Membaca buku seperti ketika buku itu ditulis

Bayangkan jika kita hidup di masa lampau ketika aktifitas hiburan yang dinamis seperti jalan-jalan sekitar rumah, berkuda atau berburu, kemudian malam hari disini dengan acara makan malam bersama, mendengarkan piano sambil bernyanyi dan lainnya,

maka apa di masa itu orang mengukur intelektual kita dari berapa banyak buku yang kita baca atau jenis buku apa yang kita baca?

Memang tingkat baca di negara ini rendah, tapi orang-orang yang masih rajin baca buku hampir semuanya memiliki mindset bahwa semakin banyak baca buku maka semakin pintar dan semakin luas wawasannya.

Faktanya teknik membaca cepat yang ditemukan tahun 60an sudah mengubah kebiasaan baca, dulunya orang tidak banyak membaca buku, bahkan sangat disarankan untuk membaca buku berkali-kali, seperti dalam buku “how to read book” karangan Mortimer, bahwa buku yang baik itu harusnya dibaca setidaknya tiga kali.

Teknik membaca cepat (skimming dan scanning) sebenarnya saat itu juga sudah banyak menuai kontroversi, ada penelitian yang dilakukan oleh Nasa membuktikan bahwa pelajar yang belajar dengan teknik baca cepat malah gagal dalam ujian, tapi tetap saja teknik itu terus diterapkan, hingga membentuk mindset bahwa semakin cepat baca buku maka semakin baik, dan semakin banyak baca buku maka semakin pintar.

sejak menyelesaikan novel masterpiece dari Dostoyevsky : Brothers Karamazov selama tiga tahun, saya tidak pernah mau lagi cepat membaca buku, bahkan saya yakin bahwa semakin lambat buku diselesaikan maka semakin banyak hal menarik yang bisa saya temukan dari buku itu.

Jadi sebaiknya tidak perlu lagi tanya berapa lama saya perlu waktu untuk menyelesaikan satu buku, atau berapa banyak buku yang saya baca dalam satu tahun,

Percayalah, saya ini orang yang paling malas membaca di dunia, bahkan saya juga masih menggunakan teknik baca cepat terutama untuk mensortir email sampah atau posting yang bodoh di media sosial.

banyak orang yang bisa cepat menyelesaikan novel berat seperti Tolstoy dan Dostoyevsky selama beberapa hari saja, tapi saya yakin mereka pasti tidak bisa menemukan apa isi novel itu, atau apa sebenarnya tujuan dari novel itu ditulis, mereka tidak bisa mendapatkan apapun dari karya sastra legendaris itu kecuali capek membaca, habis waktu dan merasakan sedikit kisah dramatisnya

Jadi bacalah buku sesuai dengan teknik membaca ketika buku itu ditulis,

Jika membaca buku klasik seperti Tolstoy, Dostoyevsky atau Jane Austen maka buku itu harus dibaca berulang-ulang, dan dinikmati setiap maknanya,

Dalam novel Sense and Sensibility, tokoh utama Marianne pernah berhenti membaca buku ketika kekasihnya pergi keluar kota, ia lakukan itu karena dia sudah terbiasa membaca buku itu bersama kekasihnya, dan Marianne baru akan melanjutkan membaca buku itu jika kekasih sudah datang.

buku diperlakukan seperti hiburan kita saat ini, misalnya kita sudah biasa menonton film bersama keluarga maka kita akan menunggu anggota keluarga lainnya jika ingin meneruskan episode selanjutnya.

Jangan pernah takut untuk memulai membaca secara lambat, tidak perlu memasang target berapa lama buku diselesaikan atau berapa banyak buku yang dibaca dalam sebulan,

sama seperti film atau lagu yang bagus, buku yang bagus memang harus dibaca berkali-kali

“tidak ada kenikmatan yang lebih nikmat kecuali baca buku, seseorang bisa bosan dengan segala hal kecuali membaca buku, kalau aku punya rumah maka aku akan menderita jika tidak punya koleksi buku yang terbaik”

(Jane Austen, Pride and Prejudice)

A woman to all is a woman to none – Anna Karenina book review

Jadi kemarin temanku ini cerita kalau dia selalu dijadikan tempat curhat sama teman-temannya, lalu aku bilang begini :

“sebenarnya orang tempat curhat itu punya masalah lebih besar dari orang yang curhat”

Itu benar banget, kata temanku itu.

Curhat hanya luapan emosi belaka akibat sifat egois dan ingin diperhatikan, sementara dia sendiri tidak butuh solusi untuk masalahnya.

Itu yang terjadi pada Anna Karenina, ketika dia sudah tinggal bersama kekasihnya Vronsky, hidup dalam kemewahan dan kebahagiaan, dia dengan teganya mengeluhkan “kesengsaraan dan penderitaan hidupnya” pada kakak iparnya, Dolly, yang hidup miskin dengan 6 anak kecil dan suami yang selingkuh dan jarang memberikannya uang untuk sekedar membeli makan.

Tanda lain dari hati yang gelisah adalah selalu berusaha mencari perhatian dari orang lain, entah itu dengan curhat atau berusaha memikat lawan jenis, tanpa peduli etika dan peraturan agama yang berlaku, dalam novel Tolstoy ini dengan jelas digambarkan bagaimana rusak dan buruknya hati Anna yang tega didepan Vronsky dia menggoda tamunya, dan dia lakukan itu juga kepada lelaki lainnya.

Kebalikan dari Anna adalah suaminya sendiri, Karerin yang justru menemukan “pencerahan jiwa” setelah perselingkuhan istrinya, ketika Anna mengakui perselingkuhannya, seketika itu juga Karerin memutuskan bahwa Anna tidak berhak menentukan kebahagiaannya, karena menurutnya Anna adalah wanita yang tidak relijius dan bodoh maka apapun perbuatan Anna tidak bisa menentukan kebahagiaan Karerin.

Bahkan Karerin bisa menerima bayi hasil perselingkuhan Anna dan Vronsky, dia mencintai bayi itu dengan tulus, walaupun Anna sebagai ibu kandung bayi itu sendiri tidak mampu mencintai bayinya itu

Jika Karerin bisa selamat berkat logikanya dari kerusakan hati Anna, tapi tidak dengan Vronsky

Setelah Anna bunuh diri dengan melempar dirinya ke kereta api, Vronsky tidak bisa sembuh mentalnya dan dia meninggalkan semua kehidupannya untuk maju ke medan perang.

Jadi intinya novel Tolstoy ini tentang kondisi hati masing-masing tokohnya, ada hati yang tenang karena sudah menemukan tujuan hidup seperti Levin, atau Karerin yang menemukan pencerahan, atau Dolly dan Kitty yang sebagai simbol hati wanita yang polos dan murni, Vronsky sebagai hati yang selalu gelisah mencari tujuan hidup dan Anna sebagai hati yang kotor, buruk dan tercemar oleh dosa-dosanya sendiri.

Beruntung saya sudah membaca “Crime and Punishment” Dostoyevsky yang menjelaskan kondisi hampir serupa dengan kondisi mental Anna ; bahwasanya hukuman dari Tuhan itu adalah perbuatan dosa itu sendiri, dan dengan menyangkal perbuatan dosa itu maka akan semakin menderita hidupnya.

Novel Rusia memang bukan seperti novel Barat yang WYSIWYG, banyak lapisan dalam tiap paragraf dan banyak rahasia yang disembunyikan dalam tiap kata.

Kondisi hati kita yang bisa membuat kita mampu menyingkapkan tabir itu, jika pembaca Barat tentunya akan merasa kasian pada Anna atau percaya bahwa Dostoyevsky itu atheist, tapi jika kita benar-benar membaca dengan kondisi hati yang tenang maka semua tabir itu akan terbuka dan setelah selesai membaca novel Tolstoy atau Dostoyevsky, kita bisa merasakan pencerahan jiwa yang bahkan bisa membuat air mata menitik.

Itulah sebabnya banyak kritikus Rusia yang kecewa dengan semua film adaptasi Barat dari novel Tolstoy : karena cara berpikir Barat yang kotor dan rendah itu tidak akan mampu bisa membuka tabir dalam novel ini

“a woman to all is a woman to none”

Anna Karenina adalah wanita untuk semua lelaki dan dia berakhir sebagai wanita tanpa lelaki,
berapa banyak wanita serupa seperti Anna kita temui sekarang ini? Berapa banyak wanita berhati busuk dan bahkan mengabaikan peraturan agama untuk kesenangan dirinya sendiri? Meninggalkan suami dan anaknya untuk kesenangan semu dan berakhir tidak bahagia.

Kebahagiaan itu tidak perlu dicari,

seperti Levin yang menemukan mukjizat dan keimanannya tanpa harus mengubah apapun, karena dalam kondisi apapun kita sudah bahagia

Act like a Lady, Think like Alexei Karerin

Sepanjang masa, tiap kali terjadi skandal antara seorang pria dan wanita, sudah pasti pihak wanita yang selalu disalahkan, sedangkan pihak pria bisa dengan leluasa lepas dari skandal itu,

Dalam novel “Anna Karenina” karangan Leo Tolstoy, Alexei Karerin, ketika pertama kali mengetahui skandal istrinya, Anna Karenina, yang pertama dia lakukan adalah memberikan peringatan kepada istrinya agar paham bahwa perselingkuhannya itu hanya akan merugikan Anna sendiri, bukan kekasihnya Vronsky,

Apakah Karerin cemburu kepada istrinya?
Pasti, sangat cemburu

Tapi sebagai seorang yang logis, Karerin menekan perasaan sendiri, dan berkat kemampuan logikanya, ia memandang perasaan cemburu itu sebagai hinaan bagi istrinya, namun sayangnya Anna tidak bisa memahami karakter suaminya itu, yang tampak oleh Anna adalah suami yang tidak berperasaan, kaku dengan tatapan mata yang dingin

Karerin sangat paham bagaimana reaksi masyarakat yang akan timbul atas skandal istrinya itu, dan sepanjang novel ini Karerin berusaha mencegah agar istrinya tidak hancur oleh perselingkuhan itu, semua tindak tanduk, perkataan dan tulisannya, sudah ia perhitungkan secara teliti dan seksama agar Anna bisa terlepas dari skandal itu, tapi sayangnya Anna adalah si “Clueless idiot” yang salah membaca niat baik suaminya dan justru malah memperburuk kondisi karena tidak melakukan apapun atas skandal itu

Sampai hari ini masih kita jumpai banyak skandal terjadi akibat pihak wanita tidak bisa berpikir dan tidak bisa memprediksi hal terburuk terjadi jika skandal terbuka ke publik, dan dengan membiarkan masalah ini justru akan menambah masalah lagi.

“Act like a Lady, Think like a Man”

Seandainya saja Anna bisa berpikir seperti Karerin….

Diet Keto, Joki balap kuda, dan Anna Karenina

Salah satu keasikan membaca novel asli (bukan nonton film adaptasinya) adalah mendapatkan banyak detail yang dihilangkan dalam filmnya

Misalnya Count Vronsky, kekasih Anna Karenina punya hobi jadi joki balap kuda, ia sangat menjaga berat badannya tidak lebih dari 160 pounds (sekitar 72kg) dan selalu diet protein tinggi rendah karbo (pantang makan makanan manis dan bertepung)

“on the day of the Krasnoye races, Vronsky came earlier than usual to the officer’s mess to eat his beefsteak, it’s not necessary for him to train strictly, as his weight was exactly the regulation 160 pounds, but he had to be careful not to put on weight and he therefore avoided sweets and starchy foods.”

Joki memang harus berbadan ringan, bahkan dulu joki memiliki diet yang terlalu ekstrim untuk tetap kurus, bahkan kadang harus tidur dalam ruang sauna sehari sebelum ikut balapan kuda, untungnya sekarang ilmu gizi sudah maju, jadi joki dipantau oleh ahli gizi agar tidak melakukan diet yang membahayakan kesehatannya.

Ini fakta yang cukup menarik karena di abad 19 sudah ada peraturan berat badan maksimal untuk joki, bisa jadi ada peraturan berat badan untuk prajurit berkuda sebelumnya.

Diet yang hampir sama seperti diet keto terbukti bisa menjaga berat badan joki, semakin ringan berat badan joki maka semakin cepat kuda bisa dipacu

Kalo gak kurus jangan coba jadi joki karena akan bikin si kuda jadi lelet ya

(foto dari film Anna Karenina tahun 2012)

Anna Karenina, dan tentang Tolstoy dan Dostoyevsky

Ketika Tolstoy menulis novel Anna Karenina, ia merasa tidak nyaman dengan topik utama tentang perzinaan, Tolstoy adalah seorang Kristen ortodoks yang relijius, ia juga orang yang sangat selektif memilih buku bacaan, jadi tentu dia tidak suka dengan karangan stensilan dan berbau skandal

Maka Tolstoy memasukkan karakter bernama Levin yang bersifat tertutup, pemalu, relijius dan konservatif, Levin sangat mencintai Kitty, gadis bangsawan berstatus sosial tinggi, sementara itu Levin hanya seorang petani biasa yang menggarap lahannya dengan cara tradisional, dengan kemunculan Levin ini menjadi kontradiktif dengan karakter Anna yang bersifat impulsif, emosional dan tidak logis.

Anna Karenina adalah novel yang legendaris dan mungkin paling banyak dijadikan film dan serial tv, mulai dari Greta Garbo, Vivien Leigh, Sophie Marceu dan Keira Knightley membintangi Anna Karenina, tidak heran jika novel ini mudah diadaptasi ke media film dan seri tv, siapa yang tidak suka dengan skandal perzinaan yang melibatkan dua tokoh bangsawan terkenal?

Saya pernah bilang kalau saya gak mau membandingkan Tolstoy dan Dostoyevsky, kedua sastrawan terkenal itu memiliki aliran yang berbeda, kalau novel Tolstoy lebih mudah diterima oleh pembaca non Rusia, tapi Dostoyevsky memerlukan banyak usaha untuk bisa memahami banyak simbol dalam novelnya,

Bagaimana pun Tolstoy dan Dostoyevsky hidup dalam satu masa, ketika Rusia sedang mengalami perubahan sosial akibat munculnya pemikiran baru dari barat yang bertentangan dengan kehidupan relijius Rusia, dalam Anna Karenina, tokoh Levin seperti cerminan dari Tolstoy sendiri ; ia terlalu konservatif dan menentang dengan tegas ketika seorang profesor mengemukakan pemikiran sekular, hingga profesor itu kesal karena pertanyaan Levin yang terlalu “bodoh” untuk ukuran orang modern yang sudah terpapar pemikiran Barat.

Skeptisim, materilistik, sekularisme, pemikiran anti Tuhan, perzinaan, kemerosotan moral dan hilangnya unsur agama adalah kondisi yang dihadapi oleh Tolstoy dan Dostoyevsky, jadi tidak heran kalau novel-novel mereka penuh dengan topik tentang perubahan dari tradisional ke modern.

Yang tentunya kedua sastrawan itu berusaha meyakinkan bahwa modernisasi itu belum tentu membawa kebaikan dalam hidup.

Anna Karenina bukan sekedar kisah percintaan picisan, ada benarnya juga kalau novel Dostoyevsky dan Tolstoy harusnya dibaca ketika kita sudah dewasa secara mental yaitu diusia diatas 40 tahun

(foto dari film Anna Karenina tahun 1948 dibintangi oleh Vivien Leigh)

“All glitters is not gold” – koin emas venesia

“all that Glitters is not Gold”
(Merchant of Venice)

Venesia abad 16, seorang pemuda miskin bernama Bassanio ingin melamar wanita tercantik di Venesia, Portia, maka ia mendatangi temannya Antonio untuk meminta uang agar ia bisa melamar Portia.

Antonio adalah pedagang kaya dan memiliki beberapa armada kapal dagang yang tersebar dari meksiko sampai east indies, namun saat itu Antonio sedang tidak memiliki uang maka ia pergi ke seorang yahudi bernama Shylock untuk membuat surat hutang (bonds) dengan jaminan hasil keuntungan dari perniagaannya

Shylock malah menawarkan pinjaman tanpa bunga namun Antonio harus membayar utangnya dengan potongan daging dari tubuhnya jika Antonio tidak bisa membayar utangnya itu, terkesan dengan penawaran itu dan Antonio yakin bisa membayar utangnya maka surat utang itu pun dibuat dengan harga 3000 koin emas dukat Venesia

Maka Bassanio melamar kekasihnya Portia, namun armada kapal Antonio hilang dilautan, maka Shylock meminta janji bayaran atas utangnya itu dengan potongan daging tubuhnya

untungnya Portia, istri Bassanio ini bukan cuma cantik tapi sangat pintar, seperti miss Universe yang punya Brain, Beauty and Behavior itu Portia menyusun rencana untuk menyelamatkan Antonio dan suaminya, juga menyadarkan Shylock agar bertaubat dari perbuatannya itu.

Merchant of Venice karangan Shakespeare ini adalah novel drama yang menggambarkan bagaimana situasi di abad 16, banyak yang menuduh novel ini sebagai karangan antisemitic, padahal memang seperti itu kondisi kaum yahudi, dimana mereka bisa bebas meminjamkan uang dengan bunga tinggi karena hukum agama Kristen (yang melarang meminjamkan uang dengan bunga) tidak berlaku untuk kaum yahudi,

Maka tidak heran kalau kaum yahudi dalam novel klasik selalu digambarkan sebagai tokoh yang licik dan tamak, seperti juga dalam novel Dostoyevsky ; Crime and Punishment

Tokoh Portia terinspirasi dari Ratu Elizabeth 1, sangat menarik bagaimana Shakespeare menyusupkan tokoh wanita yang diawali cerita seperti cuma tokoh pemanis saja, namun setelah cerita makin berkembang maka Portia semakin dominan perannya, juga karena dia memiliki wawasan luas tentang kondisi politik dan konflik agama di Venesia

Tentang emas dukat, itu adalah koin emas resmi di Eropa abad 16, satu koin dukat seberat 3,5 gram emas, dengan kadar emas sekitar 99,5% yang merupakan emas kualitas terbaik dimasa itu,

Setelah Belanda merdeka dari Spanyol dan menguasai perdagangan Eropa (berkat jajahan di east indies) koin emas dukat banyak dikuasai oleh negri kincir angin itu.

Maka jika Antonio menerbitkan surat utang senilai 3000 koin emas dukat, jika satu koin bernilai sekitar 200 US dollar maka surat utang Antonio bernilai sekitar 600.000 us dollar

Merchant of Venice, novel yang dramatis, sederhana, menarik dan menghibur dimana semua tokoh mendapatkan happy ending, tidak seperti kisah Romeo dan Julliet

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ducat

Lima tahun menuju setengah abad

Lima tahun menuju setengah abad,

Cuma google yang kasih ucapan selamat, karena notifikasi fesbuk sudah lama aku matikan, ternyata ada satu teman lama yang kasih ucapan selamat :

“turut berduka cita atas hilang nya usiamu”

So sweet ❤

Melihat teman2 seusiaku, banyak yang sudah berhasil, banyak juga yang gagal lagi, banyak yang sudah menikah dan punya anak, banyak juga yang sudah cerai dan menikah lagi dan punya anak lagi dan mau cerai lagi…..

Kemarin aku keceplosan : “gimana bisa pernikahan berjalan baik jika suami udah level profesor tapi istri masih level sma”

Si teman itu tertunduk malu, aku baru sadar kalau aku gak sengaja menyindirnya lagi tapi dia tetap mau berteman denganku yang bawel ini

Tapi itulah anehnya hidup, kamu pikir akan mudah jatuh cinta tapi kamu tidak pernah siap untuk patah hati oleh orang yang sama, kamu sebenarnya siap untuk hidup susah dan miskin tapi ternyata kamu justru tidak siap hidup sukses dan kaya,

Semakin lama kita hidup di dunia yang aneh ini semakin paham bahwa semua disini adalah tipuan belaka,

Kamu bisa hidup satu atap dan satu selimut dengan seseorang tapi kalian hidup bagai terpisahkan sejauh ribuan kilometer, juga kamu bisa terpisahkan dengan seseorang ribuan kilometer tapi hatimu dan hatinya bersatu,

Pada akhirnya kamu paham bahwa semuanya gak ada yang abadi kecuali Tuhan, bahkan kamu pun mempertanyakan eksistensimu dibandingkan eksistensi Tuhan ;

apa benar kamu ini nyata?

Kamu bisa tampil bagai ustad, atau Wali Tuhan yang memakai baju serba putih bersih suci tapi hanya kamu sendiri yang tahu bagaimana hubunganmu dengan Tuhanmu…..

apakah Dia mendengarkan doamu? Apakah Dia berbicara denganmu? Apakah Dia bersamamu ketika tidak ada satu manusia pun yang peduli dengamu? Apakah kamu tahu Dia mengabulkan semua doa-doamu? kamu tahu Dia adalah Tuhan yang tidak pernah ingkar janji.

Teman bisa datang dan pergi, keluarga bisa menyayangi dan membencimu. kekasihmu bisa mencintai dan membunuhmu

dan kepada Tuhan, kamu akan kembali

“Anything other than Allah is bathil (void)”

my Queen’s Gambit review

Ada dua pertanyaanku setelah nonton Queen’s Gambit, miniseries di Netflix :

Ini dari true story? Jawabannya : BUKAN
Queen’s Gambit dari novel karangan Walter Tevis yang berdasarkan dari pengalaman pribadinya sebagai pecandu alkohol dan drug addict.

Beth Harmon, gadis yang sejak kecil berbakat main catur, memiliki kemampuan memprediksi langkah2 catur lawannya, ia bisa memainkan catur didalam kepalanya, kemampuan visualisasinya menjadi tajam karena trauma masa kecil dan semakin jelas ketika Beth mulai meminum obat penenang

Nah maka pertanyaan kedua adalah : kenapa Queen’s Gambit tidak terlalu menjelaskan soal permainan catur?

Karena Walter Tevis memang menulis novel ini untuk menceritakan tentang perjuangan anak remaja yang “overcome her addiction”, Tevis sendiri memang pemain catur yang handal tapi dia memang tidak menfokuskan novel ini pada strategi percaturan, justru pada kehidupan pribadi Beth Harmon

Sebenarnya Tevis dikenal sebagai pemain bilyar, novelnya tentang pemain bilyar berjudul “The Hustler” diangkat jadi film yang dimainkan oleh Paul Newman, dimana Newman mendapatkan Oscar dari film itu, papaku masih ingat film terkenal era 60an itu

Satu hal yang aku sangat tidak suka : Beth Harmon tampil terlalu stylish

Begini, kalau kamu adalah perempuan bersaing di dunia laki-laki maka hal terakhir yang kamu pikirkan itu adalah pakaianmu

Awalnya memang Beth tampil sederhana, tapi ketika dia sudah mulai menang beberapa kontes catur, dia mulai berubah gaya pakaiannya jadi seperti supermodel era 60an

Ada adegan dimana Beth baru bangun tidur setelah semalaman begadang dan dia lari untuk mengejar kontes catur yang sudah hampir mulai, dia tampak langsung memakai pakaian trendi yang matching dengan sepatunya….. Terlalu trendi untuk seorang perempuan yang telat bangun pagi

Jelas miniseri ini jadi terkenal karena gaya pakaian Beth yang sangat fashionable, bahkan akibat miniseri ini tren baju gaya 60an muncul lagi

Harusnya Beth ditampilkan sederhana seperti difoto dibawah ini, ketika ia pertama kali mengikuti kontes catur, memakai dress yang simple dengan satu colortone dan rambut yang disisir rapi.

bukan diblowdry seperti habis baru keluar salon

Tapi begitulah tipikal miniseri Netflix ; ceritanya sebenarnya so-so aja, tapi dengan cinematografi kelas film bioskop, yang gaya pengambilan kameranya sangat baik, juga detail-detail kecil yang menarik seperti toko kelontong, hotel, kabin pesawat yang semua detail menampilkan era keemasan 60an

Tapi tetap ada beberapa hal yang aku suka dari miniseri ini ketika pemain catur muda dari Rusia bertanya kepada Beth tentang bioskop drive-in, atau tentang bagaimana para pemain Rusia itu saling kerjasama seperti teamwork, sedangkan pemain Amerika malah saling bersaing satu sama lain, tampak masih kental aura perang dingin antara Amerika dan Rusia

Juga tentang bagaimana Beth dan ibu angkatnya saling mendukung satu sama lain, mereka paham bahwa bakat caturnya  bisa mengubah hidup mereka dan juga sebagai pelarian dari masalah ibu angkatnya

All and all, Queen’s Gambit adalah tontonan yang cukup menarik, saya yakin sudah banyak yang nonton miniseri ini

Oh ya kalau mau nonton gratisan bisa di Telegram

Membaca buku dengan skill investigasi – mencari makna tersembunyi dalam karya sastra

“one must seek the truth within, not without” Hercule Poirot

Membaca secara intensif itu sama seperti melakukan investigasi pembunuhan seperti dalam novel Agatha Christie,

Bagi yang sudah terbiasa membaca novel2 detektif, pasti paham bahwa dalam suatu kasus pembunuhan itu petunjuk utama pembunuhan ditutupi oleh petunjuk palsu, seperti tumpukan berlian palsu yang tampak berkilauan namun menutupi berlian asli dibawahnya,

Maka tugas seorang investigator adalah untuk menemukan berlian asli itu.

Sejak sering membahas novel Dostoyevsky, saya masih aja menerima pesan menanyakan tentang beberapa pemikir sekular yang terinspirasi oleh Dostoyevsky,

Saya bukannya gak mau bahas tulisan mereka tapi jika kita berkutat di pemikiran itu maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan “berlian asli” yang disembunyikan Dostoyevsky dalam semua novelnya

Memang Dostoyevsky sangat banyak membahas tentang pemikiran sekular dan anti Tuhan, namun ia lakukan itu karena dia tahu betapa rusaknya pemikiran itu dan ia ingin menunjukkan hal itu sambil membangkitkan semangat nasionalisme Rusia untuk melawan alam pemikiran sekular.

Sama seperti G.K. Chesterton yang secara offensif menyerang pemikiran atheist, ia paham bahwa ia melakukan itu agar para sahabatnya yang penulis juga sadar dan kembali ke agamanya, dan dia berhasil mencapai tujuannya,

kebanyakan kita mungkin tidak pernah membaca tulisan Chesterton, tapi kita semua tahu salah satu sahabatnya yang berhasil meninggalkan pemikiran sekular yaitu C.S. Lewis penulis “Narnia” novel fiksi yang sarat dengan simbol2 relijius.

Buku yang baik memerlukan skill investigasi untuk menemukan berlian asli,

buku yang baik tidak akan langsung membukakan berlian asli, namun menyembunyikan dibalik tumpukan berlian palsu.

Membaca itu sama sekali bukan kegiatan yang pasif, membaca itu adalah kegiatan yang sangat aktif, karena memakai semua ilmu bahasa dan logika yang kita miliki

Ini bukan ulasan tentang buku, ini cuma posting tentang salah satu film Hercule Poirot yang terkenal : Pembunuhan ABC

Sambil menikmati akhir pekan, coba temukan pembunuh aslinya sebelum film itu selesai 

Selamat berakhir pekan 

ABC Murder : https://youtu.be/eopN0O7Fnqs

Bagaimana Membaca buku dengan baik, Mortimer Adler

Setelah membaca “How to read a book” oleh Mortimer Adler sekitar lima tahun yang lalu, saya tahu bahwa banyak hal yang saya lewati akibat tidak memiliki kemampuan membaca yang baik,

Menurut Adler, buku yang baik adalah buku yang pantas dibaca lebih dari 3 kali,

jadi tentunya mayoritas buku zaman sekarang tidak bisa dimasukkan dalam kategori buku yang pantas dibaca beberapa kali,

Mengapa banyak buku yang tidak patut dibaca berulang kali?

Karena kebanyakan buku saat ini hanya untuk dibaca dan dilupakan saja, hanya sekedar untuk hiburan menghabiskan waktu luang saja, sedangkan buku2 zaman dulu dibuat untuk direnungkan dan diambil hikmah yang tersembunyi didalamnya.

Misalnya ketika saya membaca Brothers Karamazov, dan saat saya sampai di bagian puisi “Grand Inquisitor” lalu saya berhenti karena saya tahu bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk memahami makna puisi itu,

Maka saya membaca dua novel Dostoyevsky lainnya, yaitu Crime and Punishment dan Notes from underground, barulah saya bisa paham struktur dari novel2 Dostoyevsky itu.

Mengapa saya merasa perlu berhenti membaca Brothers Karamazov?

Karena saya melihat banyak sekali orang yang jadi “tersesat” setelah membacanya, novel mahakarya Dostoyevsky ini paling sering disalahartikan, dan juga menjadi inspirasi oleh para pemikir anti Tuhan dan sekular dimasa modern ini, bahkan banyak yang menyebut bahwa Dostoyevsky itu adalah penganut aliran nihilisme

Nietzsche dan Camus sangat terinspirasi oleh Dostoyevsky, dan mereka adalah pemikir sekular.

Faktanya adalah hanya sedikit yang sadar bahwa karya Dostoyevsky ini memainkan trik yang canggih dalam pikiran kita, kalau kita tidak sadar maka kita akan yakin bahwa pemikiran anti Tuhan itu adalah kebenaran, namun jika kita memahami apa tujuan Dostoyevsky menuliskan novel ini dan apa sebenarnya makna didalam novel ini maka kita akan sadar bahwa sebenarnya ini adalah novel yang paling relijius dari Rusia yang pernah ada

Selama ini sumber saya berasal dari komunitas buku di internet, barusan ada yang menulis di forum Dostoyevsky, bahwa profesornya menyarankan membaca novel Dostoyevsky setelah berusia 40 tahun keatas, mungkin profesor itu paham bahwa diusia yang sudah matang baru kita bisa memiliki kemampuan untuk membaca dengan baik.

Kemampuan membaca yang baik dan skill menganalisa buku sudah menjadi tradisi dalam Islam, banyak buku2 karya ulama yang memiliki buku2 karangan ulama lainnya yang memberikan ulasan tentang makna dalam buku itu,

Juga banyak buku2 karya ulama terkenal yang harus dibaca dengan kemampuan tertentu, misalnya Tahafut Al Falasifah ditulis oleh imam Al Ghazali dengan asumsi bahwa pembacanya sudah menguasai ilmu filsafat atau setidaknya sudah paham kondisi saat buku itu ditulis, hingga kita mengerti untuk apa buku itu dibuat dan apa kegunaan buku itu.

Ayat pertama turun memerintahkan kita untuk membaca, “Iqra”  membaca dengan hati dan pikiran jernih maka kita mampu menyingkap banyak rahasia ilmu

Dan ini bukanlah tulisan review untuk Brothers Karamazov,

hanya untuk meluruskan pentingnya kemampuan membaca dengan baik, karena hampir semua masalah zaman modern ini terjadi akibat hilangnya kemampuan membaca

Kita tidak buta huruf tapi kita tidak bisa membaca

Dan ketika saya mampu membaca Brothers Karamazov, awalnya saya pikir saya adalah Alyosha yang alim, tapi kemudian saya khawatir kalau saya sebenarnya adalah Ivan yang sekular…..

namun akhirnya saya paham bahwa kita semua adalah Dmitri yang bodoh dan baperan