

dalam pemerintahan ini, terdapat susunan organisasi yang rapi, terutama Khalifah memiliki semacam dewan penasehat yang berasal dari sahabat paling senior yaitu “Ashara Mubashara”, bahkan saat khalifah wafat, salah satu anggota dewan ini yaitu Abdurrahman bin Auf melakukan semacam pengumpulan suara ke seluruh kota Madinah untuk menanyakan siapakah khalifah yang pantas untuk jadi pengganti.

Kemudian situasi berubah setelah wafatnya Khulafa Rausyidin terakhir yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika penerusnya yaitu Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi Khalifah, seketika saja bentuk pemerintahan menjadi monarki, dimana perpindahan kekuasaan berdasarkan hubungan kerabat dan keluarga,

disini sikap para ulama mulai berubah, secara otomatis mereka kembali ke periode Mekkah dimana mereka menjauh dari istana dan tetap berfokus pada dakwah, sikap para ulama yang menjadi pasif ini ternyata bermanfaat untuk kelangsungan dakwah dan terutama dalam menjaga Quran dan Sunnah di muka bumi.

sikap pasif ini yang kemudian ditiru oleh dunia barat, saat mereka ingin maju maka mereka membuat fungsi gereja menjadi terpisahkan dari istana (yang kemudian menjadi paham sekuler) namun dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda dengan barat ; pemisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agama dari pemerintah yang zalim.

puncak terpisahnya agama dari negara ini terjadi saat masa Khalifah Al-Makmun dimana ia berusaha mengubah Quran dengan ilmu filsafat yang dimodifikasi, dan satu-satunya imam yang berupaya mencegahnya adalah Imam Hambali, yang kemudian dikenal sebagai mendiri Mahzab Hambali.

sayangnya mahzab ini kemudian dimodifikasi menjadi suatu aliran yang mengaku memiliki ajaran paling murni yaitu Wahabi, pendirinya adalah Ibnu Wahab yang bersama Ibn Saud (pendiri dinasti Saudi) melakukan pemberontakan kepada kekhalifahan Turki Ottoman dengan menghancurkan kuburan imam Syiah dan melakukan pembantaian pada kaum syiah, menduduki kota Mekah dan Madinah, maka Turki sebagai pemegang otoritas pemerintahan tertinggi memerangi Ibn Saud hingga menjatuhkan hukuman mati atas perbuatannya itu.

Namun ajaran Wahabi masih disimpan oleh para penerus Ibnu Saud dan ketika agen rahasia dari Inggris, Hemper datang dan menyamar sebagai muslim, ia membangkitkan lagi aliran wahabi ini dan para agen penerusnya ; Lawrence of Arabia dan Getrude Bell membantu pemberontakan di jazirah Arab hingga dinasti Saudi terbentuk hingga saat ini.

Saudi Arabia dan aliran Wahabi-salafi adalah monarki terbesar muslim terbesar saat ini, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ajarannya telah tersebar ke seluruh dunia, intinya ajaran ini membuat umat menjadi pasif dan tidak terlibat dalam politik sama sekali, pelarangan ilmu filsafat membuat umat jadi tidak bisa berpikir dan mudah diberikan ajaran doktrinisasi.

Apakah ajaran salafi ini sepenuhnya salah ?

kita tetap harus memiliki pemikiran positif, dengan adanya petromonarki Saudi ini maka sampai hari ini dua kota suci Mekkah dan Madinah jadi terjaga dari hiruk-pikuk dan gejolak di timur tengah.

namun disatu sisi hal ini membuat umat bisa dengan mudah dikendalikan dan masuk lagi ke dalam masa kolonialisasi, walaupun secara harfiah telah merdeka namun kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki, seperti kondisi saat ini.

jadi apakah yang lebih baik ? Islam Progresif atau Islam Ortodoks ?

Saya lama memikirkan hal ini, karena jika kita menjadi progresif pada saat yang tidak tepat juga tidak akan menguntungkan, bahkan menjadi terlalu progresif itu terlalu beresiko dan bisa dimanfaatkan oleh lawan kita……namun selalu menjadi pasif pun tidak bisa dibenarkan juga karena Tuhan tidak kan mengubah nasib kaum kecuali jika kaum itu mengubah nasibnya.

yang saat ini bisa saya pikirkan adalah bagaimana kita bisa mengetahui apakah tujuan kita menjadi progresif atau pasif itu untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kita dan dunia ini.

karena jika kita menetapkan hati ini untuk kepada Tuhan saja, maka secara otomatis niat kita akan menjadi ikhlas, kalaupun kita memisahkan diri dari jamaah itu karena Allah, dan kalaupun kita bergabung dengan jamaah itupun karena untuk Allah semata.

saya percaya, mau dibuatkan teori yang ilmiah bagaimanapun akhirnya kembali lagi ke kondisi hati kita masing-masing, dan menyisakan pertanyaan dalam lubuk sanubari kita;

apakah yang kita lakukan di dunia ini bertujuan satu kepada Tuhan semata……

wallahualam bishowab

 

 

 

Advertisements

Islam dalam Bernegara (part 1)

“Islam tidak mengatur 1001 hal-hal detail yang bersifat teknis, dan bisa berubah-ubah menurut keadaan zaman, Islam memberikan kepada kita dasar-dasar pokok yang sesuai dengan fitrah manusia yang abadi dan tidak berubah, yang bisa berlaku di semua tempat dan semua zaman, baik di zaman dahulu kala, maupun di zaman modern”
(Mohammad Natsir – Islam sebagai dasar negara)

Dulu saya pernah bilang kalau salah satu keberkahan besar umat akhir zaman ini adalah hukum syariah yang tidak kaku seperti hukum syariah yang diberikan untuk children of israil,

 
misalnya wudhu bisa diganti dengan tayamun, sedangkan bani israil tidak memiliki kelonggaran tersebut dalam melaksanakan ibadahnya.
 
sekarang ada lagi berkah yang saya pikir adalah berkah terbesar yang selama ini mungkin tidak kita sadari,
 
mungkin sedikit dari kita yang tahu bahwa dalam sejarah bani israil itu mereka selalu dikasih enak dalam urusan agama dan negaranya, selalu ada Nabi atau Rasul disepanjang masa (sampai Nabi Muhammad diutus) dan ada pemimpin yang langsung ditunjuk oleh Allah untuk mereka (misalnya Raja Thalut) jadi mereka tidak perlu repot2 lagi mikirin urusan politik atau bikin ideologi untuk kenegaraan.
 

beda dengan Islam

 
dulu saya piki sangat aneh Nabi Muhammad tidak menunjuk siapa penggantinya, walau beliau sangat banyak memberikan tanda bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling pantas memimpin umat jika beliau sudah wafat.
perlu kita pahami juga bahwa kaum arab di masa itu tidak mengenal bentuk pemerintahan, karena mereka terdiri dari kabilah-kabilah yang punya pemimpin masing-masing, namun situasi berubah saat Islam datang dan Nabi Muhammad secara otomatis menjadi pemimpin untuk seluruh bangsa Arab, jadi untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Arab itu mereka punya bentuk negara kesatuan dan pemimpin yang mempersatukan mereka.
 
tapi Rasullulah sama sekali tidak mengutak-atik soal politik apalagi bentuk kenegaraan, jadi apakah sebenarnya bentuk negara yang cocok untuk umat ini bentuk negara demokrasi dimana pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah atau suara terbanyak, atau bentuk pemerintahan monarki dimana kepemimpinan itu diwariskan berdasarkan keturunan.
Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah memberikan petunjuk soal bentuk pemerintahan yang bagaimana untuk umat ini.
 
dan itu adalah salah satu key factor utama kenapa Islam bisa survive selama 14 abad ini dan akan terus bertahan sampai akhir jaman.
karena dengan tidak ditetapkannya bentuk pemerintahan yang sesuai dengan syariah, maka umat bisa menerapkan bentuk pemerintahan yang sesuai dengan kondisi jaman masing-masing, misalnya jika diawal periode setelah Nabi SAW wafat itu lebih cocok bentuk pemerintahan Khulafa Rasyidin dimana Khalifah ditunjuk berdasarkan konsensus dari hasil musyawarah, dan setelah itu muncul periode dinasti-dinasti yang di mulai oleh dinasti Umayyah dimana kepemimpinan diwariskan berdasarkan keturunan.
berdasarkan dari pemahaman diatas, dimana Islam bisa beradaptasi pada bentuk negara yang berbeda-beda – sepanjang masih bisa berjalan dengan syariah, maka kita harus berhati-hati dalam menafsirkan hadist yang menyebutkan bahwa kita harus patuh pada pemimpin, walaupun pemimpin itu berlaku zalim.
karena ada hadist “Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pemerintah yang disukai maupun tidak disukai, kecuali bila diperintahkan mengerjakan maksiat maka ia tidak wajib mendengar dan taat” (Ibnu Umar)
kita pun juga harus memahami dari sejarah umat selama 14 abad ini, dimana umat sering berhadapan dengan pemimpin yang zalim, terutama hal itu terjadi di periode dinasti-dinasti, ternyata kepatuhan umat pada pemimpin itu (walaupun itu adalah masa berat yang harus mereka hadapi) ternyata disatu sisi menguntungkan untuk perkembangan Islam, misalnya pada masa dinasti Umayyah itu penyebaran Islam sangat pesat hampir keseluruh dunia dan pada masa dinasti Abbasiyah banyak kemajuan di bidang ilmu agama maupun ilmu dunia seperti sains, filsafat, seni dan sebagainya.
Maka jika kita saat ini dihadapai pada kondisi harus patuh pada pemimpin, kita sebaiknya mencoba mencari apa makna patuh pada pemimpin itu, apakah patuh totalitas bisa dilakukan pada bentuk negara pancasilais ini ? ataukah bentuk kepatuhan kita bisa ditransformasikan menjadi upaya-upaya memberikan suara dan masukan yang positif untuk pemerintahan ini.

“Satu nilai lagi yang baik juga terdapat pada bangsa kita adalah cinta pada kemerdekaan, cinta ini terlihat jelas waktu negara kita merdeka berdaulat, cinta kemerdekaan adalah fitrah yang terkait pada cinta tanah air”

(Mohammad Natsir)

Bosnia, Emerald dari Balkan

setelah saya membaca artikel tulisan Asma Nadia tentang kunjungannya ke Bosnia, dan beliau bilang dia sudah traveling ke 60 negara dan sangat terkesan pada Bosnia, saya bersyukur bahwa saya tidak perlu membuang waktu saya traveling ke negara sebanyak itu sebelum ke Bosnia, dan Bosnia ini adalah rangkuman dari kunjungan saya ke negri Balkan itu.

saya sebenarnya orang yang anti-traveling, buat saya traveling itu hanya membuang-buang waktu saja, dan saya lebih suka tiduran dirumah sambil baca buku dengan kucing-kucing, jadi kalaupun saya bertraveling itu maka karena saya punya alasan yang sangat kuat untuk menyeret badan saya keluar dari rumah.

dan Bosnia adalah alasan terbaik untuk saya bertraveling, sebulan sebelum memasuki bulan puasa, kami diundang oleh kawan lama kami yang bekerja di kedutaan Indonesia di Bosnia untuk berkunjung ke Bosnia, setelah melakukan persiapan yang matang, kami berangkat bersepuluh orang ke negri Balkan itu. selain Bosnia sebenarnya ada beberapa negara Balkan lainnya yang juga kami kunjungi tapi Bosnia adalah tujuan utama kami

Pertama kami tiba di Ibukota Sarajevo, saya sangat terkesan pada airport yang kecil, sepi dan bersih, saya lihat di papan schedule flight ternyata dalam sehari cuma ada sekitar sepuluh penerbangan ke kota ini, jadi untuk saya hal ini sangat menyenangkan bisa menikmati airport yang sepi setelah sering tiba di airport yang sangat crowded.

Hari pertama kami langsung mengunjungi pusat kota Sarajevo ; Bascarsija, saya sangat terkesan pada suasana pusat kota yang memiliki ambience historik, terutama terdapat beberapa minaret bergaya arsitektur turki Ottoman, pengalaman di pusat kota Sarajevo sangat sulit dilupakan, apalagi kami bisa menikmati makanan halal fast food khas Bosnia ; Cepavi (sejenis roti kebab) dan dessert khas Bosnia yang tidak terlupakan yaitu Trilece, juga kopi Bosnia yang kental dan pahit.

DSC03318

Hari kedua kami berangkat ke daerah pegunungan dekat Sarajevo, ternyata disitu terdapat taman nasional yang menjadi sumber mata air untuk kota Sarajevo, saya sudah pernah mencoba minum dari tap water di negri eropa tapi tap water di Bosnia ini sungguh menyegarkan karena berasal dari sumber mata air yang paling jernih dan paling segar yang pernah saya rasakan.

DSC03522

kemudian kami mengunjungi kota Konjic, dimana terdapat jembatan yang dibangun pada masa kekhalifahan Ottoman, jembatan Konjic adalah cirikhas dari kota ini, sayang kami hanya mampir sebentar, mudah-mudahan saya bisa kembali dan meluangkan waktu lebih lama di kota ini.

Konjic

namun kota pusat pariwisata dari Bosnia adalah Mostar, karena kota ini bukan saja sangat luar biasa indah tidak terungkapkan oleh kata-kata, juga karena jembatan khas Ottoman yang melengkung tinggi : “Arch Bridge of Mostar” yang sangat terkenal ini, sulit membayangkan saat Perang Bosnia di tahun 90an menghancurkan jembatan ini sampai habis total, dan akhirnya negri ini bisa bangkit dan membangun kembali jembatan bersejarah itu sesuai dengan desain awalnya berdasarkan blue print aslinya.

Jika berkunjung ke Mostar, ada satu Mesjid di dekat jembatan Mostar itu yang minaret-nya bisa dinaiki, dan dari atas minaret itu kita bisa melihat seluruh pemandangan kota Mostar yang indah, namun menaiki minaret tidaklah mudah karena tangganya sangat banyak jadi harus menyiapkan stamina yang baik agar tidak letih sampai diatas minaret ini

Ada satu kota kecil yang memiliki sejarah mulai dari masa romawi yaitu Pociteli, dimana terdapat sisa-sisa benteng dan juga mesjid berarsitektur Ottoman yang masih berfungsi untuk kegiatan ibadah.

salah satu Kota yang unik adalah Blagaj, dimana terdapat sungai yang sangat jernih, ditempat itu sangat cocok untuk mencicipi ikan bakar sungai khas yang selain enak juga tulangnya ternyata bisa ditelan, selain itu kami juga mencicipi steak khas Bosnia yang ukurannya sangat besar dan memiliki tekstur yang mirip seperti daging wagyu.

Bosnia memiliki kota yang digunakan untuk liburan musim dingin yaitu Travnik, namun karena kami datang di saat musim semi jadi kami cukup menikmati pemandangan “negri di atas awan” yang benar di atas awan, pemandangan disekeliling sangat cocok untuk syuting film musikal seperti sound of music.

dan masih ada beberapa tempat yang sangat menarik lainnya, sisa waktu liburan kami habiskan mengunjungki negri balkan seperti Montenegro, Kroasia, Austria dan Hungaria, namun setelah meluangkan waktu di Bosnia, saya merasa menyesal tidak tetap tinggal di Bosnia saja, karena kota-kota lainnya tidak senyaman dan seindah Bosnia.

Travnik

ada beberapa hal kenapa HARUS traveling ke Bosnia :

  1. Bosnia itu indah, compare to other countries in europe, Bosnia is definetely the best ever…..like, seriously
  2. Bosnian people are the warmest and friendliest ever, bahkan kalau mereka tidak bisa bahasa inggris mereka akan tetap ajak kita ngobrol, juga di restoran mereka servis kita dengan sangat baik dan no tips.
  3. all price in Bosnia is the cheapest, bahkan jika dibandingkan dengan europen countries, ongkos di Bosnia itu bisa separuh lebih murah, apalagi di Bosnia bisa minum dari tap water, harga susu dan yogurt yang lebih murah daripada harga mineral water (serius!) juga pilihan makanan yang banyak, enak dan murah.
  4. untuk turis muslim pasti senang dan puas di Bosnia karena semua makanan disini Halal.
  5. Bosnia memiliki sejarah yang panjang, mulai dari masa kekhalifahan Turki Ottoman dan sampai masa peperangan dengan serbia di tahun 90an, jadi kemanapun kita pergi kita akan menemukan kisah sejarah ditiap sudut kota di Bosnia.

Sarajevo

ada beberapa poin yang harus diperhatikan juga jika ingin ke Bosnia :

  1. tidak ada direct filght ke Bosnia, jadi harus cari pesawat yang transit di Turki, Zurich atau kota lainnya yang ada flight ke Sarajevo.
  2. untuk ke Bosnia perlu visa Schengen, jadi memang harus mengurus visa sebelum bisa berkunjung ke Bosnia.

maka alhamdulillah, saya sangat bersyukur pada nikmat traveling ini, ternyata orang yang anti traveling seperti saya bisa menikmati liburan yang memiliki unsur edukasi dan hiburan juga, saya sangat berharap bisa kembali lagi ke Bosnia jika Allah mengizinkan insyaAllah

Mostar1

Hassan Bin Tsabit, fitnah dan dosa masa lalu

Dari beberapa insiden dalam Sirah Nabawiyah, fitnah terhadap Aisyah itu terdapat banyak hikmah terjadi dalam kejadian itu,

Fitnah kepada Aisyah itu dibuat-buat oleh kaum munafik yang diketuai oleh Abdullah bin Ubay yang ingin mencoreng kehormatan Rasulullah dan keluarganya.

Salah satunya adalah kondisi umat muslim di kota Madinah yang hampir tidak ada yang menyebarkan isu itu, bahkan tidak memberikan komentar apapun – kecuali kelompok Abdullah bin ubay

Ini menunjukkan bahwa untuk menghentikan isu kebohongan adalah dengan diam

Namun ada tiga orang muslim yang khilaf dan ikut2an bergosip seperti kaum munafik itu, dua diantaranya bukan tokoh yang signifikan………

Tapi tidak disangka satu orang itu adalah tokoh yang penting, karena dia adalah penyair nomor satu di jazirah Arab, bahkan sampai ke negri Persia, dia juga penyair kesayangan Nabi Muhammad yaitu Hassan bin Tsabit

Hassan bin Tsabit adalah penyair terkenal di jazirah Arab pada masa itu, semenjak masa pra-Islam, Hassan sudah sering menciptakan puisi-puisi yang digunakan pada saat perang saudara di kota Yastrib (Madinah) dan ia juga menjadi penyair resmi di negri Yaman.

Hassan Bin Tsabit masuk Islam sebelum masa hijrah, jadi ia termasuk golongan al-Anshori yang pertama-tama mualaf. jadi tidak heran jika karya puisinya sangat banyak hingga memenuhi koleksi dari ulama ahli sejarah yaitu Ibnu Ishaq.

kembali lagi ke isu fitnah terhadap Aisyah itu, setelah ayat Quran turun dan nama baik Aisyah telah dibersihkan oleh Allah, tiga orang penyebar fitnah itu mendapatkan hukumannya,

Dan salah satunya adalah Hassan bin Tsabit, si penyair nomor satu itu.

Namun Safwan (yang difitnah bersama Aisyah itu) terlanjur emosi dan melukai Hassan hingga kepalanya berdarah.

Hassan dan Safwan dihadapkan kepada Rasulullah, dan Hassan sebagai penyair mulai merangkai puisi yang emosional tentang kondisinya akibat diserang oleh Safwan

Rasulullah berkata : ya Hassan, berlakulah dengan baik

Artinya bahwa Rasulullah memberi saran kepada Hassan agar memaafkan Safwan – walaupun Hassan telah melakukan salah satu perbuatan dosa besar yaitu menyebarkan fitnah yang menghina istri Rasulullah , namun Hassan tetap berhak mendapatkan keadilan atas kelakuan Safwan itu.

Dan Hassan pun memaafkan Safwan, atas perbuatannya itu Hassan diberikan hadiah oleh Rasulullah yaitu sebidang tanah dan budak yang kemudian menjadi istrinya.

Hassan bin Tsabit setelah kejadian itu kemudian membuat puisi berisikan pujian kepada Aisyah, dan setelah Rasulullah wafat, Aisyah terus membela Hassan jika ada yang mengungkit-ungkit kesalahan Hassan yang dulu itu.

Mungkin di kejadian ini kita bisa melihat bagaimana mulianya Aisyah yang bisa memaafkan Hassan dan membelanya dan juga meriwayatkan hadist2 tentang Hassan.
(semua hadist2 tentang Hassan diriwayatkan oleh Aisyah)

Ibnu Abbas pun saat ditanya tentang Hassan bin Tsabit maka beliau membela Hassan dan menjawab bahwa Hassan bin Tsabit itu telah berjihad dengan puisinya

Dan yang terpenting lagi adalah bagaimana seorang seperti Hassan bin Tsabit yang sudah pernah khilaf melakukan dosa besar itu bisa terus memberikan kontribusi pada umat melalui puisi2nya

Itulah kekuatan bahasa,

bahasa bisa lebih kuat daripada besi dan lebih tajam daripada pedang, jika digunakan untuk kepentingan sendiri maka ia akan kembali menusuk kita, namun jika digunakan untuk kebenaran maka bahasa akan menjadi sentaja paling ampuh yang pernah ada.

saya terenyuh memikirkan kisah Hassanbin Tsabit ini, karena kurang lebih saya pun juga memiliki dosa atas tulisan-tulisan yang lama, yang banyak menyakiti orang-orang, dan sampai saat ini mereka masih mengingat itu, dan mungkin mereka akan terus mengingatnya bahkan saat saya tidak ada lagi disini.

 

maka saya berharap semoga kesalahan-kesalahan saya itu bisa dimaafkan, karena saya bukanlah orang yang dulu lagi, tujuan hidup saya bukanlah sekedar mengejar dunia saja, saya hidup untuk kehidupan di masa depan yang tidak ada lagi kesedihan dan kekecewaan….hanya ada kedamaian dan ketenangan hati

teman jika kamu membaca ini maka jadilah seperti Aisyah, Ibnu Abbas dan para sahabat yang bisa memaafkan kesalahan dari Hassan Bin Tsabit dan tidak pernah sekalipun mengungkit-ungkit kesalahannya dan menjadikannya sebagai peyair terhebat dalam sejarah Islam.

Aksiomatis dari Hadist 73 Golongan

Menarik memang melihat perkembangan Islam pada era modern ini terutama di awal abad 20 terlihat bagaimana Islam berupaya untuk melakukan reformasi agar bisa melawan kolonialisme dan ideologi sekular seperti Marxisme.

salah satu organisasi terbesar di awal abad 20 yaitu Tarbiyah atau Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood yang dipimpin oleh Hasan Al Bana telah berhasil mentransform pendidikan Tasawuf yang cinta damai dan non-violence itu menjadi gerakan anti kolonialisme dan anti sekular.

Organisasi ini walaupun berdasarkan pada ajaran Tasawuf namun berhasil membuktikan bahwa ajaran Tasawuf bisa menjadi gerakan politik, yang dimana sampai saat ini sebagian kaum muslim masih percaya bahwa kelompok ini adalah apolitikal.

tapi akibat dari dinamika politik yang membuat organisasi ini saat ini mengalami guncangan, maka muncul aliran yang menyebut sebagai Salafi yang sebenarnya kurang lebih juga berdasarkan dari ajaran Tasawuf. namun Salafi sangat anti politik – yang amat wajar mengingat asal muasalnya dari negri petromonarki Saudi Arabia.

Ciri khas pertama dari aliran ini adalah ajarannya yang sangat dogmatis, terutama mereka bertumpu pada unsur “Fear Factor” untuk mengikat para pengikutnya agar tetap setia pada ajaran mereka itu.

Jangan salah dulu, saya berkali-kali selalu menegarkan bahwa saya tetap pro pada gerakan salafi walaupun saya punya beberapa daftar problem yang saya temui pada ajaran ini.

namun yang paling problematik adalah penafsiran hadist yang menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang akan masuk surga yaitu “Al-Jamaah”

“sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Hadist ini menjadi tumpuan para pemuka Salafi untuk menyalahkan aliran ahlussunnah lainnya, dan mengakibatkan masalah yang muncul saat ini.
namun pertanyaannya adalah : apakah benar hadist ini dapat diklaim sebagai membenaran atas Salafi kepada aliran lainnya ?
saya pernah mendengar penjelasan dari salah satu ulama salafi modern yaitu Syaikh Yasir Qadhi dan beliau menjelaskan secara terinci tentang arti 73 golongan secara linguistik, ternyata 73 golongan itu adalah semacam kiasan atau retorik, yang tidak bisa diartikan secara mentah bahwa akan ada 73 golongan, namun bisa jadi itu semacam kiasan bahwa umat akan terpecah menjadi golongan yang sangat banyak.
jadi hadist 73 golongan ini adalah semacam retorik, yang intinya sebenarnya bukan untuk menyalahkan golongan lainnya namun untuk mengingatkan kita agar tetap terus berpegang pada ajaran Quran dan Sunnah.
dan Hadist ini menjadi aksiomatik karena jika ada golongan yang mengklaim bahwa dialah yang paling benar dan aliran lainnya salah – maka golongan itu berhenti menjadi Ahlussunah.
dan juga kepada golongan yang disalahkan, jika mereka bereaksi dan menyalahkan golongan yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli neraka, maka mereka pun juga berhenti menjadi Ahlusunnah, karena alih-alih seharusnya mereka berusaha berintrospeksi melihat apakah ada kesalahan yang mereka lakukan, justru mereka membuat kesalahan baru dengan berlaku radikal dan ektrimis.
Jadi kita sebenarnya saat ini hidup dimasa dimana semua aliran ahlusunnah dalam persimpangan, apabila mereka tidak berupaya untuk melakukan reformasi dalam diri mereka dan berusaha agar bisa menerapkan konsep pluralisme secara spiritual maka mereka tinggal menunggu waktu saja sampai digantikan oleh generasi berikutnya.
karena jika mereka tidak melakukan hal itu maka mereka akan terus hidup dalam kurungan gelembung yang mengisolasi mereka dari dunia luar.

 

Materi Ekskul Desain Grafis Semester 1

Alhamdullilah wasyukurillah akhirnya saya bisa mengumpulkan semua materi desin grafis untuk Sekolah Dasar semester 1.

Materi ini berdasarkan dari semua materi yang saya ajarkan di Sekolah Dasar Tanah Tingal, materi ini berupakan materi yang bersifat praktikal karena langsung dapat dikerjakan tanpa harus mendalami fungsi-fungsi dan fitur dari software yang digunakan, sengaja dibuat demikian karena yang saya ajarkan adalah siswa-siswa SD yang lebih tertarik jika saya langsung memberikan materi yang langsung tampak hasilnya.

20160804_142300

Terima kasih kepada Bapak Riyogarta yang telah memberikan saya kesempatan kedua untuk mengajar desain grafis di sekolah ini, juga Bunli Yuliazmi , bunda dari Agha yang terus memberikan masukan dan support kepada saya. saya sangat berterimakasih karena mereka berdua yang sangat berjasa dalam hal ini.

tentunya materi ini akan dilanjutkan untuk semester kedua, dimana saya akan mencoba menggali materi untuk animasi dengan software opensource ini.

terima kasih dan selamat mendownload

Materi_Ekskul_Desain-Grafis_semester1

Pembebasan dari Kesalahan dan Culture of Doubt – kesalahan ketiga masa kini

Bismillahirrohmaa nirrohiim,

Saya sadari bahwa yang akan saya tulis ini sebenarnya tidak cukup sekedar suatu posting di blog saja, karena banyaknya referensi yang saya gunakan – namun saya hanya akan mengambil yang benar-benar esensial saja

Setelah mempelajari sejarah, memang saya lihat bahwa semua kejadian hari ini adalah refleksi dari masa lalu, apa yang telah terjadi di masa lalu bukan suatu kejadian yang tidak paralel dengan saat ini, namun kesalahan pertama saya ketika mempelajari sejarah adalah terlalu banyak mengandalkan pada data-data tanpa berusaha memahaminya dengan kacamata di masa itu.

suatu pemikiran yang terlalu sempit, karena walaupun pada masa lalu itu Islam memang mengalami kejayaan, namun mereka gagal memahami bahwa Islam pada saat itu berhasil memasuki kondisi holistik – dimana konsep Pluralisme secara Spiritual tercapai.

saya tidak perlu bersusah-payah mencari contohnya, ternyata apa yang dilakukan oleh Para Walisongo (The Javanese Saints) adalah contoh pluralisme yang sangat luarbiasa, mereka datang membawa ajaran Islam yang sesuai dengan Sunnah namun berhasil meleburkannya dengan falsafah kehidupan orang jawa yang berbudi-pekerti luhur dan santun dan suka dengan kesenian.

Kita bisa melihat dari lirik lagu “Tombo Ati” yang sejatinya adalah ajaran tentang pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs) betapa indahnya lagu itu, tanpa perlu bersusah-payah menerangkan tentang kepentingan melakukan ritual ibadah – seperti yang dilakukan oleh para “Polisi Haram” saat ini, Para Walisongo berhasil menyebarkan Islam keseluruh Jawa.

Pertanyaannya : kenapa kita tidak melakukan lagi apa yang telah dilakukan para Walisongo itu.

Marilah kita lihat bagaimana perkembangan Islam di zaman modern ini, pertama yang saya lihat di periode 80an adalah kemunculan dua aliran ; pertama aliran Liberal yaitu mereka yang mengaku membawa pembaharuan dalam Islam, yang kedua adalah Aliran Sufisme yang dibawa oleh gerakan Tarbiyah yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir itu.

Gerakan Liberal memiliki semua persenjataan untuk menyebarkan falsafahnya, mereka memulai dengan menyuruh kita mempertanyakan kenapa kita memilih Islam, apakah kita menganut agama ini hanya karena kita terlahir sebagai muslim, kenapa kita harus menyembah Allah, suatu pertanyaan yang akan mengguncang akidah semua umat muslim, hingga aliran ini dijauhi oleh mayoritas umat ini.

sedangkan aliran Tarbiyah lebih berfokus pada ajaran Sunnah, apa yang mereka bawa tidaklah berbeda dengan aliran2 Ahlusunnah sebelumnya, namun perpecahan terjadi saat aliran ini mulai masuk ke politik karena sebagian dari pengikutnya percaya bahwa seharusnya kelompok sunnah tidaklah bermain politik.

kelompok yang memisahkan diri itu kemudian bergabung dengan Salafi, yang dikenal sebagai kelompok yang mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar sesuai sunnah dan menuding kelompok2 lainnya adalah termasuk kelompok yang dalam 72 aliran yang masuk neraka – suatu klaim yang sangat bermasalah hingga sampai hari ini masih terus membuat pertikaian antara aliran ahlussunnah di negri ini.

Saya tidak bisa berbohong bahwa aliran Salafi ini banyak memberikan manfaat pada ilmu agama saya, namun disisi lain Salafi telah mengubah pola pemikiran saya secara drastis, hingga hampir saya merasa bahwa benar cara pandang hitam-putih yang hanya bisa melihat kesalahan pada suatu hal jika bertentangan dengan sunnah – tanpa bisa melihat aspek lainnya.

hal yang sangat signifikan dari ajaran Salafi ini adalah mereka sangat anti pada Imam Al-Ghazali, sering disebutkan adalah kajian maupun artikel mereka bahwa Imam Al-Ghazali adalah biang keladi pencampur ilmu agama dengan filsafat, bahkan mereka melarang keras para pengikut Salafi untuk mempelajari buku-buku Al-Ghazali, sementara itu para ustad Salafi masih mengutip referensi dari buku-buku Al-Ghazali untuk mencari kaidah-kaidah fiqih (hukum shariah)

Keanehan ini membuat saya mencoba mempelajari buku-buku Al-Ghazali, terutama buku yang menjadi sorotan para ulama Salafi yaitu “al-Munqidh min Dholal” Pembebasan dari Kesalahan (Deliverance from Error)

di dalam buku itu dibuka dengan pertanyaan yang sama dari kaum Liberal yaitu : kenapa kita menjadi Islam ? dan apakah fitrah itu ?

Karena pertanyaan ini yang membuat Al-Ghazali dijadikan contoh kesalahan oleh para ulama Salafi – Bahkan Syaikh Yasir Qadhi pernah memberikan ceramah yang menyalahkan Imam Al-Ghazali tentang hal ini juga (tidak heran karena Syaikh Yasir Qadhi pun beraliran Salafi)

Namun para Ulama Salafi tidak membaca buku itu sampai habis, ternyata Al-Ghazali melakukan apa yang saat ini disebut sebagai “Culture of Doubt” bukan untuk melemahkan akidah kita namun sebaliknya adalah untuk MENGUATKAN AKIDAH

karena jika kita melakukan culture of doubt pada keyakinan yang lemah maka akan membuat kita meninggalkan keyakinan itu dan beralih pada keyakinan yang benar,

namun jika kita melakukannya pada keyakinan yang sebenar-benarnya dari Tuhan maka kita akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang kita buat dari prasangka dan persepsi yang dibuat oleh manusia – hingga membuat keimanan kita jadi terlahir kembali dan memurnikan hati dan meluruskan niat kita semata hanya untuk Allah.

Ada dua pemikir besar saat ini yang hasil pemikirannya berdasarkan dari teori Deliverance from Error itu, mereka adalah Syaikh Hamza Yusuf dan Prof. Tariq Ramadan, dan juga Dr. Murad dari Cambrige

Syaikh Hamza Yusuf terkenal dengan konsep Tazkiyatun Nafs, dimana beliau berusaha menjelaskan bahwa hal yang paling utama adalah hati yang hidup, karena hanya hati yang hidup bisa merasakan Tuhannya di dunia ini dan akan benar hidup sebenar-benarnya hidup, dan hati yang gagal melakukan itu akan mati, bahkan mati sebelum jiwanya pergi ke alam kubur.

sedangkan Prof Tariq Ramadan menuliskan falsafah The Quest for Meaning, dimana beliau menjelaskan bahwa jika kita tidak berhasil menemukan arti dari ritual ibadah maka kita akan terus terpuruk, dan juga beliau menggarisbawahi tentang ilusi mayoritas – bahwa muslim saat ini merasa bahwa mereka harus unggul secara jumlah, bukan secara kuantitas. hal itu yang membuat muslim yang hidup dinegri mayoritas muslim menjadi kesulitan menemukan akidahnya yang murni.

kembali lagi pada Imam Al-Ghazali, dalam beberapa bukunya beliau sempat berselisihpaham dengan para pendukung ilmu filsafat, namun ternyata Imam Al-Ghazali bukanlah orang yang anti ilmu filsafat, beliau hanya menggarisbawahi bahwa ilmu ini bisa diambil manfaatnya dan sebagian harus ditinggalkan jika bertentangan dengan Quran dan Sunnah.

saya tidak tahu berapa banyak ulama yang masih mempelajari ilmu filsafat (selain kaum liberal) dan Buya Hamka yang bermanhaj Salafi itu sering mengutip ajaran Socrates, Aristoteles dan Plato dalam tafsir Al-Azhar dan buku-bukunya.

ini membuat saya berpikir bahwa manhaj sunnah dulunya membolehkan mengutip ilmu filsafat yang bermanfaat untuk agama, jadi saya pikir jika kita kembali menggunakan ilmu filsafat maka kita sebenarnya sedang mengembalikan ilmu filsafat pada penemunya yaitu kaum Ahlussunnah.

Tulisan ini harusnya tidak berhenti disini saja tapi saya pikir setidaknya saya sudah menjelaskan pokok permasalahannya dan sudah membuka jalan untuk solusinya.

pada intinya kita harus menguatkan dan memperbanyak ibadah, menguatkan niat ikhlas hidup semata hanya untuk Allah, membersihkan hati agar bisa menerima kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu-belenggu kehidupan semu ini dan masuk kedalam kehidupan yang nyata dimana kebahagian sejati tiada henti yang berasal dari cinta tulus kepada Tuhan Sarwa Sekalian Alam

mari kita kembalikan Pluralisme dan Liberal pada Ahlussunnah.

 

Artikel terkait :

Kesalahan pertama

Kesalahan kedua