Self Deprecating – seni merendahkan diri untuk meninggikan status dan kesalahan pemahaman status Nabi

Saya sejak dulu sering bilang ; selalu berhati-hati dengan orang yang merendahkan dirinya, sebab selalu ada dua kemungkinan : pertama, dia jujur dengan kondisinya, kedua, dia sedang menyembunyikan kelebihannya agar tampak bersahaja.

Dalam humor, dikenal seni merendahkan diri atau “Self Deprecating” yang sering ditemui di humor-humor versi stand up comedian, self-deprecating adalah suatu retorik yang sangat powerful hingga membuat humor selalu menjadi relevan untuk di masa apapun dan di status sosial manapun.

Ahli Filsafat Aristotle menggambarkan seni merendahkan diri pada tokoh “Eiron” yang selalu berhasil mengalahkan lawannya “Alazon” dengan merendahkan dirinya.

ini  sangat menarik karena seni retorik yang merendahkan diri bisa menjadi senjata ampuh untuk memenangkan perdebatan, karena Eiron sebenarnya lebih memiliki ilmu dibandingkan Alazon, namun karena Eiron selalu merendahkan dirinya sedangkan Alazon selalu melebihkan kemampuannya maka Eiron bisa dengan mudah mengalahkan Alazon.

dan pada masa ini kita sering melihat tokoh terkenal merendahkan dirinya dengan berkata bahwa dia adalah orang biasa juga, misalnya seorang selebriti menertawakan dirinya yang ternyata bisa seperti orang biasa yang mencari jodoh di media sosial, atau naik transportasi publik dan makan makanan junk food.

kita akan menjumpai hal itu sebagai hal yang menarik, kenapa ? karena tokoh terkenal itu saat menyatakan dirinya adalah orang biasa sebenarnya sedang membuat pernyataan retorik bahwa dirinya bukan orang biasa.

namun kita yang hidup dimasa ini sudah tidak memiliki keahlian dalam ilmu bahasa seperti orang yang hidup dimasa lalu, mereka tidak perlu mempelajari ilmu retorik untuk memahami bahwa tokoh terkenal tidaklah sama seperti orang biasa.

dan hal itu yang terjadi ketika kita membaca bagian pada Kitab yang menyebutkan bahwa Nabi adalah manusia biasa, dan kita mempercayainya bahwa Nabi adalah manusia biasa, padahal orang dimasa lalu (beriman atau tidak) saat mereka mendengarkan pesan itu maka mereka langsung paham bahwa Para Nabi bukan Manusia biasa

alasan sederhannya : Manusia biasa tidak akan pernah mengakui bahwa ia manusia biasa

namun apa yang terjadi akibat hilangnya ilmu retorik self deprecating itu ? saat ini hampir semua ilmuan (baik ulama muslim maupun orientalis barat) berusaha membuktikan bahwa Para Nabi adalah manusia biasa, hal yang tidak dilakukan oleh umat sebelumnya.

saya sudah menemui banyak hal tentang ceramah atau tulisan mengenai hal ini, dan saya baru bisa memahami saat ini kenapa kita tidak bisa memiliki keimanan seperti umat terdahulu adalah karena kita tidak bisa memahami bahwa Para Nabi yang manusia biasa itu adalah bukan manusia biasa dan pesan yang dibawa oleh mereka adalah pesan yang tidak boleh dianggap enteng.

ada banyak contoh-contoh usaha memanusiakan Para Nabi, salah satunya adalah mencari bukti bahwa fisik Nabi sama seperti manusia biasa, bahkan ada yang menyebutkan bahwa wajahnya tidak bersinar seperti lampu (astagfirullah) atau ada juga yang membandingkan kegantengan antara Nabi satu dengan Nabi lainnya.

ada banyak referensi dari kitab-kitab lama terutama dari Sahih Bukhari tentang ciri fisik Nabi Muhammad SAW dan disitu akan kita bisa lihat dengan jelas mengapa para sahabat seperti kesulitan mencoba menggambarkan ciri fisik Nabi, atau Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata bahwa Nabi Muhammad tidak sama dengan siapapun dan dia tidak pernah melihat orang serupa dengan Nabi setelah wafatnya.

juga dalam ilmu bahasa linguistik, ketika Nabi mengucapkan kalimat “Saya hanya manusia biasa yang membawa pesan dari Tuhan-mu” mengandung kalimat penegasan bahwa Para Nabi selain bukan manusia biasa namun juga figur pemimpin dan figur bapak bagi umatnya.

hal itu yang tercermin pada generasi-generasi awal Islam, terutama para sahabat yang hidup berdampingan dengan Rasulullah, mereka mencintai sepenuh hati, bahkan rela mengorbankan jiwa, keluarga dan harta untuk Rasulullah, dan ketika Rasulullah wafat mereka seakan-akan kehilangan cahaya hidupnya, gambaran kondisi kota Madinah seperti diliputi oleh kesedihan dan depresi mendalam, jika saja Abu Bakar As-Shiddiq tidak memberikan pidatonya yang terkenal itu mungkin mereka tidak akan pernah bangun dari kesedihan itu.

saya percaya bahwa saat ini kita sebagai umat muslim masih menyimpan rasa cinta itu, namun yang harus ditanyakan apakah rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad sama dengan yang dirasakan umat terdahulu ? bagaimana kita bisa mendalami agama ini jika perasaan kita tidak sama dengan umat terdahulu ? padahal kita selalu membanggakan kehebatan umat terdahulu dengan segala kehebatan mereka namun ternyata hal terpenting ini justru kita lewati saja.

sebagai penutup, ada perkataan seorang ulama tentang gambaran Nabi : “Nabi dan umatnya adalah bagaikan batu permata dan kerikil, memang keduanya sama-sama batu, namun apakah batu permata sama dengan kerikil ?”

untuk memulai perjalanan cinta kepada Allah, kita awali dengan mencintai Nabi-Nya, untuk mencintai Nabi-Nya, kita awali dengan memiliki keyakinan bahwa Nabi-Nya bukan manusia biasa.

(Bagian kedua dari Tiga kesalahan orang masa kini)

 

 

 

 

Advertisements

Konsep Ketuhanan – kesalahan pemahaman masa ini

Dari dulu saya selalu suka membaca buku-buku zaman dulu, sambil membayangkan hidup di masa itu, baik buku fiksi maupun non fiksi, dan saya temukan banyak perbedaan gaya hidup dan cara berpikir mereka yang hidup di masa itu dengan kita yang hidup di masa modern ini.

Makin lama saya melihat banyak hal yang timbul akibat ketidakmampuan kita memahami suatu konsep yang sebenarnya mudah di masa lalu, dan salah satunya adalah konsep Ketuhanan.

sebagai catatan ; saya sebelum menuliskan ini selalu mempertanyakan niat saya, karena jika saya menulis tentang suatu hal tanpa niat yang lurus maka sebenarnya saya sedang membodohi diri saya sendiri, jadi saya berusaha senantiasa menjaga kelurusan dalam niat saya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang membaca-baca referensi tentang Perang Saudara (Civil War) di Amerika, saya menemukan kumpulan surat-surat dari panglima konfederasi Robert E.Lee , dan pada surat yang ditujukan kepada istrinya, ia bercerita tentang kekalahan pasukan konfederasi dengan pasukan Union, hingga Robert E.Lee dan keluarganya harus meninggalkan rumah mansion yang diambil oleh pasukan Union.

E.Lee menuliskan bahwa ia sedang merenungi hikmah dibalik musibah itu, dan ia sadar bahwa hal ini terjadi akibat ia kurang bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang selama ini ia peroleh dari menempati mansion itu.

Bukan pasukan Union yang disalahkannya, atau pasukan konfederasi yang disalahkan akibat kalah dalam berperang, itulah cara pandang orang awam pada masa lalu.

Dan bagaimana pada masa kini ? pada waktu terjadi tornado di negri itu, ada seorang pendeta yang berkata bahwa tornado ini adalah kiriman Tuhan akibat rakyat Amerika tidak bersyukur, maka kita paham bahwa pendeta itu mendapatkan reaksi yang tidak pantas dari rakyat Amerika

Atau baru-baru ini terjadi penembakan di gereja di Texas, dan salah satu korban adalah seorang putri dari pendeta, dan apa yang dikatakan oleh pendeta yang masih berduka itu ?

“I don’t understand, but I know my God Does, and I leave to that”

lama saya merenungi ucapan pendeta itu, bahwa kita harusnya memiliki keyakinan seperti itu bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini adalah Hak Tuhan, dan kita hanya berusaha memahaminya bahwa Dia memiliki Hak penuh atas apapun pada kita.

namun apa yang menjadi reaksi atas perkataan pendeta itu ?

“God doesn’t hear you, He doesn’t care about you”

“God is not exist, you’re a weak minded fool”

People need to remove the word God, dumb advice” and so on and so forth….

inilah manusia zaman sekarang, mereka pikir mereka sudah pintar karena mengaku memiliki logic, padahal konsep Ketuhanan saja tidak sanggup mereka pahami, dan ketika musibah terjadi, alih-alih berusaha bersabar, mereka menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang ada dalam hidup.

Pernah pada suatu jamuan makan malam yang menyenangkan, kalau tidak salah ada tamu yang bernama Richard Dawkins, setelah jamuan selesai, seorang bertanya kepadanya :

kepada siapa kamu bersyukur atas makanan yang nikmat ini ?

itu hanya salah satu problem akibat kehilangan konsep Ketuhanan, kita anggap semua ini terjadi begitu saja, jagad raya dan isinya ada begitu saja tanpa tujuan, kita disini hanya untuk satu kehidupan ini saja……dan ketika suatu hal yang tidak terduga terjadi pada hidup, maka kita akan kehilangan kontrol diri dan mulai marah menyalahkan semuanya kecuali diri kita.

atau hal kecil saja terjadi, misalnya putus pacar, kemudian kita jadi stres dan depresi….kemudian menyalahkan Tuhan akibat musibah besar ini, kemudian memilih menjadi atheist.

memang ada beberapa kategori dari penganut konsep anti-Tuhan ini, ada yang mengikuti aliran Darwinisme yang bisa menjelaskan semua hal secara sains, ada juga yang lebih bodoh cuma karena Tuhan tidak bisa dibuktikan maka Tuhan tidak ada.

Memahami bahwa ilmu kita terbatas, dan ketidakmampuan kita untuk memahami Keberadaan Tuhan justru akan membuka pintu-pintu ilmu lainnya,

namun jika kita menutup pintu itu dan diam saja dalam kegelapan, maka apa yang bisa kita lakukan jika musibah terjadi ?

atau apa yang kita akan lakukan jika semua ini telah berakhir.

 

 

Berpikir dengan Hati

beberapa hari ini banyak yang membicarakan tentang kemajuan teknologi terutama yang berhubungan dengan artificial intelligence yang sudah sangat jelas bisa menggantikan fungsi manusia, jadi jika semua pekerjaan manusia bisa digantikan oleh mesin maka manusia tidak perlu bekerja lagi.

banyak ahli filsafat modern yang sudah meramalkan hal ini, itu sebabnya juga Richard Stallman sangat menentang pemakaian teknologi internet untuk pribadi karena hal tersebut merambah ke ranah infomasi pribadi yang akan terbuka ke publik, namun masalahnya adalah tidak semua kita bisa sepintar Richard Stallman untuk menjaga diri kita dari wabah ini.

ada hal lain yang lebih patut diwaspadai dari pada A.I. ini yaitu kondisi moral dan logika masyarakat, karena dengan semakin bergantungnya kita pada teknologi maka kapabilitas kita semakin berkurang, jadi intinya sekarang adalah bagaimana cara mengurangi dampak itu.

Lewis Mumford dalam “Megamachine” meramalkan hal ini dan menggarisbawahi bahwa ritual Sabath pada penganut agama Yahudi adalah salah satu cara untuk mencegah dampak Megamachine ini, setidaknya sampai Juru Selamat “Messiah” datang untuk menghancurkan Megamachine itu.

Namun saat ini tidak banyak yang paham apa esensi dari ritual Sabath, ritual hari Sabath itu adalah sebenarnya untuk mensucikan hati dari kekotoran duniawi, bukan sekedar mengistirahatkan diri setelah bekerja seminggu penuh.

Mensucikan hati atau Purification of The Heart (Tazkiatun Nafs) adalah ritual yang terlupakan dalam agama ini, apalagi setelah banyak aliran ahlussunah yang mengaku ahlussunah sejati namun menjalankan ritual Tazkiatun Nafs hanya sekedar untuk kegiatan agama saja, tanpa sampai menyentuh ke hati.

ini juga akibat dari ajaran yang menitikberatkan pada untuk mempelajari hukum fiqih saja, padahal kita tahu kekuatan agama itu berawal dari hati, dan dari hati yang bersih suci maka semua akan bisa berubah.

para Ahli Tasawuf dulu selalu berkata “berpikir dengan Hati”, Syaikh Hamza Yusuf juga berkata bahwa Hati yang menyuruh Otak berpikir, ahli neuroscience juga baru menemukan “Heart Intelligence” dimana bahwa hati yang mengontrol Otak, dan Heart Intelligence ini ternyata lebih besar dibandingkan dengan IQ ataupun EQ.

dapat dibayangkan jika kita hidup di zaman ini dimana perbuatan dosa sudah dipandang biasa saja, banyak yang mudah berbohong, banyak yang mudah berkhianat, banyak yang mudah mencuri, dan sebagainya, apakah semua perbuatan itu tidak berbekas pada hati, bagaimana hati bisa menyuruh otak agar bisa berpikir LOGIS jika hati saja tidak bersih lagi.

saya tahu bahwa ini adalah topik yang akan panjang jika terus dibahas, namun selama ratus abad kita salah hanya memandang pada otak saja, dan mengabaikan kekuatan dari Hati, jika saja Khalifah Al-Makmun mengetahui bahwa logika itu berasal dari Hati bukan otak, maka dia tidak akan membiarkan penganut aliran logika “Mu’tazillah” menguasai istana Baghdad dan justru akan berpihak pada Imam Ahmad bin Hanbal dan Baghdad akan menjadi lebih bersinar dalam sejarah umat manusia.

Hati adalah organ pertama yang berfungsi dalam tubuh manusia, ia memompa darah terus menerus tanpa kita suruh, ia merasakan manisnya cinta pada sesama manusia, ia yang menyuruh kita berbuat baik dan mencegah kita berbuat jahat, Hati diletakkan pada bagian tubuh yang paling terlindungi, Kita berpikir dengan Hati, kita mencintai dengan Hati…..

dan ketika Hati berhenti berdetak maka kita akan bangun dari mimpi ini dan menuju ke alam yang nyata.

what-is-heart-intelligence-4-intelligences

Hidup di Jakarta

Entah sudah berapa kali saya mencoba mencari bantuan teman-teman di bidang IT, terutama yang bisa menggunakan software desain grafis, dan saya tidak menemukannya di kota Jakarta ini, bahkan semua teman-teman yang saya kenal yang berprofesi di bidang ini berdomisili di Bandung, Jogya, Batam, Semarang, Malang, dsb.

Ada apa dengan Jakarta dan kenapa orang yang berprofesi di bidang IT menghindar dari Jakarta.

Pertama, pekerjaan desain dan IT memerlukan konsentrasi dan kreatifitas yang tinggi, dan kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya bisa mematikan denyut otak, belum lagi biaya hidup di kota ini yang cukup tinggi.

saya cukup beruntung tidak berprofesi di bidang itu dan saya hanya menekuninya hanya untuk sebagai hobi saja, dan saya sangat beruntung masih bisa mengatur waktu saya, karena saya tidak terlalu terikat dengan waktu yang spesifik di tempat saya bekerja.

tapi memang harus saya akui ritme di Jakarta ini sangat mengkhawatirkan, misalnya saya harus bangun dari jam 3 atau 4 pagi, menyiapkan semua keperluan untuk kerja dan masakan, kemudian siap berangkat tepat setelah sholat subuh.

ini yang membuat saya sangat sedih, sholat subuh yang harusnya jadi waktu untuk menambah momen spiritualitas, jadi harus dilakukan dengan terburu-buru, tapi dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain saya cukup beruntung tidak harus pergi dari rumah sebelum sholat subuh !

yang kedua adalah soal traffic atau macet, Jakarta sangat luarbiasa macetnya, tiap tahun semakin memburuk dan walau tempat kerja saya tidak ke arah sumber macet, namun semua jalan yang saya lalui kena arus contra-flow traffic yang sama parahnya juga, saya tidak heran jika tiap hari ada saja kejadian orang bertengkar di jalan hanya karena tersenggol, ya karena semua orang stress, panik dan tidak tertib.

total waktu saya dalam kendaran tiap hari adalah 5 jam, padahal saya hanya di sekitar selatan bagian dari Jakarta saja.

semua orang dari luar Jakarta pasti terkejut dengan kondisi ini, dan heran bagaimana penduduk Jakarta bisa bertahan dengan semua ini.

Ya pastinya ada yang harus dikorbankan agar bisa bertahan di kota ini dan yang pertama adalah : Kehidupan Sosial, sudah sekitar tiga tahun ini saya sangat jarang bersosialisasi, karena pergi ke satu tempat hang-out saja menghabiskan waktu sekitar 5 jam, dan itu sangat meletihkan buat saya, hingga saya hanya bisa bersosialisasi di akhir pekan, itu pun jika saya tidak ada acara keluarga, the down side is : I don’t have new friends….tapi karena kondisinya memang seperti ini maka terpaksa harus dijalani.

dan selanjutnya yang terpenting adalah menjaga kesopanan di jalan raya, saya tiap saat melihat kepongahan, kecerobohan dan kebodohan di jalan raya….ya kita sudah tahu itu semua, saya selalu berpikir bahwa jika saya terus mengeluh soal kondisi jalan maka saya tidak berlaku adil, yang saya lalukan adalah terus mencoba menjaga etika dan kesopanan di jalan seperti :

  • tidak membunyikan klakson dengan keras
  • memberikan jalan kepada motoris, sepeda dan pejalan kaki
  • mengemudi dengan kecepatan yang konstan
  • memberikan tanda jika ingin pindah jalur
  • parkir pada tempatnya

kedengarannya semua hal yang saya lakukan itu sangat klise di jalanan Jakarta yang barbaric ini, tapi saya tetap akan konsisten menjalankan etika itu, setidaknya menunjukkan saya memiliki kualitas akhlak yang baik.

dan anehnya jika kita mencoba memperlakukan orang sebagai manusia, kita akan menemukan bahwa orang akan memperlakukan kita juga dengan baik, saya pikir ini termasuk dalam “law of attraction” juga ya.

dengan tingkat kepadatan penduduk yang makin tinggi ini, maka penting untuk memiliki disiplin, adab dan akhlak di manapun, karena jika kita mess-up dan berlaku seenaknya maka akan mengkibatkan kota ini jadi makin tidak layak untuk hidup.

satu hal lagi yang membedakan orang Jakarta adalah kita sangat sulit menerima tamu di rumah, karena rumah sudah jadi ranah pribadi, kita hanya bertemu dengan keluarga di malam hari dan sangat sulit jika waktu yang sudah sangat sedikit itu digunakan untuk melayani tamu.

kedengarannya sangat sombong atau selfish oleh orang non-Jakarta, tapi kita masih berusaha menerima tamu yang dadakan, walau kita tidak bisa melayani dengan maksimal (ya subuh kita sudah hilang dari rumah sih)

maka saya tidak heran jika banyak orang non Jakarta yang paham hal ini dan memilih tinggal di hotel jika ke Jakarta, banyak budget hotel di kota ini dan kita bisa meluangkan waktu dengan tamu di akhir pekan.

intinya, tiap orang di Jakarta ini berusaha beradapatasi dengan perubahan yang cepat di Jakarta, apalagi yang telah memiliki keluarga akan makin kesulitan mempertahankan keharmonisan rumah tangganya,

tapi akan selalu ada jalan untuk tetap bahagia di kota ini, karena saya yakin kita diciptakan sebagai manusia yang diberikan kekuatan untuk beradapatasi setiap saat.

 

 

Microcosmic dan Macrocosmic – Tafsir surat Ath-Thariq

“Demi Langit, demi Ath-Thariq”

“Dan adakah pengetahuan engkau, apakah Ath-Thariq itu ?”

“Bintang yang menembus”

(Surat Ath-Tariq)

Pada pembukaan surat ini Allah mengambil dua hal dari alam yang dijadikan sumpah yaitu langit dan “Ath-Thariq”

Kata “Thariq” artinya adalah orang yang mengetuk rumah di waktu malam, karena di arab biasanya orang berjalan saat malam untuk menghindari cuaca panas, maka mereka sampai di rumah saat malam hari dan mengetuk rumah dengan keras agar penghuni rumah terbangun.

Tafsir klasik meyakini bahwa ini adalah makna “Thariq”, namun jika disambungkan ke ayat berikutnya “Bintang yang menembus” maka Thariq memiliki makna tersembunyi yaitu benda dilangit, karena dalam bahasa arab Thariq juga bisa diartikan sebagai “benda diseluruh langit”

Para Ulama di zaman pertengahan menafsirkan bahwa bintang yang menembus ini adalah bintang jatuh atau komet, namun ini juga tidak tepat karena Thariq artinya semua benda di langit, bukan cuma komet saja.

hingga ulama pada saat itu hanya bisa menyimpulkan bahwa Ath-Thariq adalah perumpamaan yang hanya Allah yang tahu arti sesungguhnya.

kemudian muncul teori yang menyebutkan bahwa sebenarnya langit di malam hari tidak gelap namun terang benderang karena cahaya dari semua benda di langit.

Lalu kenapa hanya sebagian dari cahaya itu yang sampai di bumi ?

Ternyata baru di abad ini ditemukan yang dinamakan sebagai “dark energy” atau “dark matter” yang menjadi isian atau filling langit, bisa kita bayangkan jika tidak ada “isian” itu maka kita tidak bisa tidur di malam hari karena silau cahaya bintang !

Dari pembukaan surat Ath-Thariq ini kita bisa mendapat hikmah bahwa masih banyak ilmu alam semesta ini yang kita tidak ketahui, itulah yang disebut “MACROCOSMIC”

Kemudian di surat itu menjelaskan tentang penciptaan manusia, di surat Ath-Thariq ini seakan-akan menunjukkan bahwa ada alam semesta di luar sana dan juga ada “alam semesta” di dalam diri kita. Itu yang disebut “MICROCOSMIC”

orang zaman dulu selalu percaya pada konsep Microcosmic dan Macrocosmic, bahkan filsafat yunani kuno juga mempercayai hal ini, begitu pula hal ini terdapat pada kitab-kitab lama.

Mereka percaya bahwa semua alam semesta ini dalam pengaturan yang sangat tepat, bukan sekedar random events, semuanya dalam harmoni yang serasi.

Berbeda dengan keyakinan modern ini, yang percaya bahwa kita hidup hanya sekedar hidup, karena tidak bisa melihat Tuhan maka tidak usah percaya, hidup sekedar buat makan, kerja, belanja, traveling, have fun, nonton netflix, non-stop spotify, online 24/7, no rules what so ever, yolo – you only live once, kemudian mati selesai perkara.

No,you’re not just a random event,

you are the Cosmo,

you are here for one purpose ;

in a journey to find God

“Tidak ada tiap-tiap diri, melainkan ada atasnya yang memelihara”

(Ath-Thariq ayat 4)

shutterstock_231163618-676x450

an open letter to Marvel

Dear Marvel,

I realize that it’s already too late to send this message, but I hope that I can get things straight.

Ardian Syaf was not a radical or extremist muslim, his subliminal messages in Marvel comic were not about hatred, to the contrary it was actually about love and peace.

The first person who reported the artist with false accusation, he said that the subliminal messages contain bigotry and hatred.

If you ask to yourself when see that subliminal messages ; does it really about anti-jews and hatred ?

Most of muslims in Jakarta don’t want to choose the non-muslim leader (Ahok) as governor, so Ahok tried to persuade the muslims by saying that we should choose him because the Holy Quran had lied to us.

His statement caused uproar in our society, and then millions of muslims gathered together in peace rallies, the first is called “411” (4th november 2017) and the second one is “212” (2nd december 2017)

and that was the number that Ardian Syaf put in the Marvel comic.

The peace rallies were the same like rallies in US, we have the same message : we want to have a trustworthy leader who has ethical virtues and respect for differences in society

And also I’d like to remind everyone that Islam has beautiful messages of peace and love, we want to live together with our fellows non-muslims in harmony, we want to be close with them, just like best friends, and we want to protect them if something bad happen to them,

Quran said that God had told us to dealing with non-muslims with kind and just, because God loves who act justly.

And our beloved Prophet said that the Christians are generous companions, so he wanted us to treat them with generosity

once our beloved Prophet stood up with respect when a funeral of a Jew went by, and how come they accused us never want to pray to the funeral of our brothers and sisters in faith ?

I noticed that Marvel always stands for diversity and included minorities in the characters, and I believe that we muslims always stand for diversity and against hatred towards minorities.

To conclude, I really don’t know Ardian Syaf, I never meet him in person, but what this accusation of Ardian Syaf has taken it toll on both sides, and I have to call a spade a spade that we are not the radical and extremist people…..

we are the humble people who love peace and we want to do just and act kindly to all of humanity.

 

 

212 subliminal message

I always love reddit, especially because in there almost no one talks about things that happen in my country, but couple days ago things turned out to be very different, it was because of that subliminal messages in one of marvel comics, the news became popular in reddit and imgur, since those subliminal messages that created by indonesian comic artist contain anti-Christian and anti-Semitic messages.

here’s the link to it : Marvel Comic 212 subliminal messages

and here’s the image from imgur : 212

Disclaimer :

I’m writing this article not to debate about the Quranic verses in the comics, I respect everyone’s view about those particular verses, I’m here merely just trying to give my opinion about that subliminal messages.

so the thing about subliminal messages is that they can’t get the point across, because subliminal messages are actually not the right way to express your point of view,

in my opinion, subliminal messages shouldn’t contain any sensitive messages towards particular group of people, subliminal messages should be fun and enjoyable, since it’s hidden and make us eager to find them in the comics or movies.

and now ; why everyone got angry about that subliminal messages ?

it was actually because of our own fault !

we thought just because we’re here in indonesia, the most populated muslim country in the whole world, then we don’t have to publicize the religious rallies to the world !

I was so confuse with friends who got angry when reading furious comments in reddit, why do you think that make them angry IF we never inform them about what had happened to us, about why some of us don’t want to choose that non-muslim leader and how the rallies ACTUALLY went non-violent, and off course we are not those radical muslims !

and the most important is : why we never reached out to other ulamas/syaikhs/clerics in US, UK, Europe and other minorities muslim countries so they could pass the news to those minorities muslims and be the PR agents for us against the mainstream medias that always portrait muslims as the evil ones.

if you’re always following the news, you knew that those minorities muslims have suffered enough, they’ve been bullied and harassed since 9/11, they have gone through a lot of pains and miseries, living in non-muslim countries, try to get by each and everyday, and now we give them another burden ? think about it !

we here in indonesia maybe won’t be effected by this incident, but they ? off course they will ! they are the minorities.

to conclude ; I knew there almost nothing more that we can do for this, Ardian Syaf had made things worse than before, I knew some of you can’t understand this but he really did make things worse.

and the irony is ; Ardian Syaf should know about the Fiqh (Islamic Laws) about drawing living things, most of muslims agree that it is forbidden to draw any living objects (such as human and animals), so it’s kinda ironic that Syaf did these act to support our religious movement while most of us won’t give support to him.

and here’s the comment from reddit :

“we should stop making him famous. This guys has completely turn into jihadist and part of radical Islamist group, we can’t deal with this kind of people they will keep in their believes/faith and defensive no matter what you say. There’s no apology will throw and they surround by their jihadist supporter. Making him famous only glorifies him. That’s usually how terrorist groups start and grow”

and we already did that ; making him famous and glorify him

Edit :

I wrote this post when I didn’t realise that Ardian Syaf was reported with false accusation, I already post an open letter to Marvel my next post.