Ekspedisi Napoleon, hallmark era modernisasi dunia Islam

Ekspedisi Napoleon ke Mesir di awal abad 19 adalah perang pertama hegemoni Barat atas dunia Timur,

Selama berabad2 perang antara Barat dan Timur adalah perang agama, kecuali Perang Napoleon ini, bahkan kekhalifahan Utsmani harus menjelaskan pada dinasti Mamluk bahwa musuh dari Perancis ini adalah aliran atheist, agnostik dan sekular

Jadi ini pertama kali jihad melawan aliran baru, yang juga menandai awal era modernisasi dunia Timur,

Walaupun ekspedisi Napoleon di Mesir ini gagal total, apalagi pasukan Perancis menderita dengan serangan gerilya dari kaum muslim dan cuaca padang pasir yang seperti neraka, tapi Napoleon mendapatkan apa yang dia cari ; prestise dari Perancis atas berbagai ekspedisi yang dia klaim berhasil

Setelah Perancis kalah di Mesir, masuklah Inggris yang berebut posisi di Mesir dan memulai perang proxy pertama yang sangat lama, seperti yang kita tahu bahwa babak berikutnya adalah perang dunia pertama, perjanjian Sykes Picot dan seterusnya sampai masa modern ini……

Sejarah memang cuma pengulangan episode drama lama aja,

Kita lihat setelah berlalu hegemoni Perancis dan Inggris, muncul dua superpower dunia yaitu Amerika dan Soviet yang juga menjadikan dunia Timur sebagai medan perang dan daerah proxy untuk terus mengukuhkan hegemoni Barat,

Setelah berlalu Soviet, Amerika terus menekan dunia Islam yang secara tidak langsung melahirkan superpower lainnya yang lebih kejam, lebih massive dan lebih rakus, bahkan mampu melahap semua energi di dunia ini dan bahkan melahap Amerika sendiri

Propaganda Barat terhadap dunia Islam bukan cuma menghancurkan peradaban yang sudah dibangun selama 14 abad lebih, tapi juga menghancurkan serial tradisi ilmu yang sudah terawat selama 14 abad ini, dan melahirkan aliran baru yang belum pernah ada sebelumnya, yang bersifat destruktif dan menyeret dunia Islam pada masa kegelapan ilmu

Tapi kita tentunya sebagai orang beriman tidak boleh putus asa, bagaimanapun selama masih ada keimanan di hati dan keikhlasan maka harapan itu terus ada

Dan bahkan jika kita tidak berhasil di dunia ini, toh kita bukan ahli dunia, karena kita adalah para ahli akhirat dan itulah kenapa kita masih berada di dunia ini ;

untuk terus berjuang di jalan ini sampai titik terakhir

Teori Identitas Diri, Picard dan Seven of Nine

Kenapa novel atau film zaman dulu itu lebih gres dan epik daripada yang ada sekarang ini : karena banyak nilai-nilai filsafat dan simbol agama yang diselubungkan didalamnya

Misalnya trilogi pertama starwars itu penuh dengan simbol-simbol agama, bahkan tokoh Hans Solo itu sebenarnya adalah karakter asli dari George Lucas ; awalnya dia bajingan dan akhirnya malah jadi berubah pahlawan,

begitu juga dengan Indiana Jones, LOTR, Narnia, dsb….. Semua penuh dengan simbol dan kisah falsafah hidup

Makanya kalau sejak kecil sudah terbiasa dengan novel dan film berkualitas itu, membaca novel zaman now dan nonton film yang lagi trendi saat ini seperti melihat sampah aja rasanya, semua kecanggihan efek komputer, kegantengan dan kecantikan artisnya gak bisa menutupi jeleknya alur ceritanya,

Star Trek Picard ini sedang mencoba mengingatkan kita bahwa dulunya film dibuat dengan standar yang beda dengan film zaman now,

Mereka gak butuh aksi berbahaya yang seperti agen James Bourne atau pesawat super canggih dan teknologi terbaru….. Karena yang mereka gunakan adalah kekuatan falsafah hidup yang paling dasar :

Identitas diri

Falsafah ini dikembangkan oleh John Locke dan David Hume yang intinya untuk digunakan agar kita bisa menemukan identitas diri sejati kita, karena tanpa identitas diri itu maka apa bedanya kita sama manusia lainnya?

Identitas diri itu yang membedakan kita dari milyaran manusia lainnya di alam semesta ini.

Nah, dalam Star Trek Picard ini temanya masih mengulang tema klasik yaitu identitas diri si Android Data, dan ketika Data sudah mati itu Picard sangat merasa kehilangan, itu terjadi karena Data bukan sekedar manusia buatan dengan program komputer, tapi Data adalah manusia buatan dengan identitas diri yang utuh, hingga Picard tidak bisa mencari pengganti Data,

Makanya juga dalam serial ini dimunculkan tokoh dari Startrek Voyager : “Seven of Nine” yang sejak kecil diasimilasi oleh Borg, yang selalu berjuang mencari identitas dirinya karena sepanjang hidupnya dia tidak punya memori sebagai manusia utuh,

kehadiran Seven of Nine ini melengkapi perjuangan Picard untuk mencari jati dirinya, apalagi Picard juga punya pengalaman pernah diasimilasi oleh Borg, dimana ketika menjadi Borg itu tidak ada satu mahluk pun yang bisa mempunyai identitas diri yang utuh.

All and all, ini memang bukan sekedar review film Picard aja, karena saya juga udah telat nontonnya, mungkin karena saya sudah duluan skeptis dan berasumsi bahwa film ini sama jeleknya dengan film standar sampah zaman now……

Tapi ternyata tidak juga.

Diakhir pertemuan dengan Picard, Seven memberikan pertanyaan yang sangat penting (terutama karena Picard adalah mantan Borg juga seperti dirinya) :

“apakah kamu masih berjuang untuk menjadi manusia?”

“ya, setiap hari” jawab Picard

Solon dan Croesus

Croesus, raja dari Lydia (daerah Anatolia, Turki) adalah raja yang punya kekayaan yang luar biasa, saking kayanya sampai hari ini terkenal istilah :

“kaya raya seperti Croesus” (as rich as Croesus)

Suatu hari datang si ahli filsafat terkenal : Solon, ia adalah orang bijak, mastermind dan arsitek konsep demokrasi negri Athena, raja Croesus langsung menerima Solon dan mengajaknya keliling negrinya untuk menunjukkan istana, gedung megah, kuil emas dan semua hartanya

Solon sama sekali tidak terkesan, bahkan tampak bosan dan muak dengan semua kekayaan Croesus, hal itu membuat Croesus gusar dan bingung, jadi dia langsung tanya ke Solon : “kenapa kamu gak terkesan dengan semua kekayaanku ini? Kamu pasti sudah banyak traveling dan melihat kerajaan lain dan kamu tahu bahwa tidak ada raja sekaya aku? Coba beritahu aku siapa orang yang lebih bahagia dari aku”

Solon berkata bahwa dia sudah menemukan beberapa orang bahagia, mereka itu adalah orang miskin, sederhana, jujur, rela berkorban demi bangsa dan negara, intinya mereka hidup mulia dan mati terhormat dan selalu dikenang jasanya

Raja Croesus makin bingung, dia bertanya apakah Solon membencinya karena Solon iri dengan harta dan kekuasaannya, Solon menjawab :

“tentu tidak, rajaku, aku melihat memang tidak ada satupun yang sanggup menandingi kekayaanmu, tapi sayang sekali aku sudah sering melihat orang kaya seperti dirimu justru hidupnya berakhir dengan sengsara dan mati dalam kehinaan…..

Karena, rajaku ; kita tidak bisa menentukan kebahagiaanmu sebelum kamu mati”

Ucapan Solon itu tidak memuaskan Croesus karena dia tidak paham makna tersirat dari ahli filsafat itu, waktu berlalu dan Croesus sudah lama melupakan pertemuan dengan Solon,

kemudian Croesus ingin melebarkan wilayah kerajaan dan menyerang kerajaan Persia yang saat itu rajanya adalah Raja Cyrus (yang sering dikenal sebagai Dzul-Qarnain dalam surat Al Kahfi)

Raja Cyrus yang memiliki pasukan tangguh dengan mudah menang perang melawan pasukan Croesus dan dalam waktu singkat menguasai kerajaan Lydia dan menangkap Croesus, untuk menghukum Croesus maka Raja Crysus akan membakar Croesus sampai mati,

Ketika Croesus sudah diikat di tiang dan api mulai menyala, Croesus menangis dan berteriak :

“Solon! Solon! Kamu ternyata benar!”

Raja Cyrus mendengar teriakan itu dan memerintahkan agar api dimatikan dan menyuruh agar Croesus dibawa kepadanya, kemudian dia tanya kenapa Croesus berteriak seperti itu,

Croesus berkata : “wahai raja yang mulia, aku pernah bertemu dengan orang bijak dan aku tidak paham nasihatnya sampai hari ini dan aku harap semua raja mendengar nasihat orang bijak itu agar tidak bernasib sial seperti diriku!”

Setelah mendengar kisah Solon itu, Raja Cyrus terkesan dan melepaskan Croesus, dua raja itu menjadi sahabat baik sampai akhir hayat mereka

Moral of the story : Jangan ngaku bahagia dulu sampai kamu mati
.
.
.
.
Kisah Croesus dan Solon ini ditulis oleh ahli sejarah Herodotus dan pernah ditulis dalam novel pendek Leo Tolstoy

The Graveyard of Empires

Di awal abad 19, sekitar 4ribu pasukan imperialis Inggris (yang juga termasuk pasukan dari east hindia) masuk ke Afganistan, dan mulailah perang Aglo-Afghan pertama

British empire kalah telak, dengan sangat memalukan

Sejak itu masih banyak peperangan di Afganistan yang selalu berakhir dengan kekalahan, hingga Afghanistan dikenal sebagai “The Graveyard of Empires”

julukan itu bukan sembarang karena memang sulit menaklukkan Afganistan

Di tahun 80an, entah kenapa Soviet terjebak dalam peperangan panjang di negri ini, seperti yang kita sudah tahu kalau amrik membantu sekelompok jihadis afghan yang kemudian dikenal dengan Taliban, perang panjang ini menguras semua sumber daya Soviet, dan banyak yang berasumsi kalau Soviet bangkrut karena perang Afghanistan ini

Setelah Soviet hilang, di era 2000an masuklah Amrik dan sekutunya Inggris, yang tentunya sudah paham sejarah panjang dengan Afghanistan

Disini mulai citra Taliban diubah : barbar, kejam, suka membunuh rakyat sipil, tidak menghargai wanita, dsb dsb dsb

Terlepas dari apa sebenarnya Taliban itu, paradigma orang barat sudah terbentuk kalau semua laki-laki afghan itu pasti kejam, dan semua wanita afghan itu harus diselamatkan dari kekejaman Taliban yang keji dan haus darah.

Dan sekarang kita lihat Taliban bangkit kembali, karena kebodohan Barat juga yang membuat mereka bisa kembali jadi pemegang kekuasaan defacto

Tapi kita harus hati-hati menyikapi masalah taliban ini, karena situasi di afghan sendiri itu ruwet seperti benang kusut yang sulit diuraikan, kalaupun Taliban bisa terus berkuasa maka mereka harus menekan banyak suku-suku yang melawannya, maka bisa jadi Taliban harus mengambil keputusan yang paling offensive untuk mempertahankan posisinya

Dan kita lihat bagaimana munafiknya sikap Barat ; begitu pedulinya mereka dengan nasib rakyat afghan tapi mereka sedikit pun gak pernah peduli dengan nasib rakyat Palestina atau muslimin lainnya yang ditindas Barat

Jadi Taliban dan Afghanistan ini membuka mata kita tentang bagaimana tololnya Barat dan bagaimana munafiknya mental mereka itu

Salah satu contoh sikap imperialisme Barat dari foto gadis afghan ini ;

Dia sedang sekolah di pengungsian ketika perang Afghan-Soviet tahun 80an, kemudian jurnalis Natgeo datang dan memaksanya membuka kerudungnya agar si jurnalis dapat foto yang bagus

Si gadis itu terpaksa membuka kerudungnya, dan jadilah foto terbaik di abad 20 : “Monalisa dari Afghanistan”

Sorot mata ketakutan si gadis bukan karena tekanan hidupnya tapi karena ketakutannya pada si jurnalis, si gadis gak pernah mendapat apapun dari foto itu tapi si jurnalis jadi terkenal sampai hari ini

Jaques Maritain, dari Atheist menjadi Theist

di awal abad 20, ada pemikir asal Perancis, Jaques Maritain yang terlahir sebagai protestan dan kemudian menjadi agnostic, Jaques bertemu dengan seorang pemikir Rusia, Raissa, yang kemudian menjadi partnernya di universitas Sorbonne, mereka membuat perjanjian untuk bersama bunuh diri jika mereka tidak bisa menemukan kebenaran dalam waktu satu tahun.

ternyata sebelum waktu setahun itu berakhir, Maritain sudah menemukan jawaban atas pencariannya dari pemikiran Thomas Aquinas, yang kita ketahui bahwa tokoh Katolik terkenal itu sangat dipengaruhi olelh pemikiran Averroes (Ibnu Sina) dan Al Ghazali, kemudian Maritain banyak menuliskan buku-buku tentang pemikiran Aquinas dan hingga Maritain dan Raissa menjadi pengikut agama Katolik.

Sekarang ini Maritain dikenal sebagai tokoh pemikir yang berhasil mengadopsi pemikiran Aquinas untuk masa modern ini, hingga Vatikan juga memakai buah pemikirannya untuk membangkitkan pemikiran dan spiritualitas Katolik, kalau kita ingat bagaimana Maritain hampir bunuh diri karena dia terjebak dalam pemikiran agnostic itu, mungkin saja kita mengenalnya sebagai pemikir Perancis yang bunuh diri bersama kekasihnya karena konsisten dalam upaya mencari kebenaran.

romantis sekali ya ?

Entah kenapa kondisi mental Maritain yang putus asa itu mirip seperti kondisi mental Ivan Karamazov, tokoh sekular dalam novel “Brother Karamazov” yang nihilistik, atheist dan benci pada agama, Ivan juga ingin mengakhiri hidupnya jika dia tidak bisa menemukan kebenaran sebelum usia 30 tahun, dan walaupun Ivan sangat benci pada agama dan Tuhan, namun Ivan masih berharap adiknya, Alyosha yang sangat relijius itu untuk bisa menyembuhkan jiwanya yang rusak akibat pemikiran sekular.

Ivan Karamazov walaupun hanya tokoh fiksi, namun menggambarkan bagaimana kondisi mental sesungguhnya dari para pemikir liberal dan sekular ; betapa bencinya mereka pada agama dan Tuhan, namun jauh di dalam lubuk hati mereka masih mengakui bahwa Tuhan itu ada dan mereka masih berharap Tuhan bisa memberikan mereka petujuk agar mereka bisa meneruskan hidup dengan baik – seperti yang terjadi pada Jaques Maritain

Seperti kata Syaikh Hamza Yusuf ; “Atheist itu adalah yang sebenarnya orang yang paling percaya dengan Tuhan, karena saking percayanya mereka dengan Tuhan, mereka malah menyangkal eksistensi Tuhan dalam hati mereka”.

Dostoyevsky’s Brother Karamazov review

“The mystery of human existence lies not in just staying alive, but in finding something to live for.” (Fyodor Dostoyevsky)

Brother Karamazov tidak diragukan lagi merupakan novel terbaik yang pernah saya baca, hingga sangat sulit bagi saya untuk menuliskan reviewnya, mungkin anda sudah sering melihat saya mengutip banyak hal dari novel ini, atau mengambil beberapa bagian yang berhubungan dengan karya sastra lainnya tapi sampai saat ini saya belum pernah secara utuh menulis review tentang buku ini.

Saya paham bahwa buku ini mungkin tidak akan dibaca oleh penggemar buku di negri ini, apalagi tema buku ini sangat tidak lazim, maka setidaknya saya mencoba menjelaskan kenapa buku ini sangat memberikan perubahan yang banyak dalam diri saya,

pertama kali saya membaca novel ini pada tahun 2017, kemudian saya berhenti pada bagian tengah buku yang berisikan puisi “Grand Inquisitor” yang sangat memukau itu, saya mencari novel Dostoyevsky lainnya untuk membantu saya memahami bagaimana struktur novel ini, dan setelah membaca “Crime and Punishment” saya lanjut membaca beberapa novel Dostoyevsky lainnya seperti “Notes from Underground” juga “The Idiot” hingga saya sampai hampir segan untuk menyelesaikan Brother Karamazov, karena saya khawatir tidak bisa menemukan makna dan pesan secara utuh dari novel ini.

Tapi akhirnya saya selesai juga membacanya.

Ada beberapa hal penting yang saya dapat dari novel-novel Dostoyevsky :

Membaca cepat itu adalah kesalahan,
orang zaman dulu tidak membaca buku dengan cepat tapi dinikmati dan diresapi maknanya, bahkan buku yang terbaik dibaca berulang-ulang. Seperti musik dan film yang baik, maka orang zaman dulu membaca buku beberapa kali, efek dari membaca lambat adalah kita bisa memahami pesan tersembunyi dari novel itu dengan mudah, dan buku yang baik akan jadi lebih menarik setelah dibaca beberapa kali. Novel Dostoyevsky ini membuat saya sadar bahwa saya harus berhenti membaca cepat dan meresapi maknanya.

banyak pesan moral dan nilai-nilai kehidupan dalam novel ini, tema utama dalam Brother Karamazov adalah konflik antara kepercayaan agama dan pemikiran sekular dan anti agama, di satu sisi ada tokoh yang masih berusaha mempertahankan nilai-nilai agama yang berisikan pesan kasih-sayang dan perdamaian, tapi nilai-nilai itu telah dianggap usang dan kalah dengan pemikiran baru yang muncul dari kesadaran logika manusia untuk menghilangkan agama, maka novel ini seperti ingin mendorong kita agar berpikir tentang hal itu dan apakah memang pemikiran baru itu bisa menjadi jawaban atas musibah dan tragedi yang terjadi dalam hidup manusia.

Alur cerita dalam novel ini tidak sulit dan cukup sederhana, yaitu tentang konflik keluarga yang terdiri dari seorang bapak yang kejam, jahat dn tidak pernah mencintai ketiga anak laki-lakinya yang sudah beranjak dewasa, plot cerita sangat sederhana dan mudah dipahami karena Dostoyevsky memang membuat novel ini mudah dibaca tapi sulit untuk dicerna pesannya.

Ada tiga tokoh utama dalam novel ini :

  1. Dmitri Karamazov, anak sulung dari ketiga saudara Karamazov, tokoh ini yang paling mudah dijelaskan karena dia memiliki kelebihan fisik yang signifikan dibandingkan kedua saudaranya, Dmitri berbadan atletis, tegap dan tinggi seperti kebanyakan pria muda Rusia, wajahnya tampan dan memukau, jika ia berada disuatu pesta maka perhatian para wanita muda akan tertuju kepadanya, tidak sulit bagi Dmitri untuk mencuri hati seorang wanita, walaupun wanita itu paling cantik dan telah memiliki kekasih lain, sayangnya kelebihan fisik Dmitri itu tidak didukung oleh kemampuan intelektualnya, dia cepat emosi dan berpikir pendek, jadi tidak heran jika sejak awal kisah ini Dmitri yang paling pertama membuat masalah.
  2. Ivan Karamazov, saudara nomor dua ini tidak memiliki penjelasan fisik sama sekali, mungkin dari segi fisiknya dia seperti kebanyakan pemuda Rusia pada umunya, tapi kelebihan Ivan adalah kemampuan intelektualnya yang sangat luarbiasa, sejak kecil Ivan sudah suka membaca banyak buku, di sekolah dia anak paling cemerlang dan ketika kuliah Ivan dengan mudah mendapatkan beasiswa kuliah ke luarnegri, selama kuliah dia bisa mencari biaya hidup dari hasilnya menulis berbagai jurnal ilmiah, Ivan suka sekali berdebat tentang topik-topik yang berat seperti ilmu filsafat dan ideologi sekular, seperti para pemikir barat maka Ivan sangat menentang pemahaman agama dan bahkan tidak mempercayai Tuhan, kekuatan Ivan adalah kemampuannya merangkai kata-kata yang indah tapi tajam dan mematikan, Ivan mungkin tidak setampan Dmitri tapi pasti Ivan bisa meraih hati para wanita yang tergila-gila pada pemikirannya, pemuda seperti Ivan ini yang paling ditakuti oleh para bapak yang relijius karena khawatir anak perempuannya bisa terjangkit virus pemikiran sekular dan anti Tuhan.
  3. Alyosha Karamazov, anak bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki fisik yang biasa saja, tidak terlalu tinggi dan wajahnya tidak terlalu tampan tapi tidak jelek juga, tapi Alyosha sejak awal memiliki aura mistis yang berbeda dari kedua kakaknya, entah kenapa semua perhatian orang tertuju kepadanya walaupun Alyosha sangat jarang berbicara, bahkan sepanjang novel ini Alyosha yang paling sedikit berbicara dan justru semua orang malah suka berbicara kepadanya, jika dalam suatu pesta maka Alyosha akan berdiri disudut ruangan tanpa berusaha memulai pembicaraan dengan orang lain, tapi kemudian beberapa wanita mulai mendekatinya, begitu kuatnya aura Alyosha bahkan seorang pelacur terkenal di St. Petersburg rela membayar uang agar bisa menggoda Alyosha, tapi perhatian Alyosha bukan pada wanita muda, sejak kecil Alyosha sangat ingin menjadi pendeta dan berharap suatu hari bisa menjadi kepala pendeta, karena kelebihan Alyosha adalah ilmu agamanya maka tidak heran jika Alyosha jadi sasaran Ivan yang sangat benci pada agama, konflik antara Alyosha dan Ivan terjadi pada bagian tengah novel ini dan Ivan mengeluarkan senjata andalannya yaitu puisi “The Grand Inquisitor”

sekarang kita sudah paham tema utama dan karakter dalam novel ini, maka sebenarnya apakah yang ingin Dostoyevsky sampaikan kepada para pembaca dari kisah ini ?

Dostoyevsky menulis Brother Karamazov beberapa tahun sebelum dia wafat, sebelumnya dia sudah melalui banyak kejadian dan musibah, dia pernah terlibat dalam organisasi terlarang yang mendukung revolusi menentang pemerintah kemudian dia ditangkap, hampir mati di tembak di siberia, berhasil memulai hidup baru tapi terjebak dalam kecanduan judi, hingga kematian anaknya yang masih balita bernama Alyosha,

jelas bahwa Dostoyevsky hidup di masa transisi yang paling dinamis di Rusia, dimana terjadi banyak perubahan sosial-politik, juga banyak muncul pemikiran-pemikiran yang berasal dari barat yang menentang agama, dalam diri Dostoyevsky sendiri juga muncul pemikiran yang mempertanyakan eksistensi dan tujuan hidup manusia, juga pergolakan antara pemikiran sekular dan relijius. Tapi ketika dia merilis novel Brother Karamazov dan mendapat sambut yang luarbiasa, hal itu menunjukkan bahwa novel Brother Karamazov sangat mencerminkan situasi yang terjadi di Rusia saat itu.

Maka pertanyaannya adalah ; apakah Brother Karamazov ini adalah novel kristen ortodoks ?

Tidak, menurut referensi dari sastrawan rusia, Brother Karamazov justru novel yang sangat anti Kristen Ortodoks, apalagi karena diakhir kisah ini Alyosha justru keluar dari gereja dan tidak menjadi pendeta lagi. Pesan yang ingin disampaikan oleh Dostoyevsky adalah pencarian jalan spiritual yang melampaui gereja untuk mencapai kebahagian yang sejati dan kasih sayang yang murni untuk menyembuhkan luka dari tragedi hidup dan pemikiran sesat.

Sekali lagi saya paham bahwa novel ini sangat sulit diterima oleh pembaca negri ini, tapi saya melihat bahwa novel ini adalah cerminan dalam diri kita, karena dalam diri kita ada ego yang disimbolkan seperti Dmitri, juga ada logika yang disimbolkan sebagai Ivan, tapi kita semua memiliki Alyosha yang tersembunyi dalam hati kita, yang siap untuk menyembuhkan semua luka, kesedihan dan dosa akibat tragedi dan musibah dalam hidup kita.

Jadi pada akhirnya kita sendiri yang memilih mau kemana jalan hidup kita, jika kita memilih Dmitri maka kenyataannya Dmitri hidup sengsara dipenjara siberia, jika kita memilih Ivan maka akhirnya Ivan mengalami krisis mental histeria yang parah hingga dia tidak bisa membedakan antara realita dan khalayannya.

tapi jika kita memilih Alyosha maka Alyosha akan pergi mengasingkan diri, menjauh dari semua manusia dan membaur dengan anak-anak yang masih berhati suci.

Old Buffon, Dostoyevsky

Si tua yang bodoh,

“seseorang yang berbohong dan mempercayai kebohongannya akan berakhir pada kondisi dimana dia tidak bisa membedakan kebenaran dalam dirinya dan disekitarnya,

Hingga akan muncul perasaan tidak menghargai dirinya dan lainnya, tidak mampu mencintai siapapun, dan untuk menghibur dirinya akibat ketiadaan cinta itu dia meleburkan dirinya pada nafsu hewani dan kesenangan yang hina, menjadi binatang seutuhnya akibat keburukannya….

semua itu akibat dari kebohongan yang berulang-ulang dia lakukan kepada dirinya,

Si pembohong itu cepat marah dan tersinggung, lagi pula memang menyenangkan bisa menikmati rasa marah itu, bukan?

Ketika dia tidak menemukan siapa pun yang bisa membuatnya marah maka dia akan membuat kebohongan lain sebagai hiburannya, membesar-besarkan kebohongan itu untuk menciptakan kesan baru… Dia sangat paham ini,

Maka pertama ia akan merasakan amarah, dan perasaan itu membuatnya bisa mencapai kenikmatan, hingga ia merasakan kepuasan yang besar, dan berakhir pada makin besarnya perasaan kebencian dan kehinaan dalam dirinya”

Dari Brothers Karamazov,
Oleh Fyodor Dostoyevsky

Peran wanita yahudi dalam berbisnis di masa medieval

Ada satu hal penting yang saya lupa cantumkan di posting kemarin itu : salah satu faktor yang bikin yahudi bisa lebih maju dibandingkan orang Eropa karena banyak wanita yahudi yang terjun berbisnis

Yahudi itu seperti saya bilang kemarin ; punya hukum agama yang mirip seperti Islam, artinya ada hukum hak waris untuk wanita, juga mahar yang bisa diminta wanita ketika menikah dan tidak ada kewajiban nafkah keluarga jika wanita punya uang.

Jadi di masa medieval di Eropa, kaum wanita yahudi banyak yang punya bisnis, dan banyak yang tajir melintir (seperti wanita yahudi dalam novel Crime and Punishment karya Dostoyevsky itu)

sementara itu kaum wanita Eropa masih jadi warga kelas dua yang gak berhak dapat waris, gak bisa memiliki property, dan cuma berharap nasibnya bisa berubah jika nikah sama laki-laki tajir

Contohnya ada di beberapa novel Jane Austen yang ditulis di era Victorian itu, tokoh wanita dalam novelnya bisa happy ending jika nikah dengan pria kaya, dan sebenarnya Jane Austen menulis novel sebagai kritik atas budaya barat yang merendahkan kaum wanita itu.

Intinya suatu kaum bisa lebih maju jika hak-hak wanita diatur sesuai fitrah wanita, dan ekonomi bisa lebih cepat berjalan ketika wanita ikut turun berbisnis seperti yang sudah biasa dilakukan kaum Arab dan Yahudi sejak dulu kala

Dostoyevsky, anti semit dan yahudi

Kenapa yahudi sering dijadikan tokoh jahat dalam karya sastra klasik Eropa ?

Dulu saya pikir itu karena yahudi kaum minoritas di Eropa jadi cocok untuk dipilih sebagai tokoh jahat dalam novel klasik, tapi kan orang Eropa berperang juga dengan kaum muslimin? Kenapa bukan orang muslim aja yang jadi tokoh jahat dalam cerita2 klasik zaman medieval itu?

Ternyata ada faktor ekonomi yang membuat orang yahudi lebih cocok jadi tokoh jahat,

seperti yang kita udah tahu bahwa yahudi itu pinter juga berdagang seperti bangsa Arab dan juga pinter dalam urusan duit dan juga yahudi punya hukum syariah ekonomi yang hampir sama seperti hukum syariah Islam,

Dengan semua ilmu ekonomi itu maka yahudi menggunakannya untuk menguasai ekonomi Eropa di masa medieval, terutama pada masa Renaissance di Venesia itu banyak bank dan institusi riba yang didirikan oleh yahudi, apalagi orang Kristen tidak bebas mengelola duitnya sendiri (akibat kekuasaan gereja yang absolut) jadi orang Kristen banyak yang hidup dari uang pinjaman yahudi, seperti dalam kisah “Merchant of Venice” karya Shakespeare itu.

Yahudi ini memang licik, walaupun mereka tahu riba itu haram tapi mereka meribakan pinjaman kepada non yahudi, jadilah di masa itu gambaran umum atas orang yahudi adalah sosok licik, bengis, pelit dan tamak dalam urusan uang

Seperti dalam karya Shakespeare, dalam beberapa novel Dostoyevsky juga ada tokoh yahudi, dan sama seperti Shakespeare, Dostoyevsky menggambarkan yahudi sebagai tokoh jahat, licik, tamak, tua bangka dan buruk rupa

Dalam novel Crime and Punishment, tokoh jahat adalah wanita tua yahudi yang tamak yang membuat hidup tokoh utama Raskolnikov sengsara karena jeratan utang dengan bunga tinggi, wanita tua itu akhirnya dibunuh dengan kejam, tapi bukan sekali itu aja Dostoyevsky menampilkan sosok yahudi yang kejam dalam novelnya

Karya masterpiece Dostoyevsky yaitu Brothers Karamazov, lebih eksplisit lagi dalam menampilkan sosok yahudi, seakan-akan gak ada satupun yang baik dari yahudi, pokoknya kalau ada yang kejam dan jelek maka itu pasti yahudi

Tokoh utama dalam Brothers Karamazov adalah Alyosha yang berhati suci seperti malaikat, namun ketika sahabatnya curhat kalau dia sangat ingin menyiksa yahudi sampai mati……

Alyosha cuma berkata “aku tidak tahu”

Ini adalah Alyosha, sosok Kristen ortodoks paling ideal yang bisa menangis melihat anjing kelaparan di jalanan tapi dia oke aja waktu temannya bilang mau menyiksa yahudi?

Kalau kita membaca kisah itu dengan perspektif modern maka kita akan berpikir : kok kejam sekali orang Eropa zaman dulu sama yahudi, dosa apa yahudi itu sampai hidup pun mereka gak boleh?

Bangsa yahudi walau mereka minoritas di Eropa tapi mereka menguasai perputaran duit di Eropa maka mereka menguasai kehidupan di Eropa,

Apa yang sedang mereka lakukan saat ini di dunia finansial dan perbankan, sebenarnya sudah mereka lakukan sejak dulu kala, pemerintah di berbagai negara cuma boneka mereka, kalau mereka mau perang maka mereka tinggal suruh atau pencet tombol aja

Satu-satunya yang bisa menandingi mereka adalah kaum yang memiliki kapasitas intelektual yang sama, memiliki ilmu yang sama juga hukum syariah ekonomi yang lebih bagus

Terimakasih Dostoyevsky untuk tokoh-tokoh yahudi dalam novel-novel terbaikmu

(gambar Shylock dari Merchant of Venice)

Balas dendam, monolog dari Shylock, Merchant of Venice

“Aku adalah yahudi,
Tidakkah aku punya mata?
Tidakkah aku punya tangan, organ tubuh, indera perasa, kasih sayang dan gairah?

Makan dari makanan yang sama,
Terluka dengan senjata yang sama,
Sakit dengan penyakit yang sama,
Sembuh dengan obat yang sama,
Kedinginan dan kepanasan dengan cuaca yang sama,

Jika kamu lukai aku, apakah aku berdarah?
Jika kamu sentuh aku, apakah aku tertawa?
Jika kamu racun aku, apakah aku mati?
Jika kamu berlaku jahat kepadaku, apakah aku tidak membalasnya?

Jika aku menyerupai kamu, maka aku sama seperti kamu seluruhnya

Jika yahudi berlaku jahat kepada umat Kristen maka apakah hukumnya? Balas dendam

Jika umat Kristen berlaku jahat kepada yahudi, maka apakah hukumnya yang sesuai dengan ajaran Kristiani? Balas dendam

Kejahatan yang telah kalian ajarkan kepadaku, akan aku lakukan dan akan aku balas dengan kejahatan lebih kejam dan lebih baik”

Shylock, Merchant of Venice
By Shakespeare